Iran dan Arab Saudi Menegang, Penyelesaian Krisis Suriah Terancam?

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir saat konferensi pers setelah pertemuan luar biasa dengan para menteri luar negeri Dewan Kerja Sama Negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), di Riyadh, 9 Januari 2016.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir saat konferensi pers setelah pertemuan luar biasa dengan para menteri luar negeri Dewan Kerja Sama Negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), di Riyadh, 9 Januari 2016.

Reuters
Ketegangan yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran sejak awal tahun sangat berbahaya bagi seluruh Timur Tengah. Konflik yang terjadi antara kedua negara bahkan bisa mengacaukan rencana yang telah disepakati Rusia, AS, dan negara-negara lain untuk menyelesaikan krisis Suriah. Namun, pakar Rusia menilai sepertinya konflik tak akan memanas dan kedua pihak dapat memoderasi posisi mereka.

Segera setelah putusnya hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi pada 3 Januari lalu, Moskow menyatakan kesiapannya untuk memediasi dan membantu memulihkan hubungan tersebut. Narasumber kantor berita TASS dari Kementerian Luar Negeri Rusia menyebutkan, “Kami selalu mendukung agar hubungan Riyadh dan Teheran makin erat dan akan sangat senang untuk membantu melakukan mediasi, jika kedua pihak membutuhkannya.”

Sejak itu, Presiden Putin telah mengonfirmasi kesiapan Rusia untuk membantu meredakan konflik dalam wawancara dengan media Jerman Das Bild.

Arab Saudi Menentang Mediasi

Tawaran Rusia, sayangnya, telah ditolak oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir, yang menegaskan bahwa negaranya tak membutuhkan mediator.

Grigory Kosach, seorang pakar di bidang studi Arab dan profesor di Universitas Negeri Humaniora Rusia, menyampaikan komentarnya mengenai situasi tersebut pada RBTH, “Kita tak bisa membicarakan rencana mediasi saat salah satu pihak dalam konflik tersebut terang-terangan menolak mediasi. Segera setelah Rusia mengajukan tawaran mediasi, hal itu langsung ditentang oleh Saudi.”

Pakar di bidang studi Timur Tengah lainnya, Vladimir Akhmedov, rekanan senior di Institut Studi Oriental di Moskow, sepakat bahwa Rusia tak mungkin melakukan mediasi. Ia pun yakin bahwa Moskow telah bersikap benar dengan menegaskan posisi netralnya. “Rusia mendapat titik kontak lain dengan AS: konflik membuat mereka berada di posisi sulit. Di satu sisi, penting bagi Washington untuk menjaga hubungan khusus dengan Riyadh dan negara-negara di kawasan tersebut, tapi di sisi lain mereka juga tertarik meningkatkan hubungan dengan Iran. Dengan demikian, posisi kami bertemu di sini,” kata Akhmedov pada RBTH.

Tak Ada Kesempatan Perang

Pakar Rusia yakin bahwa secara praktis tak ada peluang pecahnya konflik militer langsung antara kedua negara.

Seperti yang disampaikan Grigory Kosach, Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman, telah menyampaikan bahwa ‘perang antara Arab Saudi dan Iran akan menjadi bencana bagi wilayah tersebut.’

Vladimir Akhmedov mencatat bahkan ketegangan nonmiliter juga akan merugikan kedua belah pihak. “Di negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia terdapat minoritas Syiah yang dapat terancam, dan di Iran, sebaliknya, para minoritas Arab akan terancam.”

Menurut Profesor Kosach, kini ada kesempatan untuk menurunkan ketegangan antara kedua negara. “Media Saudi saat ini terus menulis bahwa Iran bergerak memoderasi posisinya, dan ada pembicaraan dalam komunitas Iran bahwa konflik dengan Saudi adalah sebuah kesalahan. Berita semacam itu secara tak langsung mengindikasikan Arab Saudi bersedia untuk memoderasi posisinya sendiri.”

Masalah Suriah

Pakar menilai konfrontasi antara kekuatan Islam akan memperumit persiapan dialog antara oposisi dan pemerintah Suriah yang akan digelar 25 Januari mendatang. Kedua negara merupakan anggota Kelompok Internasional Pendukung Suriah (International Syria Support Group/ISSG), yang juga mencakup Rusia, AS, dan beberapa negara lain serta organisasi internasional. “Arab Saudi tak mendukung kehadiran Iran dalam dialog tersebut,” kata Grigory Kosach pada RBTH, sambil menerangkan kekhawatirannya bahwa antagonisme antara kedua negara akan mengganggu kinerja ISSG.

Kesulitan mempersiapkan pertemuan tak hanya disebabkan oleh konflik antara Saudi dan Iran. Arab Saudi memaksa bahwa oposisi yang hadir dalam dialog diwakili oleh delegasi yang ditentukan dalam dialog di Riyadh pada 10 Desember lalu. Perwakilan Pemerintah Suriah, menurut Akhmedov, menolak bernegosiasi dengan delegasi tersebut, karena mereka termasuk para pemberontak yang mengerahkan senjata untuk melawan rezim Assad.

Akhmedov juga mengakui bahwa dialog tersebut terancam, namun masih ada harapan Rusia dan Barat dapat memberi tekanan yang diperlukan pada para pemain regional. “Dialog ini sesuai dengan kepentingan Rusia, AS, dan Eropa, dan di tiap kesempatan mereka bisa memengaruhi para peserta. Jika tidak, komunitas global akan terlihat sangat tak berdaya.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.