2015: Campur-aduk Program 'Berpaling ke Asia' bagi Rusia

Reuters
Dorongan strategis dan ekonomi Rusia terhadap Asia menciptakan hasil beragam pada 2015. Moskow berhasil memperkuat ikatan dengan negara ASEAN dan Tiongkok, sementara ikatan dengan Jepang dan Australia tetap membeku.

“Saat bicara tentang Asia, pertumbuhan ekonomi strategis terbesar datang dari ASEAN,” kata Agus Suharpanto, analis hubungan internasional dan mantan diplomat Indonesia yang berbasis di Jakarta. “Terdapat pakta perdagangan bebas yang ditandatangani oleh Uni Ekonomi Eurasia (UEE) dan Vietnam, dan kabarnya akan disusul oleh Thailand dan Singapura.”

Suharpanto menambahkan bahwa Rusia mungkin mengincar pakta perdagangan bebas yang lebih luas antara UEE dan ASEAN, tapi tak akan berbuah karena banyak negara ASEAN bergabung dengan Kemitraan Trans-Pasifik yang didalangi AS.

Rusia juga melakukan berbagai upaya untuk menjamah negara ASEAN secara politik. Pada November lalu, PM Rusia Dmitry Medvedev menjadi pemimpin senior pertama Rusia yang mengunjungi Kamboja setelah hampir 30 tahun. Kedua negara menandatangani sejumlah kesepakatan, termasuk nota kesepahaman untuk bekerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai. Pada April 2015, Medvedev mengunjungi Thailand dan Vietnam sebagai langkah untuk merangkul negara-negara Asia secara lebih luas.

Meski hubungan Rusia dengan Malaysia menegang akibat penolakan negara tersebut untuk mengizinkan Dewan Keamanan PBB menyelidiki penembakan pesawat Malaysia Airlines MH-17, Moskow dan Putrajaya menyusun Komisi Gabungan Kerja Sama Ekonomi, Ilmiah, Teknis, dan Budaya. “Hubungan Rusia-Malaysia akan terus berkembang meski berbeda pandangan terkait MH-17,” kata Suharpanto.

Kemitraan Asia yang Lebih Luas

Presiden Rusia Vladimir Putin mengimbau terbangunnya kemitraan ekonomi yang lebih luas antara UEE, ASEAN, dan Shanghai Cooperation Organization (SCO).

“Bersama, negara kita menguasai hampir sepertiga perekonomian dunia dalam konteks daya beli,” kata Putin dalam pidato tahunannya, 3 Desember lalu. “Kemitraan semacam itu dapat dimulai dengan fokus melindungi investasi, meluruskan prosedur bagi pergerakan barang lintas-perbatasan, pengembangan gabungan standar teknis bagi produk teknologi generasi terbaru, dan penyediaan akses untuk pasar baik secara layanan dan modal.”

Analis menyebutkan terdapat potensi bagi kemitraan semacam itu, tapi akan ada banyak kepentingan yang bersinggungan. “Gajah di ruangan ialah AS,” kata Doris Tung, analis politik yang berbasis di Hongkong. “Kemitraan apapun antara ketiga kelompok akan dilihat sebagai ancaman ekonomi bagi AS, begitu pula inisiatif Asia yang dimiliki AS.”

Tung menyebutkan banyak negara ASEAN, yang terlibat sengketa wilayah perairan dengan Tiongkok dan takut akan dominasi ekonomi Tiongkok, akan berhati-hati dengan kemitraan semacam itu.

Hubungan Sino-Rusia Akan Semakin Erat

Putin dan Xi Jinping bertemu empat kali pada 2015, tahun yang menjadi saksi keterlibatan politik dan pertahanan kedua negara.

“Tiongkok mengapresiasi fakta bahwa Rusia tetap netral di sengketa wilayah Laut Cina Selatan,” kata Tung. “Fokus hubungan Rusia-Tiongkok terdapat pada strategi bersama dalam forum multilateral seperti BRICS, APEC, dan G20.”

Moskow dan Beijing sama-sama terdorong untuk menciptakan tatanan ekonomi dunia alternatif. New Development Bank, yang dimulai oleh anggota BRICS, mulai beroperasi tahun ini, bersama dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang diinisiasi Tiongkok, di mana Rusia menjadi pemegang saham terbesar ketiga.

Rusia dan Tiongkok sepakat memperluas SCO untuk melibatkan India dan Pakistan sebagai anggota tetap, langkah yang harus dikompromikan kedua negara karena dekatnya hubungan Rusia dengan New Delhi dan Beijing dengan Islamabad.

Meski perdagangan bilateral antara Tiongkok dan Rusia turun sepertiga tahun ini, itu lebih merefleksikan melambatnya perekonomian kedua negara.

Kedua negara mempererat hubungan pertahanan pada 2015. Pada November, Tiongkok sepakat membeli 24 pesawat Sukhoi Su-35 dari Rusia seharga dua miliar dolar AS. Beijing menjadi pembeli asing pertama jet tempur multifungsi tersebut.

Hubungan dengan Tokyo dan Canberra Tetap Membeku

Hubungan Rusia dengan Jepang dan Australia, dua sekutu terbesar AS di Asia Pasifik, tetap panas. Kedua negara memperluas sanksi terhadap Rusia atas tuduhan mendukung pemberontak separatis di Ukraina timur.

Membuntuti langkah Washington, Canberra menyalahkan Moskow atas penembakan MH-17, meski pernyataan publik anti-Rusia telah berkurang sejak Malcolm Turnbull menjadi PM Australia.

Halangan paling besar antara Rusia dan Jepang masih sengketa wilayah Pulau Kuril Selatan, dan kedua negara secara teknis masih sama-sama belum setuju mengakhiri Perang Dunia II. Kunjungan Putin ke Jepang tahun ini ditunda karena ketiadaan progres penyelesaian sengketa wilayah.

“Masalahnya, Jepang dan Rusia memiliki interpretasi berbeda terkait sengketa,” kata Yu Tanaka, sejarawan yang berbasis di Sapporo, Jepang. “Tak ada pemerintah di Jepang yang mampu bertahan dari cercaan jika hanya menerima dua dari empat pulau yang diklaim oleh Tokyo.”

Tanaka menambahkan bahwa kedua negara tetap meningkatkan ikatan ekonomi meski sengketa masih terjadi. “Jepang juga melihat Rusia sebagai kunci untuk menyelesaikan masalah Korea Utara,” tambahnya. “Tiongkok dan Rusia adalah negara yang bisa membawa Korea Utara kembali ke meja negosiasi dan memulai negosiasi enam pihak.”

Korea Selatan, yang hubungan ekonominya juga meningkat dengan Rusia, juga meminta bantuan Moskow untuk membangkitkan pembicaraan mengenai nuklir. Presiden Korea Selatan Geun-hye bertemu Vladimir Putin di sela Konferensi Perubahan Iklim PBB di Paris.

“Saya meminta Rusia berperan aktif agar Korea Utara menghadapi realita dan memikirkan kembali masalah nuklirnya untuk meneruskan pembicaraan mengenai denuklirisasi Korea Utara,” kata Park pada Putin.

Analis melihat Rusia mendorong program 'Pivot to Asia' pada 2016. “Ini adalah kesadaran pemimpin Rusia bahwa pusat kekuatan ekonomi beralih ke Asia, dan proses untuk mendekat ke benua ini tak bisa berjalan mundur,” kata Suharpanto. Tanaka menambahkan bahwa insiatif seperti pelabuhan bebas Vladivostok dan 'Wilayah Percepatan Pembangunan' di Timur Jauh Rusia akan membantu Rusia mengintegrasikan perekonomiannya dengan kekuatan-kekuatan di Asia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.