Siapakah George Haswani, Orang yang Disebut Membeli Minyak ISIS untuk Rusia

Pengusaha asal Suriah George Haswani, yang dijatuhi sanksi oleh Uni Eropa, berbicara kepada Associated Press (AP) di kantornya di Damaskus, Suriah, 10 Maret 2015. Haswani membantah tuduhan bahwa ia membeli minyak dari ISIS untuk pemerintah Presiden Bashar Assad. Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Haswani dan enam pengusaha Suriah terkemuka lainnya. Aset-aset mereka dibekukan dan mereka dilarang bepergian ke Eropa.

Pengusaha asal Suriah George Haswani, yang dijatuhi sanksi oleh Uni Eropa, berbicara kepada Associated Press (AP) di kantornya di Damaskus, Suriah, 10 Maret 2015. Haswani membantah tuduhan bahwa ia membeli minyak dari ISIS untuk pemerintah Presiden Bashar Assad. Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Haswani dan enam pengusaha Suriah terkemuka lainnya. Aset-aset mereka dibekukan dan mereka dilarang bepergian ke Eropa.

AP
Rusia dan Turki saling tuduh mengenai perdagangan minyak dengan kelompok teroris ISIS. Media Rusia berhasil mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai identitas dan bisnis yang dilakukan George Haswani, seorang pria yang disebut-sebut Presiden Tayyip Erdoğan sebagai salah satu pembeli minyak kelompok teroris ISIS dari sisi Rusia.

George Haswani, seorang yang berkewarganegaraan Suriah dan Rusia, masuk ke dalam daftar sanksi yang dikeluarkan oleh Departeman Keuangan AS pada akhir November 2015 lalu. Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Keuangan Amerika Serikat (OFAC) menyebutnya sebagai mediator dalam perdagangan minyak antara pemerintahan Bashar al-Assad dan ISIS.

Sementara di Uni Eropa, Haswani bahkan masuk lebih awal ke dalam daftar sanksi, yaitu pada Maret 2015. Uni Eropa memutuskan bahwa sang pemilik perusahaan Hesco yang merupakan salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Suriah ini memiliki hubungan dekat dengan rezim Suriah. Selain itu, ia juga dikabarkan menerima dukungan serta keuntungan dari rezim Suriah atas perannya sebagai mediator dalam kesepakatan pembelian minyak ISIS oleh rezim Suriah.

Jejak Rusia

Berasal dari Suriah, Haswani mengenyam pendidikan di Universitas Politeknik Leningrad di Uni Soviet dan meraih gelar Ph.D. pada tahun 1979. Setelah lulus, ia memulai bisnis di kedua negara. Pada awal 1990-an, perusahaannya “Heswani Bersaudara” yang terdaftar di kota Yabroud, Suriah, tak jauh dari Damaskus, bekerja sama dengan tiga perusahaan bersama di Rusia, yaitu dua perusahaan yang bergerak di bidang konveksi dan satu perusahaan lainnya bergerak di bidang produksi sepeda.

Bisnis ini tidak mencapai omzet yang tinggi, sehingga saat ini perusahaannya tidak dapat bertahan. Uang kunci Haswani didapat dari proyek di Suriah. Kala itu  di Suriah, muncul sebuah perusahaan konstruksi Hesco Engineering & Construction yang mengklaim dirinya sebagai salah satu pemimpin dalam bidang jasa konstruksi dan teknik di pasar Suriah. Di antara klien Hesco adalah perusahaan gas dan minyak milik negara Suriah, Kementerian Energi, Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Pertahanan.

Selain itu, Hesco juga telah bekerja sama dengan perusahaan kontraktor Rusia ‘Stroytransgaz’ lebih dari 15 tahun. Pada tahun 2005, ‘Stroytransgaz’ dan perusahaan Syrian Gas Company menandatangani kontrak untuk pembangunan pabrik pengolahan gas dan pengembangan ladang minyak di wilayah Suriah Tengah.

‘Stroytransgaz’ dan Hesco bekerja sama tidak hanya di Suriah, tetapi juga di daerah Melut di Sudan, Aljazair, dan Uni Emirat Arab.

Bisnis di Wilayah ISIS

Ketika mendapat tuduhan bahwa Haswani bekerja sama dengan ISIS, ia pun segerа menyangkal hal tersebut, “Saya menegaskan bahwa Pemerintah Suriah tidak menerima satu barel minyak pun dari ISIS. Tidak dari saya maupun orang lain,” katanya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia TASS, Senin (6/12).

Sementara, alasan dijatuhkannya sanksi terhadap Haswani adalah karena partisipasi Hesco dalam pembangunan fasilitas gas di Suriah Tengah yang dikuasai oleh ISIS. Ini menyangkut pabrik pengolahan gas antara Tadmur dan Raqqa yang pembangunannya dimulai pada tahun 2007, demikian hal ini ditekankan dalam sebuah wawancara dengan TASS.

Seorang ahli dari Institut Independen Inggris Chatham House, David Butter, yakin bahwa Haswani membicarakan proyek gas North Middle Area yang meliputi pertambangan tempat deposit Fayyad dan Sadad.

Setelah pecahnya perang saudara di Suriah, lokasi beradanya proyek itu pada akhirnya jatuh ke tangan ISIS. Pada saat ini, proyek tersebut telah menghabiskan 700 juta dolar AS, sehingga Syrian Gas Company memutuskan untuk tidak berhenti bekerja, di samping itu, kehadiran Hesco sangat penting dan dibutuhkan di tempat itu,” kata Haswani.

ISIS terus menuntut untuk mengarahkan gas ke pembangkit listrik yang berada di bawah kendali mereka di Aleppo, dan sebagai hasilnya — melalui perantara pihak ketiga yang tidak disebutkan namanya — Damaskus dan ISIS telah menyetujui kesepakatan mengenai pembagian aliran gas. Demikian hal tersebut ditulis Haswani dalam suratnya kepada Duta Besar AS untuk PBB Mark Wallace yang menuntut agar Haswani dimasukkan ke dalam daftar sanksi. “Kami bukanlah bagian dari perjanjian tersebut, kami hanya melanjutkan pekerjaan kami pada fase kedua,” kata Haswani menjelaskan.

Dalam sebuah wawancara dengan TASS Haswani mengatakan bahwa ia sudah memulai proses hukum untuk melawan Uni Eropa. Menurutnya, regulator AS hanya mengikuti Uni Eropa dalam menjatuhkan sanksi kepada dirinya.

Berdasarkan informasi dari RBC, TASS, Vedomosti.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.