Ditembak Misil, Jurnalis Rusia Kembali dari Ambang Kematian di Suriah

Koresponden media televisi RT Arab Sargon Hadaya dibombardir di Suriah, pada Senin (23/11) saat dalam perjalanan menuju Desa al-Dagmashliya, sekitar 20 kilometer dari perbatasan Turki.

Koresponden media televisi RT Arab Sargon Hadaya dibombardir di Suriah, pada Senin (23/11) saat dalam perjalanan menuju Desa al-Dagmashliya, sekitar 20 kilometer dari perbatasan Turki.

RIA Novosti
Sehari sebelum pesawat tempur Turki F-16 menembak jatuh pesawat Rusia Su-24, pada Senin (23/11) tiga orang jurnalis Rusia terluka di Suriah. Mobil yang ditumpangi kru wartawan Rusia yang tengah menjalankan tugas ditembak misil. Salah seorang yang terluka, koresponden media televisi RT Arab Sargon Hadaya menyampaikan pada RBTH apa yang ia lihat selama tiga minggu melakukan liputan di Suriah.

RBTH (R): Apakah liputan di Suriah merupakan inisiatif Anda sendiri?

Sargon Hadaya  (S.H.): Saya pernah mendapat penugasan militer sebelumnya, di Ukraina. Dalam kasus ini, saya ingin datang ke Suriah langsung. Saya tertarik melihat situasi dari dalam, karena sebelumnya saya hanya mengikuti regulasi politik terkait konflik di Suriah. Saya mewawancarai Bashar Assad, melaporkan pembicaraan di Jenewa, Wina, dan Moskow.

Mengenai Tembakan Misil

R: Ceritakan tentang hari ketika kru Anda ditembak misil.

S.H.: Kami hendak melakukan liputan di pemukiman Degmashlie, yang telah dibebaskan oleh tentara Suriah. Terdapat tiga mobil. Misil pertama mengenai lereng, sehingga dua mobil di depan bisa melaju. Kami berada di mobil ketiga. Kemudian, misil kedua menghantam mobil kami.

Alexander Zhukov, cameraman militer, merekam situasi selama tiga jam berikutnya saat tentara Suriah mencoba memindahkan kami ke area yang aman. Saat kami dipindahkan melalui taman yang sudah hancur dan menghindari ranjau, kami kembali diserang oleh tiga atau empat misil.

R: Menurut Anda, apakah Anda dan kolega Anda ditembak secara sengaja?

S.H.: Sulit dikatakan. Tapi kami telah memenuhi semua peraturan internasional, mengenakan rompi bertuliskan 'wartawan' dan helm biru terang. Belakangan diketahui bahwa kami ditembak menggunakan misil BGM-71 TOW (misil jelajah antitank -red.), yang memiliki pembidik, artinya mereka melihat bahwa kami jurnalis.

Mungkin mereka menunggu pejabat dan sudah bersiap. Dan helm biru terang kami adalah sasaran empuk penembakan.

Area pelaku penembakan dan area penyerangan pesawat Rusia lebih kurang sama, yakni di Pegunungan Khuba. Itu adalah pemukiman militan dari Front Al-Nusra, dari Ahrar ash-Sham dan para Turkoman bersenjata.

Terkait Pilot Su-24

R: Bagaimana pertemuan Anda dengan pilot pesawat Su-24 yang ditembak jatuh?

S.H.: Ia tak mengalami luka berat, ia bisa berdiri. Ia sendiri yang benar-benar bicara dalam wawancara dengan media. Wajahnya tak ditampilkan untuk alasan keamanan, termasuk terkait keluarganya. Kementerian Pertahanan akan menjelaskan lebih lanjut.

 

Mengenai Situasi di Suriah

R: Bagaimana perubahan situasi di Suriah setelah intervensi Rusia?

S.H.: Kini situasi bisa dikatakan positif untuk tentara Suriah dan sekutunya. Ada kemajuan di berbagai area, termasuk area utara Latakia.

Gencatan senjata juga telah diputuskan dan tentu akan membantu proses politik. Namun saat ini prioritasnya adalah memerangi terorisme. Ketika beberapa langkah signifikan sudah diambil, baru kita bisa bicara tentang proses politik bedasarkan kesepakatan Jenewa dan Wina. Semua itu masih di masa mendatang, namun untuk saat ini semua sedang diputuskan.

R: Bagaimana pandangan masyarakat awam Suriah mengenai orang Rusia dan kehadiran Rusia?

S.H.: Di Latakia, Homs, Tartus, orang-orang merasa senang dan berterima kasih. Namun kita harus mengingat bahwa setelah lima tahun perang, kebahagiaan berkat kehadiran Rusia tetap menyisakan kesedihan. Pembunuhan di mana-mana. Rusia tak bisa mengembalikan nyawa anak-anak yang terbunuh dari kedua belah pihak.

Tak semua oposisi adalah teroris, demikian kerap disampaikan Kementerian Luar Negeri Rusia dan presiden Rusia. Selain itu, kehadiran Rusia mungkin mempercepat proses politik. Orang-orang akhirnya punya harapan. Apakah mereka senang? Sulit dikatakan. Lira, mata uang Suriah, kehilanga nilainya, dan biaya hidup semakin mahal, tak ada uang, pekerjaan minim, musim dingin makin dekat.

R:Mengapa Anda memutuskan kembali ke Moskow?

S.H.: Foto kami yang ditampilkan oleh media Rusia dipajang di salah satu situs 'oposisi moderat Suriah' dengan deskripsi: Jurnalis Rusia yang terluka saat agresi Rusia terhadap masyarakat Suriah. Diikuti dengan, 'Mereka belum mati. Kita harus habisi mereka'.

Wajah mudah dikenali. Ancaman terhadap jurnalis Rusia terus meningkat. Kami bertemu dan memutuskan lebih baik tak mengambil risiko kehilangan nyawa kami atau kolega kami, karena kami menarik perhatian bukan hanya diri kami sendiri, tapi seluruh kelompok.

Alasan kedua dari kepulangan saya adalah dokter kami di Suriah tak bisa mengangkat pecahan misil yang menembus ketiak saya. Saya harus dioperasi di rumah sakit militer Moskow.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.