Akankah Doktrin Senjata Hibrida Membuat NATO dan Rusia Semakin Menjauh?

Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kiri) dan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg (kanan) memuji pernyataan Menteri Luar Negeri Montenegro Igor Luksic setelah Montenegro disambut sebagai anggota baru di pertemuan tingkat menteri NATO di markas NATO di Brussels, 2 Desember, 2015.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kiri) dan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg (kanan) memuji pernyataan Menteri Luar Negeri Montenegro Igor Luksic setelah Montenegro disambut sebagai anggota baru di pertemuan tingkat menteri NATO di markas NATO di Brussels, 2 Desember, 2015.

Reuters
NATO telah mengadopsi doktrin baru yang bertujuan memberi respons segera atas segala upaya penggunaan senjata hibrida terhadap negara anggotanya, termasuk kemungkinan penggunaan ‘pria hijau kecil’ untuk mengubah kekuatan. Kemudian, bagaimana hubungannya dengan Rusia, yang jelas dipersepsikan Sekutu sebagai pihak yang berpotensi melakukan aksi semacam itu?

Para menteri luar negeri negara anggota NATO mengadopsi strategi senjata hibrida baru dalam pertemuannya di Brussels, menargetkan 'para pria hijau kecil' yang memamerkan aksinya dalam pengembalian Krimea pada Rusia, karena bangunan-bangunan kunci diambil alih oleh para lelaki berpakaian seragam hijau tanpa lencana. NATO menetapkan jika 'para pria hijau kecil' itu terlihat berkeliaran di negara anggotanya, mereka akan segera mengaktifkan Pasal Lima dan mengambil langkah militer.

Perang Hibrida

Perang hibrida digunakan untuk menyebut serangkaian serangan infromasi yang mungkin berlangsung selama lima sampai sepuluh tahun. Pada tahap ini, kekuatan oposisi dibentuk di negara yang diserang dengan memanfaatkan kalangan anak muda yang mendukung nilai-nilai Barat. Kemudian, tekanan eksternal diberikan melalui instrumen ekonomi. Itulah cara mempersiapkan "revolusi warna" dan pergantian rezim. Penggunaan metode militer diminimalisasi dan dilakukan dalam bentuk serangan jarak jauh tanpa melibatkan pasukan darat.

Majalah NATO Review mengutip Peter Pindjak dari Kementerian Luar Negeri Slowakia, “Berbeda dengan senjata konvensional, ‘pusat gravitasi’ senjata hibrida adalaj sebuah target masyarakat. Musuh mecoba memengaruhi pengambil kebijakan yang berpengaruh dan pengambil keputusan kunci dengan mengombinasikan operasi kinetis dengan upaya subversif. Musuh kerap melakukan langkah rahasia, untuk menghindari atribusi atau retribusi. Tanpa senapan asap yang kredibel, NATO sulit menyepakati intervensi.”

Akankah doktrin baru tersebut memfasilitasi aksi NATO jika ada yang melihat 'para lelaki hijau kecil' atau memersepsikan mereka? Apakah makna dari strategi ini? Apakah ini murni respons atas perubahan senjata, atau hanya di mulut semata? Leonid Ivashov, seorang purnawirawan jenderal bintang tiga dan Presiden Akademi Hubungan Geopolitik yang berbasis di Moskow, yang pernah menjadi perwakilan kunci Rusia untuk NATO, menyampaikan pada Troika Report bahwa kebijakan baru tersebut 'harus disikapi dengan serius'.

“Konsep ‘senjata hibrida’ merupakan salah satu elemen dalam kebijakan untuk menghadapi Rusia. Pada Februari lalu, Strategi Pertahanan Nasional yang diadopsi AS menyebutkan bahwa tak ada alternatif lain bagi Amerika dan tak ada tempat bagi dunia multipolar. Dalam dokumen tersebut, Rusia disebut belasan kali sebagai ancaman keamanan nasional. Hal yang sama juga digaungkan doktrin militer Inggris, dan kini NATO pada dasarnya mendukung premis yang sama.”

— Apakah konsep 'perang hibrida' benar-benar sesuatu yang baru?

“Inovasinya relatif, karena strategi AS yang sudah ada menetapkan berbagai macam tindakan yang mendahulukan aksi militer. Mereka ditujukan melemahkan pemerintahan tertentu dan menciptakan  ketidakstabilan. Ini termasuk aksi subversif yang menyerang sistem keuangan, mengganggu sistem administrasi, dan sebagainya.”

— Apa yang membuat Anda menyimpulkan akan ada kebangkitan Dewan NATO-Rusia?

“Ini muncul di tengah tekanan politik dan psikologis yang kuat terhadap Rusia, meski membuatnya merasa inferior, semacam ‘junior’ di antara para ‘senior’ NATO. Ini juga ditujukan pada masyarakat dalam negeri untuk menunjukkan bahwa NATO terbuka untuk dialog.”

Seberapa giat penerapan strategi terbaru NATO? Apa yang dapat memulihkan hubungan yang telah rusak antara sekutu militer dan politil Barat dan Rusia? Dmitry Polykanov dari Center for Policy Studies in Russia, sebuah lembaga analis independen yang berbasis di Moskow, menyampaikan komentarnya pada Troika Report:

“Doktrin ini semacam respons NATO atas tantangan baru dan tipe perang baru yang tak hanya terlihat dk timur tapi juga zona selatan sekutu. Rusia hanya salah satu target. NATO mencoba mengadaptasi ‘realitas baru’, yakni tak ada perang resmi dan tak ada pemahaman jelas mengenai siapa musuh yang dihadapi, serta keputusan harus diambil dengan lebih cepat, dan sebagainya.”

— ‘Senjata hibrida’ baru jelas tak dibatasi untuk Rusia, tapi Rusialah yang paling menggelisahkan NATO. Delegasi Ukaina menyatakan mereka berperan aktif dalam membentuk strategi baru tersebut.

“Rusia dianggap musuh utama NATO. Kehadiran doktrin ‘senjata hibrida’ disebabkan oleh perkembangan di Ukraina. NATO menghadapi jenis perang baru, termasuk propaganda, senjata siber, dan unit militer yang tak biasa, berperang di tiap sisi konflik. Rusia jelas salah satu alasan utama yang membuat NATO mengadopsi strategi itu, tapi bukan alasan satu-satunya.”

Tak bisa disangkal bahwa sinyal yang membingungkan datang dari markas NATO. Di satu sisi, sekutu menerima doktrin baru, yang ditujukan terutama bagi Rusia. Di sisi lain, mereka tak menghapus kemungkinan untuk melanjutkan pembicaraan dalam Dewan NATO-Rusia. Pesan yang bertolak belakang tersebut dapat diinterpretasikan sebagai adaptasi Perang Dingin pada realitas baru yang terjadi saat ini.

Asumsi tersebut disampaikan oleh Ivan Konovalov, direktur Center for Strategic Trend Studies di Moskow, yang menyebutkan bahwa ‘perang hibrida’ klise kini menjadi tren dan sering diterapkan tanpa memahami maknanya, seperti kasus republik Donetsk dan Lugansk di Ukraina timur.

Bicara pada Troika Report, Konovalov menyatakan bahwa tantangan yang ditampilkan kedua wilayah tersebut terhadap Kiev menyebabkan kekacauan saat ini. Di saat yang sama, ia tak melihat strategi baru NATO sebagai halangan untuk merangkul Rusia.

“Perang hibrida tak meminggirkan kemungkinan bekerja sama. Itu mungkin digunakan bagi musuh strategis yang memiliki nilai sebagai mitra pada hal-hal tertentu.”

Selain itu, ancaman geopolitik ISIS, yang menyerang target dari Mesir, Paris, hingga London, memperkuat dukungan terhadap operasi militer Rusia terhadap para teroris di Suriah.

Walikota London Boris Johnson, Tory MP, dam Pemimpin Partai Konservatif David Cameron mengajak Barat untuk bekerja sama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang pernah disebut sebagai ‘tirani manipulatif yang kejam’, demi membasmi ‘iblis mematikan’ ISIS dari wilayah yang dikuasainya di Suriah dan Irak.

Apakah doktrin senjata hibrida baru NATO akan menghalangi kerja sama dengan Rusia dalam perang melawan ISIS? Hal itu kelak akan terlihat.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.