Tak Ada ‘Perang’ dengan Barat, melainkan ‘Perdamaian Dingin’ dengan Turki

TASS
Kemunduran hubungan antara Moskow dan Ankara yang mendadak dan drastis menyusul penembakan jet Rusia oleh Angkatan Udara Turki pada 24 November lalu memunculkan pertanyaan mengenai masa depan potensi koalisi melawan ISIS, serta niat Turki di wilayah tersebut. Apa yang ada di balik serangan Turki dan apa yang menunggu Suriah?

Penembakan pesawat Rusia oleh pesawat tempur Turki F-16 pada 24 November lalu memicu percikan Perang Dingin karena serangan tersebut dilakukan oleh negara anggota NATO. Untungnya, potensi kemunduran hubungan Rusia dengan Barat, dan bentrokan antara aliansi yang dipimpin AS dan aliansi pimpinan Rusia untuk melawan ISIS di Suriah dan Irak tak terjadi, membuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Perdana Menteri Turki Davutoğlu tak mendapat dukungan yang diharapkan, bahkan dari komunitas Trans-Atlantik.

Pada dasarnya, Barat meminta kedua belah pihak menahan diri. Pernyataan NATO bermuatan solidaritas, tapi hanya berhenti di langkah konkret yang pendek. Kanselir Jerman Angela Merkel meminta Erdoğan menahan diri. Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond menyatakan tak ada yang tertarik dengan 'Perang Dingin mini'.

Presiden AS Barack Obama meminta kedua belah pihak menyelesaikan sengketa di antara mereka. Beberapa Republiken melangkah lebih jauh. Dana Rohrabacher, Ketua Majelis Hubungan Luar Negeri Divisi Eropa, Eurasia, dan Ancaman Gabungan, menyatakan, “Jika menjadi anggota NATO berarti melindungi Erdoğan dalam situasi ini, sebaiknya ia tak ada di dalam NATO, atau kami yang keluar.”

Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon menyatakan bahwa insiden tersebut dapat ditangani dengan cara yang beradab, seperti ketika pesawat Rusia melanggar ruang udara Israel minggu ini. “Pesawat Rusia tak bermaksud menyerang kami sehingga kami tak perlu secara otomatis — bahkan jika terdapat kesalahan — menembak mereka.”

Selain itu, monarki Teluk, yang mendukung pasukan anti-Assad di Suriah, juga gagal mengapresiasi langkah Turki.

Hal ini memunculkan pertanyaan: Apa yang ada di benak Presiden Erdoğan saat memerintahkan untuk menembak jatuh pesawat Rusia? Viktor Nadein-Rayevsky, Peneliti Senior di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional di Russian Academy of Sciences, menjelaskan hal tersebut pada Troika Report.

“Saya khawatir jika salah satu tujuannya adalah menghancurkan koalisi yang tengah terbentuk. Ia tahu bahwa Hollande berencana mengunjungi Moskow, sehingga waktu provokasi ditentukan oleh fakta tersebut.”

“Mengapa ia melakukannya? Bisnis putranya mengalami kemunduran akibat bombardir Rusia terhadap truk minyak ISIS yang bergerak menuju Turki. Itu adalah alasan utama.”

Tak ada opini yang seragam antara pengamat politik Rusia terkait apakah serangan Turki disiapkan oleh pemimpin politik dan militer di Ankara sendiri, atau apakah hal tersebut merupakan langkah terkoordinasi dengan restu aktor internasional.

Kemunculan 'teori konspirasi' yang hampir tak terhindarkan membuat Troika Report mendekati Andrei Kortunov, Direktur Jenderal Dewan Hubungan Internasional Rusia, untuk meminta komentar mendetail terkait peristiwa dramatis tersebut.

“Kita tak bisa bilang apakah ini rencana yang dirancang oleh NATO dan/atau Amerika Serikat. Saya sendiri meragukan hal itu. Kita tahu bahwa terdapat perbedaan antara Turki dan beberapa negara NATO terkait isu spesifik. Sekutu Barat beranggapan Turki tak berusaha keras mencegah infiltrasi teroris melalui perbatasannya. Tak hanya Putin, tapi juga beberapa politisi Barat menilai bahwa Turki terlibat dalam operasi penyelundupan minyak yang diterima dari ISIS. Pendek kata, gambaran tersebut lebih rumit dari yang dipersepsikan banyak pihak. Meski AS dan sekutunya tak senang dengan apa yang dilakuan Rusia di Suriah, mereka juga tak senang dengan apa yang dilakukan Turki.”

— Reaksi Barat yang tak beremosi, bahkan NATO, terkait aksi Turki yang menghambat untuk menciptakan koalisi bersama melawan ISIS, seperti yang diusulkan oleh Presiden Prancis François Hollande. Apakah ini benar?

“Saya tak melihat ada konsensus di pihak Barat terkait 'merangkul' Rusia. François Hollande lebih tertarik melakukan ini daripada Barack Obama. Namun, terdapat apresiasi yang lebih besar terhadap fakta bahwa tanpa Rusia, lebih sulit menyelesaikan masalah ISIS dan Suriah. Hal ini berakar dari konsultasi Wina. Ada harapan semoga negosiasi tersebut menciptakan hasil yang positif.”

— Terkait kerja sama internasional di Wina, muncul opini bahwa proses tersebut berlangsung karena pengakuan yang terlambat bahwa di Suriah, Rusia bukan bagian dari masalah melainkan bagian dari solusi. Bagaimana menurut Anda?

“Sikap mulai berubah. Dan ini tak hanya tentang Rusia tapi juga pemain non-Barat, termasuk Iran. Ini adalah perbaikan lambat yang menyakitkan, namun merefleksikan perubahan.”

— Apakah penyelesaian ini tak akan mengisolasi Turki dari dukungan diam-diamnya terhadap ISIS?

“Beberapa pakar menilai Ankara takut bahwa sekutu baru akan meminggirkan Turki dan memboikot pemimpin Turki. Apakah ketakutan tersebut beralasan atau tidak, saya tak tahu. Namun, saat ini Turki harus menyesuaikan kebijakannya. Jika tidak, ia akan menjadi bagian dari masalah dan bukan bagian dari solusi.”

Moskow sepertinya menemukan misi utamanya memerangi Islam radikal di Timur Tengah. Jika tidak, Vladimir Putin tak akan memeringatkan Presiden Prancis François Hollande bahwa terkait serangan serupa pada pasukan Rusia di Suriah, semua kerja sama dan koordinasi dengan kekuatan Barat akan dibatalkan dan koalisi yang dipimpin Rusia akan mengambil langkah yang dianggap benar.

Krisis antara Turki dan Rusia masih jauh dari penyelesaian, dan setidaknya untuk sekarang, upaya untuk menangani kekacauan belum ada dalam agenda. Moskow bersikeras dalam kebijakannya memerangi kelompok Islam radikal dan menyelesaikan perang sipil di Suriah. Hal ini dapat dilanggar kapan saja. Sementara itu, 'koalisi raksasa' yang diusulkan presiden Prancis masih tergeletak di meja.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.