Mengapa Rusia Menentang Bergabungnya Montenegro ke dalam NATO?

Para Menteri Luar Negeri NATO bertemu untuk menerima Montenegro secara formal di Markas Besar NATO, Brussels, Rabu (2/12). Negara-negara anggota NATO secara formal mengundang negara kecil Adriatik Montenegro untuk bergabung menjadi sekutu guna menghadapi Rusia.

Para Menteri Luar Negeri NATO bertemu untuk menerima Montenegro secara formal di Markas Besar NATO, Brussels, Rabu (2/12). Negara-negara anggota NATO secara formal mengundang negara kecil Adriatik Montenegro untuk bergabung menjadi sekutu guna menghadapi Rusia.

AP
Dewan NATO memutuskan untuk memulai negosiasi dengan Montenegro dan membahas penggabungan Montenegro ke dalam NATO. Para politisi dan pakar politik Rusia mengkritik pedas keputusan ini.

“Saya mengucapkan selamat kepada Montenegro. Ini merupakan awal dari sebuah perserikatan yang luar biasa,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pascapublikasi keputusan dimulainya negosiasi seputar bergabungnya Montenegro ke NATO di masa depan, pada awal Desember lalu. Dalam kesempatan tersebut, para menteri NATO juga mengungkapkan bahwa keanggotaan Montenegro dalam NATO akan meningkatkan keamanan di dalam kawasan dan aliansi secara keseluruhan.

Stoltenberg secara khusus menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak sengaja ditujukan untuk melawan Rusia, melainkan murni untuk Montenegro dan NATO.

Ditentang Rusia Sejak Lama

Posisi Rusia terkait perluasan NATO dengan bergabungnya Montenegro telah lama dibahas. Pada 2011 lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan pernah berbicara tentang masalah ini. Ia menyatakan bahwa keanggotaan Montenegro di NATO tidak akan meningkatkan keamanan baik di wilayah maupun bagi aliansi secara keseluruhan, dan pada 2014, ia kembali mengatakan bahwa kemungkinan bergabungnya Montenegro ke dalam NATO adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan provokatif.

Pada pertengahan November, Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) mengajukan banding ke parlemen Montenegro serta ke parlemen negara-negara anggota NATO dan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE). Dalam dokumen yang diajukan, Rusia mencatat modus keinginan rezim Milo Đukanović yang telah berkuasa di Montenegro selama 25 tahun untuk bergabung dengan NATO melawan kehendak mayoritas rakyat Montenegro itu sendiri.

Faktor Rusia

Selama dua tahun terakhir di Montenegro telah diadakan kampanye yang cukup agresif atas bergabungnya Montenegro ke dalam NATO. Dalam kampanye tersebut, kerap dicetuskan ide untuk melawan Rusia. Menurut jajak pendapat yang dirilis oleh Perdana Menteri Montenegro Milo Đukanović pada bulan Juni 2015, sebanyak 47 persen warga Montenegro mendukung bergabungnya Montenegro ke dalam NATO, dan 43 persen lainnya menolak. Sementara itu, sekitar 65 persen dari responden yakin bahwa Montenegro dalam waktu dekat akan menjadi anggota aliansi. Namun, penelitian alternatif menunjukkan indikator yang sangat berbeda. Warga yang mendukung bergabungnya Montenegro ke dalam NATO hanya sebesar 32 persen.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Kepala Komisi Duma Rusia Aleksey Pushkov dalam wawancara eksklusif dengan RBTH, “Đukanović tidak bisa memaksa warganya untuk mencintai NATO dan menyalahkan Rusia atas semua ini.”

Keraguan terhadap data yang dimiliki oleh Pemerintah Montenegro di dalam dan di luar negeri didukung oleh berbagai skandal korupsi yang terkenal dilakukan oleh Đukanović. Salah satu tuduhan terbarunya adalah mengenai perdagangan senjata dengan ISIS oleh rezim Đukanović yang dinyatakan senator Rusia Franz Klintsevich.

Kawan Lama

Terlepas dari kenyataan bahwa banyak negara-negara bekas Pakta Warsawa, dan bahkan tiga negara bekas Uni Soviet, bergabung ke dalam NATO, bergabungnya Montenegro kali ini memancing reaksi emosional pihak Rusia.

Pakta Warsawa

Pakta Warsawa adalah sebuah aliansi militer negara-negara Blok Timur di Eropa Timur, yang bertujuan mengorganisasikan diri terhadap kemungkinan ancaman dari aliansi NATO (yang dibentuk pada 1949). Pembentukan Pakta Warsawa dipicu oleh integrasi Jerman Barat ke dalam NATO melalui ratifikasi Persetujuan Paris. Pakta Warsawa dirancang oleh Nikita Khrushchev pada tahun 1955 dan ditanda tangani di Warsawa pada 14 Mei 1955. Pakta ini berakhir pada 31 Maret 1991, dan diakhiri secara resmi dalam sebuah pertemuan di Praha pada 1 Juli 1991.

Rusia dan Montenegro telah memiliki kerja sama yang erat selama 300 tahun lamanya. Rusia berkontribusi pada penciptaan dan pengembangan negara Montenegro pada abad XIX serta turut membantu Montenegro menjadi negara yang mandiri pada tahun 2006.

“Bisa dikatakan, Montenegro mengkhianati Rusia secara politis. Montenegro mendukung sanksi anti-Rusia oleh Uni Eropa  pada tahun 2014, dan kini Montenegro mengambil satu langkah lain yang berpotensi mengakhiri hubungan persahabatan dengan Rusia,” kata Direktur Kerja Sama Internasional Pusat Balkan Rusia Viktor Kolbanovskii kepada RBTH.

Respon Rusia

Wakil Ketua Duma Rusia Sergey Zheleznyak mengutarakan kepada RBTH bahwa kini Rusia dan Montenegro harus membatasi kontak di bidang ekonomi dan bidang lainnya.

Kepala Sektor Balkan Institut Studi Strategis Rusia (RISI) Nikita Bondarev percaya bahwa tindakan tersebut dapat menjadi kontraproduktif karena hal ini dapat menimbukan konsekuensi yang akan dirasakan oleh masyarakat umum. Menurutnya, Rusia harus terlebih dulu mencapai referendum nasional perihal bergabungnya Montenegro dengan NATO.

Ada pendapat yang berbeda terkait perkembangan lebih lanjut dari peristiwa ini. Seorang ahli dari Pusat Carnegie Moskow Maksim Samorukov percaya bahwa bagi Rusia, kawasan Balkan telah kehilangan daya tariknya karena tidak adanya relevansi proyek-proyek energi besar, seperti “South Stream”, sehingga, penggabungan Montenegro ke dalam NATO tidak lantas membuat Rusia mengambil tindakan yang serius terhadap negara-negara Balkan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.