Politik dan Keamanan: Pemerintah RI yang Putuskan Apa yang Harus Dilakukan

Fauzan Al-Rasyid
Akhir tahun 2015 diwarnai dengan dinamika politik global, khususnya terkait ancaman ISIS. Pada Selasa (1/12) lalu, RBTH Indonesia berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. Galuzin secara eksklusif. Kami bertanya kepada sang dubes, isu keamanan dan tantangan global apa saja yang akan dihadapi kedua negara di 2016, dan kerja sama apa yang harus disiapkan demi memperkuat keamanan nasional?

Serangkaian aksi teror tercatat mewarnai dunia sepanjang 2015. Dimulai dari tragedi teror di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis pada awal tahun ini, kemudian serangkaian perang di Timur Tengah, jatuhnya pesawat sipil Rusia di Mesir yang diklaim ISIS sebagai aksinya, hingga kembali teror ke Prancis pada November lalu, yaitu pengeboman yang juga diklaim sebagai aksi teror ISIS. Tahun depan, masyarakat dunia ingin melihat dunia yang lebih terkonsolidasi demi melawan ancaman terorisme global, demikian diungkapkan Dubes Rusia Mikhail Galuzin. RBTH Indonesia bertanya lebih lanjut kepada sang dubes mengenai isu politik dan keamanan dalam sebuah wawancara eksklusif.

RBTH (R): Apa rencana kerja sama Rusia-Indonesia lainnya di bidang militer? Apakah ada proyek menjanjikan lainnya seperti kontrak pembelian Su-35?

Mikhail Galuzin (M.G.): Kerja sama teknis-militer adalah bagian yang sangat penting dalam hubungan Rusia dan Indonesia. Saya membaca berbagai publikasi di media mengenai pernyataan beberapa pejabat Indonesia untuk membeli Su-35. Sebagai dubes Rusia, saya sangat mengapresiasi niatan ini. Saya anggap ini sebagai apresiasi terhadap kualitas tinggi senjata dan perlengkapan militer Rusia. Saya sangat bangga terhadap kepercayaan yang diberikan Indonesia kepada kami.

Karena itu, pihak Rusia siap untuk bekerja sama lebih lanjut di area yang sangat pennting ini. Saya harap di masa depan, selama parade militer perayaan hari ulang tahun TNI, kita akan melihat lebih banyak perlengkapan militer Rusia, seperti bisa kita lihat di tahun ini pada Oktober lalu saat peringatan 70 tahun berdirinya TNI, kita melihat jet-jet tempur Su-30 di langit Indonesia, kita melihat helikopter-helikopter buatan Rusia, kita melihat kendaraan tempur infanteri tank amfibi BMP-3F korps marinir Indonesia, dan saya harap kita akan melihat lebih banyak (alutsista Indonesia buatan Rusia) di masa depan.

 

R: Bagaimana prediksi Anda terhadap perkembangan politik dunia di 2016, dan apa pengaruhnya terhadap hubungan Rusia dan Indonesia?

M.G.: Saya pikir, komunitas dunia ingin melihat tahun depan sebagai tahun konsolidasi, tahun yang pada masa masyarakat internasional akan bersatu dalam menjawab tantangan dan ancaman global yang semakin tumbuh berbahaya, yaitu ancaman terorisme global. Jadi, kami ingin melihat konsolidasi lebih lanjut di antara komunitas internasional dalam menghadapi ancaman terorisme global.

Akhir-akhir ini, ada sinyal positif (terkait konsolidasi tersebut) karena mulai ada langkah-langkah konkret untuk mendirikan koalisi internasional demi melawan ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah dan Irak. Ini suatu hal yang sangat penting dalam hubungan internasional. Sayangnya, tren ini dirusak secara tidak bertanggung jawab oleh Turki dengan menembak jatuh salah satu pesawat pengebom Rusia yang sedang melaksanakan misi antiteroris di langit Suriah.

Sangat di sayangkan, ada negera-negara, seperti Turki, yang berusaha meyakinkan (dunia) melalui kata-kata bahwa mereka ingin melawan teroris, tapi kenyataannya mereka justru membantu terorisme. Tentunya dalam suasana seperti ini, kami akan tetap melanjutkan usaha kami untuk menuntaskan ancaman terorisme ini. Senin (30/12) lalu, Presiden Putin bertemu dengan Presiden Obama di Paris . Mereka berdiskusi tentang pendalaman kerja sama antiteror di Suriah. Pertemuan ini sangat penting, dan kami harap (kerja sama) ini akan berlanjut di tahun depan.

Selain itu, di tahun depan, masyarakat internasional akan menghadapi berbagai tantangan lainnya, seperti perubahan iklim, menjaga kestabilitasan dan keberlangsungan pertumbuhan positif ekonomi global, dan sejumlah masalah kesejahteraan sosial dan budaya lainnya. Hal-hal itu sangat kompleks di dunia, dan salah satu masalah bersama yang dihadapi juga terkait mitigasi bencana. Tahun ini, Indonesia menghadapi bahaya besar akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Jadi, komunitas internasional punya agenda pekerjaan yang sangat luas di tahun depan dan kita berharap bahwa Indonesia dan Rusia bisa bekerja sama dalam menghadapi berbagai isu tantangan ini.

R: Melihat kondisi dunia saat ini, seperti perang di Suriah, dan belum lama ini, tragedi Su-24 yang melibatkan Turki, sebagai seorang diplomat Rusia, peran seperti apa yang Anda harapkan dari Indonesia?

M.G.: Pertama, Pemerintah Indonesialah yang akan memutuskan apa yang harus dilakukan dan langkah apa yang perlu diambil. Namun, tentu saja, sebagai dubes Rusia di Indonesia, saya berharap bahwa Rusia dan Indonesia tetap bekerja sama dalam menghadapi ancaman terorisme global dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Kami telah bekerja sama dalam bidang ini sebelumnya dan saya harap kerja sama ini akan berlanjut atas dasar kepentingan bersama.

Kedua negara kita sama-sama menghadapi ancaman ISIS, karena itu sangat penting bagi kami untuk saling bertukar informasi dan pengalaman demi melawan kelompok teroris ini. Sangat penting bagi Rusia dan Indonesia untuk melatih personil milter kami. Tidak lupa, sangat penting bagi kami untuk mempromosikan diskusi antaragama dan antarbudaya demi mengeliminasi permusuhan antarumat dan antarkelompok etnis, dan sebagainya. Itulah kerja sama yang ingin kami lanjutkan dan kembangkan dengan Indonesia.

Tentunya, kami harap Pemerintah Indonesia akan merespons terhadap tantangan ancaman yang kita hadapi bersama ini. Sampai saat ini, saya melihat Pemerintah Indonesia sangat konsisten melawan ancaman teroris.

Terkait tragedi yang melibatkan pesawat Su-24 kami dengan AU Turki, kami harap pengertian dari sisi Pemerintah Indonesia, terhadap perasaan dan posisi kami atas apa yang terjadi di Turki, yang sayangnya terjadi di langit Suriah pada 24 November lalu, yaitu ketika Su-24 ditembak jatuh oleh AU Turki sekalipun mereka tahu bahwa pesawat pengebom kami tak memberikan ancaman apa pun ke Turki, sekalipun pesawat pengebom kami tak berada di ruang udara Turki dan tidak pernah berada di sana dan melanggar ruang udaranya, sekalipun pesawat pengebom kami sedang melaksanakan misi antiteroris — dengan membasmi target berupa objek-objek teroris, seperti markas kelompok teroris, gudang persenjataan, kamp-kamp teroris, dan bahkan kilang-kilang minyak ilegal yang berada di wilayah Suriah. Kini, kita tahu bahwa minyak-minyak ilegal ini dieksktrak oleh para teroris dalam jumlah besar dan dikirim ke Turki untuk perdagangan ilegal dan inilah yang sebetulnya menjadi sumber pendanaan utama teroris. Penembakan Su-24 oleh AU Turki ini kami anggap sebagai kejahatan yang sangat memalukan.

Baca topik wawancara selanjutnya bersama Dubes Galuzin: Putin dan Jokowi, Akankah Bertemu? >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.