Satu Pilihan Masyarakat Suriah: Bertempur atau Bertempur

Sekretaris Komite National Asosiasi Komunis Suriah Qadri Jamil menghadiri konferensi pers mengenai situasi di Suriah.

Sekretaris Komite National Asosiasi Komunis Suriah Qadri Jamil menghadiri konferensi pers mengenai situasi di Suriah.

Valery Sharifulin / TASS
Mantan Wakil PM Suriah Qadri Jamil, pemimpin oposisi moderat Suriah, yakin bahwa baik oposisi maupun pendukung Assad harus bersatu melawan ISIS sebelum melakukan reformasi konstitusional.

Sejak dimulainya Perang Sipil, Qadri Jamil, sebelumnya merupakan wakil perdana menteri Suriah, membela penyelesaian konflik dengan jalur politis dan pembentukan pemerintahan transisi dengan keikutsertaan perwakilan oposisi dan pendukung Presiden Bashar al-Assad.

Ia mengenal betul Partai Baath Suriah yang berkuasa dan para politisi serta tokoh masyarakat Rusia. Ia lulus dari Universitas Negeri Moskow Lomonosov, bicara bahasa Rusia dan memiliki pandangan politik sayap kiri. Ia saat ini merupakan Kepala Front Populer untuk Perubahan dan Pembebasan dan masih menginginkan dialog antara pemerintah dan oposisi.

Warga Suriah hanya punya satu pilihan: bertempur atau bertempur.

RBTH (R): Dengan oposisi Suriah yang mana Anda bisa menggelar dialog, karena banyak sekali organisasi dan pasukan yang memiliki formasi bersenjata? Bagaimana Anda tahu apakah mereka teroris atau bukan?

Qadri Jamil (Q.J.): Mereka yang pada prinsipnya sepakat akan penyelesaian damai dan gencatan senjata dapat dilihat sebagai oposisi moderat. Ini adalah kritera utama. Perlu diingat bahwa pada tahap tertentu perang ini, warga Suriah hanya punya satu pilihan: bertempur atau bertempur (ia meringis sedih).

 

Tadinya, tak ada solusi politik, orang-orang mencari kesempatan untuk menggabungkan kekuatan yang dapat membantu mereka menyelamatkan diri mereka sendiri dan keluarganya. Beberapa bergabung dengan ISIS, tapi kita mengerti bahwa dalam hatinya mereka menentang ISIS.

Dan kini kita harus menghancurkan mereka yang ada dalam ISIS (yang hampir mustahil), atau mencoba memecah ISIS. Ini sama seperti Tentara Pembebasan Suriah, yang Menlu Lavrov angap harus ikut berpartisipasi dalam proses politik. Ini adalah rute pelarian dari ideologi ISIS untuk banyak warga Suriah.

Dan jika Tentara Pembebasan Suriah (kelompok oposisi terbesar Suriah yang menentang pemerintahan Assad -red.) bergabung dengan koalisi melawan ISIS, kita bisa bicara dalam bahasa yang sama. Masalah Suriah saat ini sangat rumit dan harus diselesaikan secara komprehensif.

R: Tapi salah satu anggota Tentara Pembebasan Suriah, Khalid Al Hamad, pernah memakan hati seorang tentara rezim Suriah yang tertangkap di depan kamera televisi. Apa kita juga perlu mengundangnya untuk ikut dalam dialog politik?

Q.J.: Mereka yang memakan hati para tentara, tentu, tak bisa ikut dalam dialog dan tak ada yang perlu dibicarakan dengan mereka. Seperti saya bilang, Anda hanya bisa bernegosiasi dengan mereka yang sepakat bernegosiasi.

Tapi ada juga pihak yang bertempur melawan pemerintah untuk tujuan tertentu. Namun, semua kelompok seharusnya bergabung melawan musuh terburuk kemanusiaan: ISIS.

Alasan perang di Suriah adalah kemelaratan di kalangan masyarakat.

 

R: Anda mendukung operasi Rusia di Suriah. Tapi bagaimana dengan musuh politis Anda? Misalnya Presiden Koalisi Nasional Revolusi Surah dan Pasukan Oposisi Khaled Khoja, yang menyebut aksi Rusia di Suriah sebagai ‘penjajahan’?

Q.J.: Saat ini adalah periode transisi, yang artinya sementara. Saat saya berada dalam pemerintahan, saya menoleransi keberadaan Khoja selama satu setengah tahun. Dan kemudian kami akan ikut pemilihan dan melihat siapa yang menang.

Saya selalu bilang jika kita tak menghentikan proses negatif di Suriah, kita tak lagi punya hal untuk diperdebatkan, karena tak ada lagi Suriah. Tak ada lagi negara untuk kita. Kini terdapat dua masalah: terdapat bencana raksasa kemanusiaan dan ISIS.

Sungguh tak bermoral untuk berspekulasi siapa yang akan menjadi presiden dan perdana menteri, saat separuh warga Suriah menjadi pengungsi di negara lain.

Namun terkait operasi Rusia, ya, kami mendukungnya. Mereka tak bicara tentang ini karena beberapa alasan, tapi AU Rusia melakukan intervensi saat mereka hampir mendekati Damaskus, dan ketika kota tersebut hampir runtuh.

R: Menurut Anda, mengapa perang ini bisa terjadi?

Q.J.: Terdapat beberapa anggota pemerintahan yang menyukai teori konspirasi dan menyebut hal tersebut telah dimulai pada Maret 2011.

Saya tak menentang teori konspirasi, tapi mari bicara kebenaran yang sesungguhnya: tahap pertama dimulai pada 2005, saat Suriah mulai melakukan liberasi ekonomi, yang menciptakan kemiskinan dan peningkatan pengangguran.

Mereka adalah basis sosial Revolusi Islam. Para militan Islam dengan mudah memutar mereka ke arah tertentu dan menyediakan senjata serta uang. Kelanjutan proses ini terjadi pada 2008, saat rezim Suriah mulai mencoba “bergenit-ria” dengan Turki dan Qatar.

 

Di bawah tekanan dari negara-negara tersebut, kami mulai mengubah hukum dan sistem politik kami, jaringan mereka seperti Al-Jazeera, mulai ditayangkan di Suriah. Mereka sudah siap dengan landasan ideologis bagi konflik.

Kini, ISIS di Suriah dan Irak bisa dibandingkan dengan Nazisme di Jerman pada 1930-an. Slogan populis para pemimpin tersebut berhasil didukung oleh masyarakat miskin yang tak tahu akan masa depannya.

Ini bukan sekadar liberalisasi.

R: Anda kenal betul beberapa anggota partai yang berkuasa di Baath, Suriah. Apakah menurut Anda mereka memiliki masa depan politik untuk negara Anda?

Q.J.: Ya, sebagian besar warga Baathis tak menyukai pertempuran berdarah dan itu tidak dikaitkan dengan korupsi. Sebaliknya, perang berdampak terhadap mereka dengan saat negatif. Mereka dapat berpartisipasi membangun Suriah baru, dengan orang-orang oposisi yang jujur.

R: Dan bagaimana masa depan Assad?

Q.J.: Masa depannya akan ditentukan oleh dua faktor: pertama, Assad sendiri, dan kedua warga Suriah. Setelah penyelesaian konflik secara politis, kita perlu menggelar pemilu. Tak akan terjadi apa pun tanpa penyelesaian konflik secara politis.

 

R: Bagaimana menurut Anda pengalaman para Kurdi Suriah, yang berhasil membangun sistem pemerintahan sendiri di bagian utara Suriah? Mungkinkah dibutuhkan sistem federalisasi?

Q.J.: Apa yang terjadi di Suriah utara, di Al-Hasakah — lokasi pertama tempat pemerintahan sendiri pernah diterapkan — merupakan pengalaman yang sangat menarik, yang harus dipelajari secara hati-hati, dan mungkin dapat berguna untuk masa depan, pada masa reformasi konstitusional.

Namun, bukan hanya Kurdi yang membangun pemerintahan sendiri. Ada pula warga Asiria dan Arab. Mereka telah menemukan kesepahaman dan mengembangkan metode pemerintahan untuk wilayah tempat mereka tinggal. Metode tersebut sukses.

Dan hal itu terjadi karena Damaskus tidak memiliki kontrol atas bagian dari negara ini di tengah situasi kini. Jangan sebut itu federalisasi. Itu terjadi di negara tetangga kami, Irak, dan itu jelas dilakukan bukan karena manfaatnya.

Apa yang ada di Suriah utara saat ini, saya akan menyebutnya pemerintahan demokratis mandiri, karena kami menetapkan konstitusi baru berdasarkan Kesepakatan Wina.

R: Banyak yang beranggapan konflik di Suriah adalah perang agama. Apa Anda pikir ini benar?

Q.J.: Kontradiksi keagamaan, itu hanya bentuk. Faktanya, semuanya memiliki pejabat korup di semua kamp persaingan dan di semua kepercayaan. Inti dari proses yang berlangsung di Suriah merupakan masalah sosial.

Pertama kali dipublikasikan di Gazeta.ru 

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.