Dua Bulan Gempur ISIS di Suriah, Apa Hasil yang Dicapai Rusia?

AP
Dua bulan hampir berlalu sejak awal serangan udara Rusia di Suriah. Kini adalah waktu yang tepat untuk meninjau hasil awal operasi setelah dua kecelakaan yang terjadi selama dua bulan terakhir: serangan teroris di pesawat sipil А321 dan penembakan pesawat militer Su-24M. Selama dua bulan, kehadiran pasukan Rusia meningkat secara signifikan di Suriah. Menurut para ahli, Rusia mencapai keberhasilan taktis. Namun, saat ini kelompok AU Rusia di Suriah kekurangan sumber daya untuk dapat melawan teroris ISIS.

Terhitung sejak 30 September (tanggal dimulainya operasi militer) bandar udara Hmeimim dekat Latakia, Suriah, dipenuhi dengan kelompok penerbangan yang terdiri dari 50 unit pesawat, seperti pesawat serbu dan pesawat pengebom. Selain pesawat, ada pula helikopter tempur. Sebagai tambahan kekuatan aviasi, pada 7 Oktober datang empat unit kapal perang armada Kaspia yang menembakkan rudal jelajah 3M14 Kaliber-NK ke sebelas target di darat.

Menurut data Kementerian Pertahanan Rusia, wilayah cakupan penerbangan militer Rusia adalah Provinsi Aleppo, Idlib, Deir ez-Zor, Raqqa, Latakia, Tadmur, Damaskus, dan Hama. Di sanalah, menurut intelijen Rusia, lokasi sebagian besar komando dan pusat kontrol militan.

Menjelang akhir November, Rusia mengumumkan kerja sama langsung dengan Angkatan Laut Prancis dan bersiap mengambil bagian dalam operasi melawan ISIS. Secara khusus, Angkatan Laut Rusia menawarkan perlindungan terhadap kelompok kapal induk Prancis.

Menurut pernyataan resmi dari Kepala Administrasi Kepresidenan Sergey Ivanov, “tujuan operasi militer Rusia adalah mendukung Angkatan Bersenjata Suriah dalam perjuangan mereka melawan ISIS”.

Aleksander Ermakov, seorang ahli militer di Dewan Hubungan Internasional Rusia mengatakan bahwa berkat dukungan serangan udara dari Rusia, tentara Suriah kini mampu berperang melawan militan sehingga hasil operasi militer secara keseluruhan dapat dinilai secara positif. “Meskipun pengembangan penyerangan terbilang lebih lambat dari yang sebelumnya diinginkan, faktanya hasil penaklukan wilayah teroris cukup menggembirakan. Menurut perkiraan komando Rusia, hasil operasi darat militer Suriah pada umumnya cukup baik, meskipun ada sedikit kekecewaan terkait jalannya operasi tersebut.”

 

Pada pertengahan bulan November, Rusia meningkatkan jumlah misi penerbangan pesawat di Suriah sebesar dua kali lipat untuk melawan militan ISIS.

Selain itu, sistem pertahanan udara dan kompleks peperangan radioelektrik Rusia juga muncul di Suriah. Pada 17 November, kelompok aviasi militer Rusia di Suriah diperkuat dengan pesawat jarak jauh yang meliputi pesawat pengebom strategis (sekitar 20 pesawat).

Jika penggunaan pesawat strategis di Suriah tidak menimbulkan masalah bagi Barat, kehadiran pertahanan udara Rusia di wilayah operasi justru benar-benar membuat mereka khawatir, khususnya, dengan dugaan kemunculan sistem rudal antipesawat S-400 “Triumph” di wilayah negara tersebut.

“Markas Rusia di Suriah dilindungi dengan sistem rudal antipesawat jarak pendek ‘Pantsir C1’ dan sistem rudal antipesawat jarak menengah ‘BukM2’. Tidak ada ancaman bagi pesawat Sekutu negara-negara NATO selama mereka tidak mencoba untuk mengalahkan sistem rudal tersebut. Hal ini juga seharusnya menyadarkan teroris yang sebelumnya menggunakan pesawat sipil,” ujar kepala redaksi Vestnik PVO Said Aminov.

Menurut Kementerian Pertahanan, selama operasi militer di Suriah, AU Rusia telah melakukan lebih dari seribu penerbangan tempur. Pada 19 November, Kepala Direktorat Operasional Mabes Angkatan Bersenjata Rusia Kolonel Jenderal Andrey Kartapolov mengabarkan bahwa sesuai dengan instruksi dari Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Federasi Rusia, Angkatan Udara Rusia terus melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap formasi bersenjata organisasi teroris internasional di wilayah Republik Arab Suriah.

 

Menurut Deputi Direktur Akademi Masalah Geopolitik yang sekaligus merupakan mantan kepala salah satu Direktorat Mabes Rusia Konstantin Sivkov, “Tindakan pesawat tempur Rusia dinilai sangat efektif. Hanya saja, karena jumlahnya yang sedikit, mereka hanya mencapai kesuksesan taktis saja. Keadaan ini mengindikasikan kurangnya kekuatan. Serangan rudal jelajah dan pesawat jarak jauh baru-baru ini dimaksudkan untuk memperbaiki situasi tersebut. Namun, untuk mengalahkan ISIS setidaknya dibutuhkan 150 hingga 200 pesawat tempur Rusia. Selain itu, dibutuhkan pula angkatan udara dan darat Iran yang berjumlah 100 ribu hingga 120 ribu orang. Serangan ini harus dijatuhkan tidak hanya di Suriah, tetapi juga di Irak untuk mencegah penciptaan wilayah perlindungan para teroris. Tanpa hal tersebut, kemenangan mustahil dicapai. Sementara, kerugian ISIS terlalu kecil untuk menyebabkan serangan mematikan,” ujar Sivkov menyimpulkan.

Ilmuwan ahli Arab Dmitry Evstafiev percaya bahwa kampanye militer Rusia pada tahap ini tidak memiliki potensi dukungan pasukan bersenjata, tetapi, dalam pandangannya, tujuan operasi militer adalah memberikan Assad kesempatan untuk memasok senjata dan amunisi, serta melakukan reformasi pasukan (Suriah Express), dan normalisasi pasokan persenjataan.

Dari sudut pandang ahli, dalam hal ini, operasi Rusia dinilai sudah cukup sukses, dan pada kenyataannya Rusia menyelaraskan hubungan logistik di daerah perbatasan. Masalahnya sekarang adalah bahwa kini operasi tersebut harus dijalankan lebih aktif — setidaknya — dalam waktu yang singkat, tetapi keputusan ini bersifat politik?

Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan keterlibatan Rusia dalam aksi militer di Timur Tengah dengan prospek yang tidak pasti meskipun Rusia tak berencana untuk melakukan operasi darat di Suriah. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov pada Selasa (17/11) minggu lalu, “Dalam hal ini, Rusia hanya menjalankan operasi udara saja, tanpa melibatkan angkatan darat.” Operasi militer di Suriah menuntut sumber daya militer yang besar dari Rusia, tetapi untuk dapat menghancurkan teroris ISIS saat ini masih belum berhasil.

Upd: Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu menyatakan pada hari ini, Rabu (25/11), bahwa sistem pertahanan rudal antipesawat S-400 "Triumph" akan dikirim ke Pangkalan Udara Hmeimim di Suriah.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.