Putin Tak Hadiri APEC, Bagaimana Kelanjutan Rencana ‘Pivot to Asia’ Rusia?

Ria Novosti/Dmitry Astakhov
Pengamat media dengan cepat menanggapi keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim PM Rusia Dmitry Medvedev minggu ini ke pertemuan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Manila. Apa signifikansi ketidakhadiran Putin? Dan apakah ini menandakan Rusia mengubah prioritasnya terkait Asia?

Pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang digelar minggu lalu di Manila menimbulkan perdebatan apakah negara-negara non-Barat dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan tengah melewati zona turbulensi, masih menjadi lokomotif pertumbuhan global, dan apakah konsep abad ke-21 sebagai zaman 'kebangkitan Asia' masih relevan. Hal itu juga memicu spekulasi mengenai kebijakan Rusia untuk melakukan 'pivot to Asia' yang naik-turun.

Pertemuan APEC dihadiri oleh para pemimpin dunia, termasuk Presiden AS Barack Obama, Presiden Tiongkok Xi Jinping, PM Jepang Shinzo Abe, serta lebih dari selusin pemimpin nasional lainnya. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan untuk melewatkan pertemuan tersebut, membuat para pengamat mengangkat alis apakah alasan ketidakhadirannya lebih dari sekadar jadwal yang padat.

Meski serangan teroris di Paris membuat terorisme berbasis agama berada di lini depan, isu ekonomi mendominasi agenda utama - dan untuk alasan yang baik: APEC menguasai hampir 50 persen perdagangan dunia dan lebih dari 50 persen PDB dunia. Menjadi bagian dari kelompok ini bukan sekadar untuk harga diri, namun berlandaskan rasionalisasi ekonomi.

Tak seperti negara-negara APEC lainnya, Rusia hanya punya sedikit hal untuk dibanggakan terkait performa ekonomi makronya. Inflasi di Rusia pada awal November mencapai sembilan persen, berbanding 1,8 persen inflasi rata-rata negara-negara APEC. Impor pada periode Januari hingga Oktober anjlok sebesar 37,9 persen, sementara ekspor rata-rata negara APEC tumbuh sebesar 2,4 persen.

Namun, Moskow menyatakan bahwa fokusnya untuk berintegrasi dengan APEC berjalan mulus, mengutip contoh seperti pengeluaran izin Vladivostok, pintu gerbang maritim Timur Jauh Rusia, menjadi pelabuhan terbuka serta 'Wilayah Pengembangan Terdepan'; ikut ambil bagian dalam mengelola Bank Pengembangan BRICS dan Bank Investasi Infrastruktur Asia; mengaitkannya dengan konsep Jalur Sutra baru dan proses integrasi yang dipimpin Rusia dalam Uni Ekonomi Eurasia (UEE), serta menetapkan kesepakatan zona perdagangan bebas antara UEE dan Vietnam yang juga akan diterapkan terhadap Singapura.

Sementara, pakar di Moskow tak banyak berkomentar terkait keberhasilan 'pivot to Asia' - apakah sukses atau menjadi sebuah bencana. Pertemuan APEC menyegarkan perdebatan.

Troika Report meminta pendapat kritikus ternama Kremlin Georgy Kunadze, yang merupakan mantan Wamenlu Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Yeltsin, dan bertanggung jawab untuk kebijakan terhadap Asia.

“Pada awal proses APEC, Uni Soviet — yang hampir bubar — mencari peran pasti yang dapat dimainkan dalam integrasi regional proyek terbaru. Kini, dua setengah dekade kemudian, terbukti bahwa pencarian Rusia identitasnya di Pasifik merupakan sebuah kegagalan. Akuilah, selain gas alam, minyak, serta kayu, Rusia tak punya apa-apa untuk ditawarkan bagi negara-negara Pasifik dalam konteks pengembangan. Dengan munculnya Kemitraan Trans-Pasifik, Rusia tersingkir dari wilayah tersebut.”

— Beberapa pihak menilai bahwa keputusan Putin untuk tidak menghadiri pertemuan APEC merupakan penghinaan, sementara beberapa lainnya menilai hal yang lebih penting adalah substansi interaksi multilateral dan bukan protokol diplomatik, dan PM Rusia Dmitry Medvedev bukan pesuruh. Bagaimana pendapat Anda?

“Setelah dipinggirkan oleh Eropa akibat 'petualangan'-nya di Ukraina, Rusia mengumumkan strategi 'berpaling ke Timur', hendak membangun aliansi strategis dengan Tiongkok. Sejauh ini, langkah tersebut juga belum berhasil. Namun, Rusia, meski tak punya banyak sekutu dan teman, harus sangat hati-hati agar tak mengaliensi Tiongkok. Dengan demikian, Rusia dapat berkontribusi jika sesuatu terjadi pada perekonomian dan keamanan regional.”

“Dalam situasi semacam ini, menurut saya, Presiden Putin telah membuat keputusan tepat dengan tak menghadiri pertemuan APEC agar tak diturunkan statusnya menjadi kelas dua. PM Medvedev sudah cukup.”

Apakah benar-benar penting siapa yang mewakili Rusia dalam pertemuan APEC? Gleb Ivashentsov, mantan duta besar Rusia yang kini merupakan anggota Dewan Hubungan Internasional Rusia, mendiskusikan isu tersebut dengan Troika Report.

“Banyak acara berskala global yang berlangsung dan sulit bagi pemimpin dunia untuk menghadiri semuanya. Dua hari sebelum pertemuan APEC, konferensi G20 digelar. Sehubungan dengan serangan teroris di Paris, sejumlah langkah harus dilakukan untuk melindungi warga Rusia dari ancaman serupa. Selain itu, Medvedev juga mengunjungi negara-negara tetangga Filipina yakni Kamboja dan Malaysia. Namun, pertemuan APEC, berbeda dengan konferensi G20, fokus pada ekonomi, bukan ekonomi plus politik. Di Rusia, biasanya perdana menteri yang menangani masalah ekonomi.”

“Ketidakhadiran Putin di pertemuan APEC tak bisa disebut sebagai penghinaan terhadap tuan rumah. Presiden AS melewatkan pertemuan APEC di Vladivostok. Sejumlah pemimpin dunia juga melewatkan pertemuan di Jakarta dan Beijing.”

— Para kritikus berdebat terkait apakah pertemuan ini tak lebih dari 'kesempatan berfoto bersama' dan tak punya substansi. Bagaimana Anda menilai APEC dan apa komentar Anda terkait pertemuan di Manila?

“Kami melihat sumber daya mineral Rusia dan sumber dana Tiongkok. Jika kita mempertimbangkan kehadiran Bank Investasi Infrastruktur Asia dan Bank Perkembangan BRICS, terdapat sumber pendanaan seperti proyek utama Jalur Rel Trans-Siberia, Jalur Rel Baikal-Amur, serta Rute Laut Utara. Secara keseluruhan, itu membuka kesempatan kerja sama di Asia Pasifik dan membangun koneksi langsung dengan Eropa”.

Dua diplomat Rusia memiliki pandangan yang benar-benar bertolak belakang terkait pencapaian program 'pivot to Asia' yang dijalankan Rusia dan hubungan Moskow-Beijing, serta motif Putin untuk tak menghadiri pertemuan APEC.

Pada dasarnya, perbedaan pandangan merupakan hasil dari pencarian 'identitas Eurasia' Rusia yang belum selesai dan perdebatan antara dua metode pengambilan kebijakan yang berbeda.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.