Mengapa Rusia Mengebom ISIS dengan Aviasi Jarak Jauh?

Misil kendali jelajah Kh-555 diluncurkan dari pesawat pengebom strategis supersonik Tupolev Tu-160 AU Rusia untuk menyerang fasilitas infrastruktur ISIS di Suriah.

Misil kendali jelajah Kh-555 diluncurkan dari pesawat pengebom strategis supersonik Tupolev Tu-160 AU Rusia untuk menyerang fasilitas infrastruktur ISIS di Suriah.

Kementerian Pertahanan Federasi Rusia
Rusia menggunakan pesawat pengebom strategis untuk memerangi ISIS pertama kalinya pada Selasa (17/11), di kota Raqqa, Suriah. Para pakar menilai bahwa penggunaan aviasi jarak jauh tersebut akan meningkatkan intensitas serangan udara di Suriah, karena sumber daya lain yang dapat diakses telah habis.

Dalam serangan udara yang berlangsung selama lima jam 20 menit, pesawat Tu-22M3 terbang sejauh 4.510 kilometer, sedangkan pengangkut misil Tu-160 dan Tu-95MS berada di udara masing-masing selama delapan jam 20 menit dan sembilan jam 30 menit. Panjang rute yang mereka jelajahi ialah 6.566 kilometer. Pesawat tersebut meluncurkan 34 misil kendali jelajah, demikian disampaikan layanan pers Kementerian Pertahanan Rusia.

Misil Terbaru Melawan Teroris

Untuk pertama kalinya di pertempuran sungguhan, pengangkut misil strategis tersebut menggunakan misil kendali jelajah strategis X-1010 terbaru, yang jangkauannya mencapai 5.500 kilometer.

Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Tactical Missile Weaponry Corporation (yang termasuk asosiasi produksi ilmiah Raduga, pengembang X-101) memproduksi 'sekitar sepuluh produk baru', termasuk misil jarak jauh, demikian disampaikan oleh direktur perusahaan Boris Obnosov pada 2014 lalu. Menurut Obnosov, perusahaan tersebut tak ketinggalan dari AS dalam pengembangan senjata taktis akurat jarak jauh, bahkan lebih unggul di beberapa bidang.

Dalam konteks ini, pengeboman posisi teroris dapat menjadi 'uji coba' tipe baru senjata ini, yang sudah dilakukan dengan meluncurkan misil bersayap Calibr dari Laut Kaspia.

Langkah yang Tepat

Pakar menilai bahwa penggunaan aviasi jarak jauh untuk melawan ISIS dapat dianggap sebagai 'aksi balas dendam' atas aksi teroris yang mengakibatkan jatuhnya pesawat komersil Rusia Kogalymavia Aibus-321 pada akhir Oktober lalu, dan menewaskan 224 orang.

“Penggunaan aviasi jarak jauh merupakan hal yang normal dan satu-satunya cara untuk meningkatkan intensitas serangan udara dengan cepat di Suriah. Markas dan kelompok di Latakia kini beroperasi dengan kapasitas terbatas. Dari sudut pandang militer, Suriah tak punya objek yang membutuhkan dua lusin pesawat pengebom strategis,” kata pakar independen yang merupakan penulis August Tanks, Anton Lavrov.

 

#СИРИЯ Нанесение высокоточного удара новейшей крылатой ракетой с борта сверхзвукового ракетоносца Ту-160 по объектам ИГИЛ#SYRIA Pinpoint strike with the newest cruise missile launched from Tu-160 aircraft

Posted by Ministry of Defence of the Russian Federation on 18 ноября 2015 г.

Sumber: saluran Youtube Kementerian Pertahanan Rusia.

Satu-satunya kapal induk Rusia, Admiral Kuznetsov, mungkin bisa menjadi cadangan bagi AU Rusia di Suriah. Kapal ini, yang mengangkut 12 pesawat penghancur MiG-29K yang memiliki misil presisi dan 14 pesawat penghancur Su-33 dengan rudal tanpa kendali, dapat membantu pasukan udara dari laut. Namun, saat ini kapal induk tersebut berada di Laut Barents dan tengah menjalankan latihan persiapan tempur.

Pemimpin Redaksi situs Voenyi Paritet Andrian Nikolaev menilai bahwa penggunaan pesawat pengebom strategis dilakukan untuk mendemonstrasikan kemampuan senjata tersebut. “Di tengah jeratan sanksi internasional, Moskow harus menunjukkan ‘ototnya’ dalam melawan terorisme, untuk meningkatkan potensi pencabutan sanksi,” katanya pada RBTH.

Menurut Nikolai, itulah alasan Rusia mereplikasi pengalaman tempur AS, mengirim pesawat pengebom Tu-160 dan Tu-95MS yang dapat meluncurkan misil kendali jelajah dalam serangan udara masif. “Namun, metode ini sudah ketinggalan jaman. Saat ini, untuk menyerang target, Barat menggunakan pesawat tanpa awak Predator dan Reaper. Rusia masih belum punya drone tempur. Oleh karena itu, Rusia harus menggunakan apa yang ia miliki, bahkan jika itu lebih ekstrem.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.