Melalui Suriah, Rusia Proyeksikan Kekuatan di Seluruh Timur Tengah

Reuters
Dalam wawancara bersama RBTH, sejarawan Vladimir Akhmedov, rekanan senior di Pusat Studi Kontemporer Timur di Institut Studi Oriental sekaligus seorang diplomat dan ahli studi Arab yang pernah bekerja di Suriah dan Arab Saudi, berbicara tentang tujuan Moskow dan Iran di Suriah dan apa yang menanti negara tersebut di masa depan.

RBTH (R): Beberapa pakar yakin bahwa peran utama dalam konflik Suriah dimainkan oleh Iran saat ini, bukan oleh Rusia. Apa Anda setuju?

Vladimir Akhmedov (V.A.): Iran terlibat dalam konflik Suriah sejak hari pertama, mereka benar-benar tahu situasi di sana dan membantu pemerintah Suriah secara ekonomi, dan itu melibatkan dana dalam jumlah besar. Selain itu, Iran tertarik mengembangkan cabang pipa gasnya melalui wilayah Suriah, bukan Qatar.

Contoh ini kerap dikutip sebagai penyebab kehadiran konflik. Iran secara signifikan memperkuat kehadirannya di Suriah selama dekade terakhir. Baru-baru ini, komandan Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) menyatakan bahwa “Rusia mungkin tak sekhawatir kami terkait kedudukan Assad”.

Dan karena Kepala IRGC ditunjuk oleh pemimpin Iran, jelas bahwa pernyataan tersebut tak akan muncul jika bertolak belakang dengan kebijakan Iran.

Iran juga dengan mudah mencapai kesepakatan dengan pasukan lain, dengan Ikhwanul Muslimin, yang pernah terlibat dalam peristiwa di Mesir.

Militer tak menyukai hal ini sama sekali, dan ini adalah salah satu alasan mengapa rezim Ikhwanul Muslimin jatuh. Diketahui bahwa (Mohamed) Mursi, salah satu pemimpin Ikhwan (sebutan bagi Ikhwanul Muslimin -red.) yang menjadi Presiden Mesir, ingin mengusir militer dari tampuk kekuasaan dan menggantikannya dengan orang-orang mereka. Diketahui pula bahwa Iran bernegosiasi dengan cabang lokal Ikhwanul Muslimin melalui jaringan Eropa untuk menggantikan pemerintahan negara tersebut dengan rezim Islam.

Faktor persaingan antara Iran dan Arab Saudi di skala global juga memainkan peran penting dalam konflik Suriah, karena keduanya melihat diri mereka sebagai pemimpin dunia Islam.

Iran secara sengaja mendukung komunitas Syiah yang hadir dalam monarki kecil Teluk, dan di sana mereka tinggal mendominasi beberapa wilayah.

Di Arab Saudi, Syiah tinggal di bagian timur negara di mana ladang minyak berada dan ini adalah faktor yang menciptakan kekhawatiran di benak pemimpin negara tersebut.

R: Menurut Anda, apa yang menyebabkan situasi di Suriah di luar kendali dan menjadi perang sipil berdarah?

V.A.: Model pemerintahan yang dirancang oleh Presiden Hafez al-Assad dan diwariskan pada putranya Bashar baik untuk kondisi wilayah ini sebelum kemunculan revolusi di dunia Arab.

Suriah merupakan negara terakhir, yang akan menghadapi revolusi, yang baik pemerintah maupun masyarakat, tak siap untuk itu. Singkatnya, tak ada yang siap menghadapi revolusi. Sistem bekerja dengan baik, namun mulai gagal.

Bahkan sebelum revolusi, pemerintah membuat banyak kesalahan: di bidang agama, ekonomi, dan lingkup sosial.

Bashar telah mengganggu sistem “checks and balances”, yang dibentuk dan disusun dengan baik oleh Hafez al-Assad, yang dapat mengendalikan hal itu.

Bashar tak memenuhi ekspektasi banyak Sunni, dan di bawah kondisi krisis, menaruh pemerintahan di tangan pejabat militer Alawi.

Selanjutnya, organisasi, yang berisi banyak Sunni, seperti struktur partai dan perdagangan, ditekan dari bisnis.

Untuk pertama kali dalam sejarah Suriah, minoritas merebut kekuasaan, karena Sunni digeser dari pemerintahan. Bagi Suriah, ini adalah situasi yang tak wajar, baik di bawah Kafilah Turki maupun Assad sebelumnya, Sunni selalu berjalan berdampingan dengan Alawi. Bahkan jika mereka tak mencapai puncak, mereka adalah mitra rezim yang berkuasa.

Kini Sunni, yang menjadi bagian dari militer, tak ambil bagian dalam kekerasan yang terjadi dan menurut beberapa laporan berdiam di barak. Sementara, militan Iran dan Hizbullah Lebanon ambil bagian dalam pertempuran, begitu pula Alawi. Artinya, nasib Suriah ditentukan oleh pihak asing.

R: Mengapa Sunni dikeluarkan dari jaringan kekuasaan oleh Bashar al-Assad?

V.A.: Pada 2004, Suriah melakukan perubahan skala besar dalam kepemimpinan pasukan keamanan. Pasukan ini menghadapi pembersihan yang serius.

Hafez al-Assad bersikap keras dalam situasi krisis semacam itu, melakukan balasan pada kerabatnya sendiri.

Pada awal 1980-an, adiknya Jamil mencoba membangkitkan asosiasi al-Murtada (militan bersenjata anggota Partai Baath -Gazeta.ru), saat Assad sakit dan segera menjauh dari operasional pemerintahan.

Namun, saat sang presiden pulih, ia menutup asosiasi tersebut, mengasingkan Jamil ke Prancis untuk sementara. Saya rasa jika Hafez al-Assad masih berkuasa, tak akan ada revolusi, atau akan dilumpuhkan, sama seperti saat Muslim Brotherhood muncul di Suriah pada 1982.

R: Namun Assad Senior bertindak keras dalam menekan Ikhwanul Muslimin.

V.A.: Di satu sisi, ya. Di Hama — saya di sana setelah peristiwa terjadi, saat kota hancur-lebur, mereka hanya mengirim tank dan hanya itu. Namun mereka menggunakan metode yang berbeda.

Di sisi lain, saat pada 1979, Ikhwanul Muslimin membentengi diri mereka sendiri di pasar bawah tanah Aleppo di bawah benteng Salah El-Din, satu-satunya kemungkinan untuk mengeluarkan mereka adalah menggunakan gas, yang memiliki resonansi luas.

Namun Assad Senior melakukan hal yang lebih sederhana. Ia mengumpulkan para pedagang lokal di Aleppo dan mengatakan, “Saya beri waktu 24 jam. Mereka silakan keluar tanpa paksaan, atau Anda akan kehilangan bisnis Anda.” Jadi, masalah diselesaikan tanpa penggunaan gas.

R: Bagaimana Anda melihat solusi politik dalam konflik di Suriah?

V.A.: Melalui Suriah, kami memproyeksikan kekuatan di seluruh Timur Tengah. Saya rasa dalam skenario terburuk, kita dapat memperkuat wilayah yang penting, seperti Latakia dan Tartus, dan menyediakan keamanan bagi markas kita.

Untuk pertama kali, presiden menggunakan kata “markas” karena kita biasa menyebutnya “fasilitas dukungan teknis dan material”. Namun pertanyaan besar sampai kapan kita akan menahan itu, dan wilayah semacam itu jika kita kuasai, mereka akan terus mengirim pelaku bom bunuh diri ke sana.

Untuk menghindari hal itu, kami mencoba bernegosiasi dan menyelesaikan masalah secara politis. Namun itu tak mungkin tanpa Amerika.

R: Mungkinkah kita mengalahkan ISIS di Suriah?

V.A.: Saya rasa itu mungkin. Semua yang disebut ISIS saat ini merupakan geng yang terdiri dari beberapa kelompok terpisah yang tak punya masa depan di Suriah, karena mayoritas populasi — struktur masyarakat Suriah — menolak mereka. Setelah ISIS kalah dalam hal dukungan di Suriah, mereka semua akan terpecah ke arah yang berbeda.

Namun tugas utama saat ini adalah mencari jaringan yang dapat digunakan untuk mengembalikan kelompok oposisi yang bertempur melawan ISIS dan Presiden Assad untuk kehidupan yang lebih damai.

Terdapat banyak orang dengan profesi sipil yang mulai berperang karena berbagai alasan. Kita membutuhkan struktur politik baru yang mampu memberi kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan kepentingan politik mereka. Hisbulan di Lebanon, yang pada dasarnya merupakan struktur politik, dapat digunakan sebagai contoh. Pabrik politik semacam itu harus diciptakan di Suriah, namun mungkin belum memungkinkan.

Pertama kali dipiblikasikan di situs Gazeta.ru

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.