Kecelakaan Airbus A321: Bom Diduga Dipasang Oleh Staf Bandara

Petugas keamanan bandara Sharm el-Sheikh di Sinai Selatan, Mesir, sedang memindai bagasi penumpang pada 9 November 2015.

Petugas keamanan bandara Sharm el-Sheikh di Sinai Selatan, Mesir, sedang memindai bagasi penumpang pada 9 November 2015.

AP
Pada Selasa, Kepala Dinas Keamanan Federal Federasi Rusia (FSB) mengumumkan bahwa penyebab kecelakaan pesawat Rusia di Mesir adalah akibat serangan teroris. RBTH bertanya kepada para pakar penerbangan bagaimana bahan peledak bisa sampai di dalam pesawat dan mengapa tak ada pihak yang mengetahuinya.

FSB mengungkapkan jatuhnya pesawat penumpang Airbus A321 maskapai Kogalymavia pada akhir bulan lalu disebabkan oleh serangan teroris di atas pesawat. Secara spesifik, pesawat jatuh akibat diledakkannya bom rakitan berkapasitas hingga satu kilogram TNT.

Bagi siapa saja yang memberikan informasi mengenai teroris yang bertanggung jawab atas insiden tersebut, FSB telah mengumumkan hadiah sebesar 50 juta dolar sebagai imbalan. Kurang dari satu jam setelah itu, Reuters — dengan mengutip beberapa sumber — melaporkan penangkapan dua karyawan bandara Sharm el-Sheikh. Namun kemudian, informasi tersebut ditolak. Tidak tampak adanya kelalaian dalam pemeriksaan penumpang atau bagasi di bandara. Namun demikian, para pakar penerbangan setuju bahwa cara termudah untuk menyusupkan bom adalah melalui karyawan bandara yang melayani pesawat.

Pengangkut Bagasi (Loader)

Terdapat tiga cara untuk bisa menyusupkan bahan peledak ke dalam pesawat. Yang pertama adalah pelaku bom bunuh diri. Ini merupakan dugaan yang paling memungkinkan, demikian pendapat seorang ahli independen Yayasan Skolkovo Vadim Lukashevich. “Tersangka dapat masuk ke dalam pesawat dengan menyusupkan bahan peledak di badannya atau dengan berbagai bahan yang kemudian dicampur saat berada di pesawat. Namun dalam kasus ini, jauh lebih memungkinkan jika bom berada di dalam bagasi atau kargo di suatu tempat dalam badan pesawat,” ujar sang ahli dalam sebuah wawancara dengan RBTH.

Anggota Dewan Komisaris Asosiasi Pilot Rusia dan pemilik pesawat Leonid Koshlev tidak mengecualikan kemungkinan bahwa bom ditempatkan di dalam bagasi, seperti yang pernah terjadi pada kasus meledaknya pesawat Lockerbie Boeing 747 pada tahun 1988.

“Tetapi jika benar demikian, setibanya bom di bandara, bom tersebut dapat dimasukkan ke dalam pesawat oleh seseorang dari staf bandara yang bertanggung jawab atas kargo barang, misalnya pengangkut bagasi” demikian ia menduga. Setelah pemeriksaan, bagasi diangkut dari bandara oleh pengangkut bagasi. Kemudian mereka memasukkannya ke kereta khusus, membawanya ke pesawat, dan memasukannya secara manual ke dalam badan pesawat. Setelah memasukkan bagasi ke dalam pesawat, tidak akan ada lagi yang memeriksa ulang. “Pesawat memiliki dua kompartemen bagasi, yaitu pada bagian depan dan bagian belakang. A321 meledak di bagian ekor, kemungkinan besar lokasi tersebut merupakan titik ledaknya,” ujar Lukashevich.

Orang Khusus

Namun, jika benar ternyata teroris adalah salah satu personil bandar udara, ia dapat meletakkan bom tersebut tidak hanya di bagasi, tetapi juga di berbagai tempat lain di pesawat. “Pesawat memiliki pintu teknis khusus yang dapat diakses oleh orang yang tahu struktur pesawat. Ada kemungkinan untuk menyusupkan barang apa pun melalui pintu teknis khusus tersebut,” ujar Presiden Kehormatan Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional MAKS sekaligus pilot penguji Magomed Tolboyev kepada RBTH.

Untuk dapat menghasilkan ledakan yang kuat, cukup diletakkan 200 gram bahan peledak di dalam butiran-butiran kapsul. Hal ini dapat dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab menutup dan memeriksa pintu teknis khusus untuk terakhir kalinya sebelum pesawat lepas landas. Dulu, setiap pesawat memiliki seorang insinyur penerbangan di setiap penerbangan, tapi saat ini sudah tidak ada lagi. “Ini adalah pesawat charter, pesawat mendarat dan lepas landas. Siapa yang memeriksa dan melayani pesawat tersebut sebelum lepas landas? Kita tidak tahu,” ujar Tolboyev.

Di daratan, bom dapat ditempatkan di roda pesawat. Pada saat posisi pesawat di darat, pintu roda terbuka. “Bom dapat diletakkan, katakanlah, di suatu tempat di roda,” demikian Lukashevich menjelaskan. Selain itu, pada saat perawatan dan pengecekan di atas pesawat, beberapa awak dapat membersihkan lorong dan toilet. Jika salah seorang awak mengambil makananan di atas pesawat, bom dapat dimasukkan ke dalam wadah berisi makanan, seperti dalam film ‘Save Concorde’ yang diyakini para ahli sebagai skenario yang masuk akal.

Apakah orang-orang ini akan diperiksa? Secara teori, tentu saja, iya. Hal ini menjadi bagian dari keselamatan penerbangan, sama halnya dengan pemindaian penumpang di pintu masuk. Staf bandara diperiksa dengan berbagai cara, termasuk dengan cara berikut: staf yang bertanggung jawab memeriksa para personil bisa melemparkan sesuatu di atas pagar dan melihat apakah ada yang menyadari kejadian tersebut, demikian Koshelev menjelaskan. “Namun Mesir dapat menyelidiki tanpa kecurigaan berlebihan,” ujar sang ahli berkomentar. “Hanya karena alasan seseorang telah lama bekerja di sana, dia dianggap sudah menjadi bagian dari perusahaan itu (bersih).”

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.