Hubungan Rusia-AS: Siapakah yang Telah Menyiramkan Bensin ke Kobaran Api?

Alexei Iorsh
Belum lama ini di California, Kepala Pentagon Ashton Carter berbicara di hadapan militer AS dalam sebuah konferensi. Pada kesempatan itu ia tak hanya mengecam keras kebijakan luar negeri Rusia, tetapi juga menjadi juru kampanye agar AS dapat memberikan perlawanan. Akibatnya, Moskow dituduh sebagai ‘perusak’ dalam krisis Suriah yang menyiramkan bensin di atas kobaran api, dan sekaligus diduga sebagai pihak yang mengacungkan senjata nuklir. Oleh karena itu, Carter mengusulkan untuk memperkuat pertahanan terhadap agresi Rusia di Eropa.

Pernyataan keras Carter dilontarkan bertepatan dengan bocornya informasi kepada media mengenai kesediaan FBI untuk membantu Rusia dalam menginvestigasi kecelakaan pesawat penumpang Rusia di Semenanjung Sinai, Mesir (yang diduga akibat aksi teroris) yang menewaskan sebanyak 224 orang. Kerja sama tersebut menjadi kerja sama pertama antara badan intelijen Amerika dan Rusia setelah krisis di Ukraina dan bergabungnya Krimea ke Rusia.

Adapun terkait Suriah, laporan kepala militer AS terlihat cukup kontras dengan pernyataan Departemen Luar Negeri. Menlu Rusia dan mitra AS-nya John Kerry dalam beberapa pekan terakhir telah banyak membicarakan mengenai penyelesaian konflik Suriah. Jika di Wina, Kerry menuduh Moskow yang telah menyiramkan bensin pada kobaran api maka kemungkinan seluruh pertemuan multilateral sudah berakhir. Namun, selama proses penyelesaian Suriah — meskipun ada perbedaan serius dalam posisi Rusia dan Amerika Serikat — saat ini sangat mungkin untuk berbicara tentang secercah kecil harapan untuk berkompromi, daripada sekadar berdebat mengenai degradasi situasi.

Pada umumnya, tentu saja, perbedaan gaya antara Pentagon dan Departemen Luar Negeri adalah sesuatu cukup normal. Selain bermain sebagai “polisi baik dan buruk”, di sini kita dapat dilihat kepentingan yang dikejar masing-masing departemen.

Pentagon telah lama mencari alasan dan kesempatan untuk “menghirup udara kedua” dalam pembangunan struktur militer NATO di Eropa. Eropa telah berulang kali dikritik oleh Washington karena mereka mengalokasikan bagian yang lebih kecil dari anggaran yang sebelumnya telah ditetapkan dalam program dan rencana NATO. Selain itu, sejak tahun 1985 hingga 2015, jumlah tentara AS di Eropa menurun dari 300 ribu lebih menjadi sekitar 50 ribu (ini terhitung kurang dibandingkan dengan yang ada di wilayah Asia-Pasifik). Kini, Pentagon ingin menebusnya, bahkan terlepas dari fakta bahwa krisis Ukraina yang menjadi semacam wacana formal untuk mengencangkan retorika menuju perdamaian. Selain itu, dapat diperhatikan penurunan terjadi tanpa intervensi NATO, melainkan hanya dengan cara negosiasi yang kompleks. Tentu saja, juru bicara Barat di Moskow ditekan tidak secara militer melainkan secara ekonomi.

Selain itu, baru-baru ini cukup banyak pemimpin Eropa yang memberikan pernyataan bahwa tanpa partisipasi Moskow, krisis Suriah tidak akan bisa diselesaikan. Belum lagi fakta bahwa tanpa memperhitungkan Rusia, krisis di Ukraina tidak akan bisa diselesaikan sampai akhir. Dalam situasi seperti itu, ketika sebuah ‘kereta hendak pergi’, kita harus bergegas, dan tentu saja ini untuk merencanakan pembangunan militer di Eropa.

Keputusan awal mengenai hal ini harus diambil pada bulan Desember di pertemuan para menteri luar negeri NATO dan kemudian ditetapkan pada konferensi aliansi pada musim panas tahun depan di Warsawa.

Pernyataan keras militer AS muncul tepatnya setelah awal intervensi militer Rusia di Suriah, yang secara efektif mengejutkan banyak orang Barat. Tindakan aktif Moskow di Timur Tengah, ditunjukkan dalam berbagai pers Amerika, dan terutama mayoritas kandidat Republiken menganggap aktifnya Moskow di Timur Tengah sebagai ‘kegagalan’ pemerintahan Obama. Retorika kuat dari Pentagon dalam pengertian ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan propaganda, serta dalam waktu dekat — ketika pemilihan presiden — Republiken ingin mendapatkan poin politik tambahan.

Saat ini, tentu saja, hubungan Rusia-AS sedang menghadapi krisis akut sejak berakhirnya Perang Dingin. Tampaknya sudah pantas jika kini kita berbicara mengenai Perang Dingin baru. Pemerintahan Obama tentu saja tidak ingin meninggalkan warisan berupa krisis di Ukraina dan Timur Tengah yang belum terselesaikan kepada penerus. Jika di Ukraina, setidaknya saat ini, ada eskalasi lebih lanjut dihentikan, krisis skala besar kedua masih belum bisa diprediksi dan mungkin menyebar ke negara-negara tetangga. Pada kenyataannya, dalam kasus lain, transisi ke interaksi yang dingin dan rasional dengan Moskow bisa membawa hasil yang cukup besar.

Namun sebaliknya, beberapa perwakilan administrasi AS mengucapkan pernyataan yang dapat didefinisikan sebagai aksi provokatif. Mereka benar-benar menyiramkan bensin pada kobaran api pada api permusuhan antara Rusia-Amerika Serikat.

Penulis adalah ahli potlitik dan sekaligus anggota Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Rusia.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.