Penerbangan Terakhir Penumpang A321, Abadi dalam Kenangan

Anatoly Medved / RG
Kecelakaan pesawat Rusia di langit Mesir telah merenggut nyawa 224 orang penumpangnya. Di antara para korban adalah para keluarga dan anak-anak, serta pasangan muda. Bagi beberapa di antara mereka, liburan tersebut adalah liburan yang telah lama dinanti. RBTH membahas kisah-kisah pribadi penumpang penerbangan Sharm el-Sheikh menuju Sankt Peterburg.

Pesawat Airbus A321 Kogalymavia dari Sharm el-Sheikh dijadwalkan mendarat di bandara Pulkovo Sankt Peterburg pada pukul 12.20 waktu setempat. Pesawat tersebut mengangkut 224 orang penumpang, termasuk di antaranya 25 anak-anak dan tujuh awak pesawat. Pesawat lepas landas dari resor Mesir Sharm el-Sheikh membawa sejumlah wisatawan dari 13 wilayah di Rusia, serta penumpang berkewarganegaraan Ukraina dan Belarus.

Di halaman jejaring sosial beberapa penumpang, mereka sempat mengunggah foto fauna eksotis dan pesona laut. Tampak jelas keceriaan dari foto-foto tersebut. “Hore! Kami terbang untuk berjemur.”, ”Penerbangan ditunda, tapi pikiran kami sudah sampai di sana!”, “Tak pernah terpikir bahwa #Mesir menimbulkan begitu banyak emosi positif.”

Pada pukul 11.00, ruang kedatangan bandara Pulkovo dipenuhi banyak orang yang ingin menyambut kedatangan kerabat dan teman-teman mereka yang tiba dalam penerbangan dari Mesir. Pada saat itu, belum semuanya tahu mengenai kejadian yang baru saja terjadi. Sementara, mereka yang sudah tahu hanya dapat berdiri mematung di meja pusat informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dan harus pergi ke mana.

Mereka menangis dan dengan pandangan penuh harap pada melihat papan informasi kedatangan. Di papan informasi tertulis bahwa kedatangan pesawat tertunda. Setengah jam sebelum pendaratan pesawat yang dijadwalkan, informasi mengenai penerbangan hilang dari papan informasi. Namun, orang-orang terus berusaha untuk menghubungi keluarga dan berusaha meyakinkan diri bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi.

“Penumpang Utama”

Sebelum penerbangannya ke Mesir, orangtua Darina Gromova (balita berusia 10 bulan), Tatyana dan Aleksey, mengambil foto putrinya yang sedang memandangi landasan pacu bandara melalui kaca. Foto si kecil Darina diunggah ke jejaring sosial oleh orangtuanya dengan judul “Penumpang Utama” yang kini menjadi simbol tragedi kecelakaan pesawat tersebut. Hampir satu juta orang telah menyebarkan foto itu di internet. “Mereka tak pernah tahu bahwa foto tersebut menjadi foto yang terakhir dalam hidup mereka.”, “Saya tidak sanggup berkata-kata…,” tulis orang-orang di jejaring sosialnya masing-masing.

Penumpang Utama. Sumber: Arsip pribadi.

Pada bulan Agustus tahun lalu, Tatyana dan Aleksey menikah. Pada video pernikahannya, mereka tampak menari waltz. Ibu Aleksey terlihat menyeka air mata sukacita. “Terima kasih kepada suami saya, atas putri yang lucu, perhatian, dan cinta!” tulis Tatyana. Tak lama dari video pernikahan yang ia unggah, ada video lain berjudul "Tatyana dan Aleksey". "Bagaimana semuanya berawal…", yang berisi foto mereka dan putrinya. Tampak terakhir kali Tatyana mengakses jaringan sosialnya pada 15 Oktober di hari keberangkatan mereka ke Mesir.

“Kami Terbang ke Rumah”

Di antara dua ratus lebih penumpang yang menjadi korban adalah keluarga besar Shein. Foto terakhir keluarga ini diambil langsung di kabin pesawat beberapa menit sebelum pesawat lepas landas menuju Sankt Peterburg. Tampak pasangan Olga dan Yura bersama anak-anak mereka, Zhenya (11), Valeria (10), dan Nastya (3).

Keluarga Shein. Sumber: VK, Arsip pribadi.

“Hai Peter! Selamat tinggal Mesir. Kami terbang ke rumah,” tulis Olga Sheina. Dua minggu terakhir hidup mereka dihabiskan dengan perjalanan keluarga ke luar negeri, bertepatan dengan perayaan perkenalan dan pernikahan mereka. “Pada 27 Oktober 2005, hari itu saya bertemu denganmu, jatuh cinta selama berabad-abad. Hingga kemudian setelah bertahun-tahun, pada tanggal 27 Oktober 2011 kami pun menikah. Denganmu, saya begitu bahagia, dan kami merayakan ulang tahun pernikahan kami” tulis Olga.

Keluarga Shein. Sumber: VK, Arsip pribadi.

Putra mereka hobi bermain sepak bola dan renang. Putri mereka, Valeria, juga hobi berenang. Ia bahkan telah meraih banyak medali dan penghargaan dari berbagai kompetisi. Pada halaman jejaring sosial Yuri juga diunggah video putri kecil mereka Nastya yang sedang belajar berjalan, dan memakan kue pie pertamanya.

Primadona

Olga Krylova. Sumber: VK, Arsip pribadi.

Enam bulan lalu, kakak tertua Svetlana Krylova mencoba meramal garis tangannya. Saat itu (menurut ramalan), terlihat garis hidup Krylova kurang dari setengah telapak tangan. Mengetahui hal itu, Svetlana hanya tertawa dan tak percaya bahwa ia akan meninggal secepat itu. Dalam 30 tahun hidupnya, ia bahagia, ia sering bepergian ke luar negeri. Sebelum berangkat ke Mesir, ia bahkan sudah merencanakan perjalanan ke Tiongkok. Pesawat tersebut juga mengangkut suaminya, Mikhail, dan putrinya Kristina (10).

Ekaterina Murashova. Sumber: VK, Arsip pribadi.

“Aku tahu, aku tidak akan kembali,” adalah judul lagu yang diunggah ke halaman jejaring sosial oleh Ekaterina Murashova (32). Ia memenangkan kontes kecantikan kota Pskov. Ia memiliki seorang putri bernama Katya (8). Saat itu, ia ingin pergi berlibur sebelum ulang tahunnya, meninggalkan Putrinya di Rusia dan terbang ke Mesir dengan Ibunya. Ia berkata, “Ksenia, aku akan pergi berlibur, kita akan berjumpa pada 1 November dan aku akan beritahu di mana kita akan merayakan ulangtahunku,” kenang seorang temannya. “Kini sebagai gantinya, aku akan mengunjungi makamnya.”

Firasat Buruk

Bersamaan dengan penumpang, terdapat sejumlah awak pesawat. “Ia telah mencari jati dirinya di daratan dan mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa penerbangan. Ia begitu mencintai langit,” ujar Anna, istri seorang pramugara Stanislav Sviridov. Ia meninggalkan seorang putri yang masih kecil dan seorang putra. Di hadapan kamera terdengar suara Anna yang bergetar. Dalam beberapa minggu terakhir sebelum terjadinya kecelakaan, menurut Anna, Stanislav tampak lebih khawatir dan bersikap lebih lembut, seperti memiliki firasat bahwa ajalnya mendekat. “Saya sempat berkata kepadanya, ‘Setelah mendarat, segera hubungi aku.’ Ia juga sering kali bergurau, ‘Untuk apa? Kamu juga seorang pramugari. Jika sesuatu terjadi, kamu akan tahu dengan sendirinya melalui berita.’ Tampaknya ia ingin bersiap-siap untuk meninggal. Belakangan, ia kerap kali mempelajari kasus kecelakaan pesawat dari semua sudut,” kenang sang istri.

Stanislav bersama Anna. Sumber: VK, Arsip pribadi.

Firasat buruk juga dirasakan oleh awak pesawat lain. Oleg Ermakov seharusnya terbang pada tanggal 31 Oktober dalam penerbangan yang sama. Dua minggu sebelum tragedi itu, ayahnya bercerita bahwa ia bermimpi anaknya meninggal dalam kecelakaan. “Oleg, jangan pergi, mundur saja,” ujar ayahnya meyakinkan. Beberapa hari sebelum keberangkatan, sang pramugara mengajukan pengunduran diri pada penerbangan tersebut atas beberapa alasan. Salah satu alasannya ialah karena desakan ayahnya. Namun, ia tidak menceritakan mimpi buruk ayahnya dan menjadikannya sebagai alasan yang disampaikan kepada atasannya. Ia pun tak meminta koleganya untuk menggantikan dirinya.

Anna Tishinskaya. Sumber: Arsip pribadi.

Hingga saat ini, situasi di bandara Pulkovo sudah terlihat tenang. Area depan bandara dibanjiri bunga dan lilin. Para kerabat korban datang silih-berganti membawa permen, biskuit, kue, foto, dan lilin. “Jumlah bunga di bandara dan pesan yang diunggah di Facebook membantu mengurangi rasa sakit,” ujar seorang adik korban Anna Tishinskaya di halaman jejaring sosialnya. Hingga kini, ia masih terus mencoba menghubungi telepon genggam kakaknya. “Saya mengerti segalanya, tapi saya masih menahan napas setiap kali menanti nada sambung. Namun, tidak pernah ada. Operator mengatakan bahwa ‘nomor yang Anda tuju saat ini tidak dapat dihubungi.’ Saya begitu naif untuk percaya dengan kalimat ‘saat ini’.”

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.