Mengapa ISIS Mengaku Bertanggung Jawab Atas Kecelakaan Pesawat Rusia?

Ria Novosti
Kecelakaan pesawat Rusia Kogalymavia 9268 di Semenanjung Sinai, Mesir, menjadi kabar yang paling mengejutkan minggu lalu. Hal itu segera diinvestigasi, dan tak diragukan kita akan mendengar banyak pendapat yang bertentangan terkait kecelakaan tersebut. Berikut analisis Russia Direct terkait alasan ISIS yang mengaku bertanggung jawab atas tewasnya 217 penumpang dan tujuh kru pesawat Rusia yang mengalami kecelakaan.

Namun, sudah ada upaya untuk mengintepretasikan kecelakaan tersebut dilatarbelakangi oleh masalah politik. ISIS mengeluarkan pernyataan melalui Kantor Berita Aamaq, mengaku bertanggung jawab atas 'jatuhnya' pesawat Rusia tersebut di ruang udara Mesir. Pernyataan teroris tersebut juga diberitakan oleh beberapa media terkemuka.

Meski tak ada konfirmasi resmi dan Kementerian Transportasi Rusia yang menyebutkan bahwa kelompok teroris tersebut tak terlibat, muncul pertanyaan mengenai potensi serangan semacam itu terhadap Rusia, dan kapabilitas serta tujuan ideologis para teroris tersebut.

Tahun lalu, kelompok pejihad Mesir Ansar Beit al-Maqdis (juga dikenal sebagai “Wilayat Sinai”), subdivisi ISIS di Mesir, mengancam akan menyerang orang asing jika mereka tak meninggalkan Mesir. Dan dalam beberapa tahun belakangan Semenanjung Sinai telah menjadi medan tempur antara militer Mesir dan para jihadis bersenjata.

Dua Alasan Mengapa ISIS Mengaku Bertangung Jawab

Untuk mencoba memahami logika di balik 'pergolakan besar' tersebut, kita harus mengingat dua poin krusial.

Pertama, strategis kelompok teroris itu tak berdasarkan logika formal. Tujuan utama mereka adalah menyebarkan ketakutan, dan ketakutan diperparah dengan kesalahpahaman. Melalui pendekatan ini mereka mencoba menerapkan visi dan intepretasi mereka dengan menunjukkan bahwa merekalah yang bertanggung jawab.

Gelombang informasi berlalu, menyisakan 'residu'. Hasil dari konflik Suriah sulit ditebak, dan situasi internal di negara Timur Tengah lainnya (termasuk Mesir, tak termasuk Libya) menciptakan kekhawatiran serius, dan ISIS merasa perlu memamerkan kapabilitasnya.

Bukan mustahil bahwa beragam 'inisiatif perdamaian' akan keluar dari bibir para pendukung Abu Bakr al-Baghdadi. Tak ada yang perlu terkejut atas hal itu. Sebagai bagian dari perang informasi, kelompok radikal tersebut harus menampilkan harmoni dan kesetiaan pada pusat komando tunggal.

Faktanya, itu tak terjadi. Kelompok teroris yang memimpin perang melawan institusi pemerintah secara umum dibangun dengan prinsip jaringan, bahkan jika mereka mengaku sebagai negara atau emirat. Terkait hal itu, kita tak bisa berharap pengikut struktur semacam ini mematuhi perintah seorang 'kafilah' atau 'emir' (pangeran Arab -red.). Tiap sel dalam jaringan itu dapat menampilkan independensi dan melakukan serangan independen tanpa koordinasi terpusat.

Oleh karena itu kata-kata teroris (baik yang memicu perang maupun yang 'mencintai perdamaian) sebaiknya hanya dilihat sebagai strategi komunikasi mereka.

Alasan kedua mengapa ISIS mengaku bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat adalah karena jaringan teroris modern tak hanya berkaitan dengan serangan dan ledakan, tapi juga mengambil alih kontrol (atau setidaknya meningkatkan pengaruh) dalam lingkup informasi. Ranah informasi juga merupakan elemen yang sangat penting dan kuat.

Tanpa mengetahui siapa musuh kita, sulit untuk mengalahkan sang musuh. Metafora 'shadow boxing' (meninju bayangan) hanya cocok untuk film. Dalam perlawanan memerangi terorisme saat ini, pengetahuan tentang musuh sangat berharga. Oleh karena itu, strategi perlawanan harus berisi lebih dari sekadar menyerang infrastruktur teroris.

Rusia harus paham bahwa ISIS akan mencoba menyebarkan pengaruh ke Kaukasia Utara, mengeksploitasi masalah yang dihadapi wilayah itu.

Di luar proses signifikan yang tercipta dalam mengintegrasikan Kaukasus Utara (aksi teror berkurang, lebih banyak rekrutmen militer Rusia dari wilayah tersebut), angka pengangguran masih tinggi, banyak isu teritorial yang belum terselesaikan, dan lemahnya institusi pemerintah sekular (terutama pengadilan). Kurangnya pendidikan Islam yang dimiliki pemimpin religius juga menjadi faktor yang mempersulit keadaan.

Tanpa menyelesaikan isu tersebut, jelas sangat sulit memahami ide radikal yang menawarkan keadilan sosial dan masalah 'Muslim awam'. Selain itu, reaksi keras terhadap terorisme, baik di dalam maupun luar negeri, harus sejalan dengan upaya untuk menurunkan risiko politik dan sosial-ekonomi internal dan mulai mempelajari korelasi antara retorika teroris dan mengubah situasi di Rusia dan dunia.

Versi lengkap artikel ini dapat di baca di situs Russia Direct.

Opini penulis tak merefleksikan posisi Russia Direct.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.