Diplomasi Inklusif Rusia di Suriah

Aleksei Druzhinin/RIA Novosti
Langkah diplomatik Moskow untuk memulai proses penyelesaian konflik secara politis di dalam dan luar Suriah, yang dimulai dengan kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Moskow pada 22 Oktober lalu, sepertinya terbayar. Di tengah pembicaraan di Wina dan beberapa hari setelah kunjungan Assad ke Kremlin, kuartet ad hoc yang terdiri dari AS, Rusia, Arab Saudi, dan Turki mulai mendekat. Washington tak menampik kemungkinan untuk memperluas format diskusi tersebut dengan mengikutsertakan Iran, pelindung Bashar al-Assad sekaligus musuh bebuyutan negara-negara poros Sunni.

Lebih jauh lagi, Moskow yang hingga bulan lalu berusaha bersikap rendah hati dalam konflik ini, telah mencuri perhatian dengan membawa lebih banyak aktor regional dalam konteks.

Moskow telah mengusulkan ide untuk menggelar pemilu presiden dan parlemen di negara yang hancur-lebur oleh perang, yang tak dikabarkan oleh media pro-pemerintah Suria, seperti yang disebutkan pakar dunia Arab yang berbasis di Moskow pada Troika Report. Moskow juga mengumumkan kesiapannya untuk bergabung dengan pemberontak Tentara Pembebasan Suriah yang didukung oleh Barat.

Kesimpulannya, langkah-langkah tersebut menegaskan kebijakan dua-jalur pro-aktif yang diambil Kremlin untuk membuka jalan bagi penyelesaian drama Suriah, berharap tak dihancurkan oleh kekejaman seperti langkah Uni Soviet di Afganistan pada 1980-an. Ini juga memberi kesempatan bagi Rusia untuk keluar dari isolasi yang dilakukan Barat dalam proses politik global.

Setelah kunjungan Assad yang mengejutkan ke Moskow, aktivitas diplomatik telah menutupi keberhasilan militer yang diraih pasukan pemerintah Suriah, yang sukses mengambil alih jalan yang menghubungkan Damaskus dengan Homs. Tapi mungkin saja, pergeseran ke arah negosiasi meja bundar telah memproyeksikan perubahan realita dan sinyal demonstratif Moskow masih mengakui Assad sebagai pemimpin nasional.

Patut dicatat, Menteri Luar Negeri AS John Kerry tak mengeksklusi kehadiran perwakilan Iran dalam pembicaraan selanjutnya terkait Suriah, menyebutkan bahwa, “Kami ingin menjadi inklusif”.

Setelah pembicaran di Wina, Raja Yordania, wilayah jelas-jelas merupakan pro-Barat, mulai menerima kabar terkait aksi militer Rusia di Suriah. Menteri Hubungan Media dan Komunikasi Yordania Mohammad Momani mengklarifikasi bahwa mekanisme koordinasi militer antara Yordania dan Rusia terkait Suriah dan bertujuan untuk memastikan keamanan garis utara Kerajaan.

Dalam jangka waktu satu minggu, beberapa peristiwa penting telah mendorong penyelesaian politis konflik Suriah secara signifikan, yang belum pernah terjadi sebelumnya selama empat tahun terakhir perang berlangsung. Pernyataan positif yang disuarakan para pejabat AS dan Arab salah satunya. Pembicaraan selanjutnya mengenai Suriah akan melibatkan para aktor internasional utama. Bolehkah kita menduga ada 'sesuatu yang sedang berlangsung, atau ini hanya delusi?

Grigory Kosach, pakar politik dunia Arab sekaligus profesor di Russian State University for the Humanities, menyampaikan pada Troika Report bahwa perubahan realita mungkin menurunkan nilai peningkatan diplomatik saat ini:

“Memang, ada sesuatu yang sedang berlangsung. Tentara Suriah berhasil merebut kembali sejumlah wilayah dan membantu Assad mengonsolidasi kekuatannya, dan semua ekspektasi terkait dengan pemilu dapat berevaporasi dalam waktu singkat. Sebuah kesalahan melihat Assad sebagai 'boneka' Moskow. Ia punya permainannya sendiri untuk dimainkan."

“Harapan lebih besar terkait penyelesaian konflik mungkin juga masih angan-angan. Arab Saudi dan AS sepakat memasok perangkat militer untuk oposisi Suriah. Selain itu, Riyadh menegaskan bahwa tak ada tempat bagi Assad di Suriah kelak. Ini adalah indikasi jelas bahwa meski beberapa sinyal tengah merebak, ini semua terlalu rapuh dan proses tersebut dengan mudah tergelincir.”

Andrei Fyodorov, seorang pakar kebijakan luar negeri Rusia dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, juga menyampaikan prediksinya yang penuh kehati-hatian pada Troika Report:

“Rusia telah mengusulkan untuk melibatkan Iran dan Mesir dalam pertemuan semacam itu. Jelas tanpa mereka, terutama Iran, tak ada progres yang bisa dicapai. Dalam konteks pemilu: pemilu parlementer secara teoritis memungkinkan, namun kita harus mempertimbangkan bahwa banyak persyaratan yang harud dipenuhi. Sementara dalam pemilu presiden, Barat menegaskan mereka harus menggelar pemilu tanpa menyertakan Assad sebagai kandidat. Namun Assad tak setuju. Dalam kasus ini, tak mungkin ini terselesaikan dalam beberapa bulan mendatang.”

— Rusia dan Barat tak dapat sepakat terkait syarat dan kondisi pemilu, apakah mereka akan kembali menghadapi negosiasi alot?

“Ini tergantung pada kemampuan tentara Suriah di lapangan. Jika mereka sukses, ia akan memperkuat posisi Assad. Selain itu, Rusia telah menawarkan diri untuk mendampingi oposisi moderat Suriah jika mereka siap memerangi ISIS. Menurut saya, itu tak akan terjadi. Namun proses diplomatik harus berjalan seiring dengan operasi militer.”

Di luar pesimisme Fyodorov yang dapat dimaklumi, salah satu pendiri Tentara Pembebasan Suriah Fahad Masri merespon tawaran Moskow untuk mendampingi mereka dalam serangan udara dan darat dengan menyebutkan, “Kita harus memfasilitasi pertemuan baru, tempat kami dapat mengekspresikan posisi kami dan mendiskusikan aksi bersama. Kami dapat membuat keputusan bersama mengenai pendampingan semacam apa yang dapat ditawarkan untuk Tentara Pembebasan Suriah.”

Hal ini menjadi bukti tambahan bahwa penyesuaian sekutu dalam konflik berlapis-lapis di dalam dan luar Suriah memang nyata adanya. Keterlibatan posiitif antara musuh dan sekutu adalah sebuah skenario yang tak lagi berlebihan.

Selain itu, Rusia menunjukan kesediaan dan kesiapannya untuk bersatu dengan Barat terkait krisis regional yang membutuhkan penyelesaian dari pemain-pemain global. Bagi Moskow, ini dapat menjadi jalur cepat untuk keluar dari isolasi.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.