Adakah Ancaman Ganda Taliban-ISIS untuk Rusia dan Asia Tengah?

Zuma / TASS
Serangan Taliban terhadap kubu strategis Afganistan, Kunduz, yang terletak 45 mil dari perbatasan Tajikistan, menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu mungkin akan menyebarkan paham radikal Islam ke Asia Tengah dan perbatasan Rusia. Sementara, para pakar menyampaikan pada Troika Report bahwa tak mungkin Rusia melayangkan serangan yang serupa dengan di Suriah ke wilayah itu.

Kekacauan keamanan regional yang terjadi, tiba-tiba membuat Presiden Tajikistan Emomali Rahmon segera terbang ke Sochi untuk menemui Putin dan mendiskusikan penguatan kerja sama militer-teknis serta langkah efektif untuk membuat perbatasan Afganistan tak bisa ditembus.

Sementara, Ramzan Kadyrov, pemimpin Republik Chechnya Rusia, bertemu dengan Wakil Presiden Afganistan Abdul Rashid Dostum. Setelah pertemuan tersebut, Kadyrov berpandangan Rusia harus mendampingi Afganistan untuk memblokir ISIS, yang kini juga mengincar wilayah tersebut.

Namun, pakar politik Rusia melihat saat ini belum waktunya Rusia mendampingi Afganistan memerangi ISIS. Lagipula, belum ada konsensus mengenai level ancaman keamanan terhadap Rusia dan Asia Tengah terkait perluasan ISIS ke Afganistan.

Jadi, seberapa serius ancaman konsolidasi Taliban di wilayah sekutu Asia Tengah Rusia? Alexei Malashenko, pakar keamanan dari Carnegie Center Moskow, menyebutkan bahwa ancaman tersebut dibesar-besarkan.

“Saya rasa tak ada ancaman pada Rusia. Selain itu, tak ada ancaman terhadap Tajikistan, tantangan utama yang mereka hadapi datang dari dalam negeri. Saya tak melihat Taliban menyerang Tajikistan, mereka tak punya pasukan untuk melakukan itu.”

“Taliban sibuk dengan urusan dalam negeri Afganistan.”

Namun, opini tersebut disangkal oleh pakar lain yang diwawancara Troika Report, Jenderal Vyacheslav Trubnikov, mantan Wakil I Menlu Rusia, mantan Direktur Badan Intelijen Rusia, serta mantan Dubes Rusia untuk Afganistan. Apakah kemenangan terbaru Taliban mendorong Moskow untuk bertindak proaktif melindungi keamanan perbatasan Asia Tengah.

“Opini pribadi saya ialah situasi di Afganistan tak pernah tenang atau stabil. Rusia dan sekutunya yang berada di bawah Collective Security Treaty Organisation (CSTO) sadar akan ancaman yang berkembang di dalam Afganistan. Konferensi terbaru CSTO membicarakan hal itu. Semua anggota CSTO harus selalu waspada.”

“Saya tak melihat ada kaitan langsung antara ISIS dan Taliban. Namun semua ancaman teroris, tak peduli dari mana, harus direspon dengan aksi yang tegas. Aksi tersebut hanya efektif jika terkoordinasi dengan baik. Pertemuan CSTO merupakan langkah ke arah yang benar.”

— Apakah mungkin Rusia melakukan serangan udara yang sama di Afganistan seperti yang saat ini dilakukan di Suriah?

“Hingga saat ini kami belum menerima permintaan dari Pemerintah Afganistan untuk melakukan aksi semacam itu. Tak seperti Suriah yang pemerintahnya memang secara langsung meminta pendampingan konkret Rusia.

Perebutan kota Kunduz oleh Taliban yang kemudian diusir oleh pasukan Afgan meningkatkan ketegangan dalam perang sipil yang telah berlangsung hampir 40 tahun. Apa ancaman yang diberikan Taliban untuk Asia Tengah? Georgy Mirsky, profesor di Higher School of Economics di Moscow dan pakar Timur Tengah, menyampaikan pada Troika Report:

“Terdapat banyak organisasi Islam—kita tak boleh hanya fokus pada Taliban dan al-Qaeda—ada pula ISIS dan lainnya. Mereka semua Sunni, tapi berasal dari berbagai etnis: Arab, Chechen, Uzbek, Tajik, Pashtun, dan lain-lain. Jika terjadi kekacauan di Tajikistan, pemberontak dapat merebut pasokan senjata dari Afganistan karena setelah pasukan NATO pergi mereka akan meninggalkan banyak senjata. Sebagian dikirim ke organisasi bawah tanah Tajik dan Uzbek.”

— Apa langkah yang bisa mendorong Rusia bertindak pro-aktif?

“Saya bertemu orang-orang semacam ini pada 1995, dan mereka menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah Kazakhstan, dan kemudian Republik Tatarstan dan Bashkiria di Rusia. Mereka tak akan mencapai tujuan ini. Namun poinnya adalah mereka sudah siap membunuh dan terbunuh untuk mewujudkan itu. Rusia harus memperkuat pertahanan untuk mencegah hal itu terjadi.”

Kebangkitan Taliban, setelah menunjukan kemampuan operasional yang tinggi saat menyerang Kunduz, serta laporan bahwa beberapa unitnya bergabung dengan militan ISIS, menambah ketidakpastian akan nasib Presiden Afganistan Ashraf Ghani dan masa depan rezim sekular di Kabul.

Pasukan jihad internasional kini bersatu di Afganistan dan mengacaukan stabilitas seluruh wilayah. Hal ini terdengar seperti lonceng peringatan bagi Rusia dan sekutunya di Asia Tengah, yang cepat atau lambat akan memaksa mereka bertindak proaktif.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.