Mungkinkah Rusia Mengancam Anggaran Pentagon?

Pesawat Su-30 MKI ini dipamerkan di Pameran Internasional Aviasi dan Antariksa MAKS 2005 ke-7 di kota Zhukovsky, pinggiran kita Moskow, Rusia.

Pesawat Su-30 MKI ini dipamerkan di Pameran Internasional Aviasi dan Antariksa MAKS 2005 ke-7 di kota Zhukovsky, pinggiran kita Moskow, Rusia.

Marina Lystseva/TASS
“Rusia telah mengatasi kesenjangan ‘kapabilitasnya’. Ini menyebabkan kecemasan besar,” ujar Komandan Angkatan Udara AS Jendral Frank Gorenc di Eropa pada pertengahan bulan September. ‘Kapabilitas’ yang dimaksud sang jenderal adalah pengembangan teknis armada udara militer Rusia dan sistem pertahanan udara berbasis darat.

Jenderal Gorenc mengatakan, sejak munculnya Rusia di Krimea pada tahun 2014, sistem pertahanan udara negeri Beruang Merah tersebut mulai menyelidiki wilayah Polandia. Pangkalan radar baru di Kaliningrad meliputi sebagian besar wilayah Eropa. Selain itu, dengan munculnya Angkatan Luar Angkasa Rusia di Krimea, Rusia menguasai wilayah Mediterania untuk meningkatkan pengaruhnya di Timur Tengah dan Suriah.

Menyanjung Musuh

Pernyataan Jenderal Angkatan Udara AS Frank Gorenc menimbulkan kejengkelan bagi Kementerian Luar Negeri Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut pidato sang jenderal provokatif dan dapat menghasut suasana permusuhan.

Pernyataan umum sang jenderal Amerika pada dasarnya bersifat komersial. Hal ini dikarenakan penyetaraan dalam penerbangan udara antara Amerika Serikat dan Rusia tidak boleh dibicarakan. Menurut lembaga pemeringkat Global Firepower Index (GFP) yang menganalisis potensi pertahanan negara, pada tahun 2015 Angkatan Udara AS memiliki 13.892 unit pesawat militer dan 6196  unit helikopter. Sementara, Angkatan Udara Rusia memiliki 3.429 unit pesawat militer dan 1.120 unit helikopter.

“Bagi Pentagon, pernyataan semacam itu, pertama-tama, sengaja dibuat untuk mendapatkan lebih banyak uang dari Kongres AS. Ini adalah metode yang biasa digunakan selama bertahun-tahun dengan tujuan keamanan nasional. Meski sebenarnya tidak ada ancaman aktual dari aviasi Rusia terhadap AS—Rusia hanya memastikan keamanan pada wilayah perbatasannya sehubungan dengan semakin mendekatnya pangkalan NATO ke perbatasan Rusia,” ujar kolonel purnawirawan Angkatan Luar Angkasa Rusia Vladimir Timoshenko kepada RBTH.

Pada awal tahun 2015, Presiden AS Barack Obama memotong anggaran Pentagon dari 636,6 miliar dolar AS menjadi 502 miliar dolar AS. Akibatnya, terjadi pengurangan kelompok taktis aviasi, begitu pula dengan aviasi angkatan laut, dari sembilan menjadi empat dalam penerbangan angkatan laut.

Kubah “Ketidakstabilan”

Namun demikian, ucapan Jenderal Gorenc tidak salah jika membahas sistem pertahanan udara. Pada tahun 2014 di Kaliningrad, di wilayah paling barat Rusia, diluncurkan stasiun radar “Voronezh-DM”, yang mampu memindai hingga 6.000 kilometer secara horizontal dan 8.000 kilometer secara vertikal. Jangkauan ini bahkan dapat dikatakan mendekati ruang angkasa. Dengan begitu, stasiun radar ini mampu mencegah peluncuran roket dari seluruh pangkalan NATO yang terletak tidak hanya di negara-negara bekas Pakta Warsawa, tetapi juga di Jerman.

“Baru-baru ini, kami telah menginvestasikan banyak uang dan tenaga pada angkatan luar angkasa. Kami mulai membangun pesawat yang berkualitas baik, rudal, dan peralatan perang radio-elektronik. Amerika khawatir bahwa Rusia dapat meningkatkan kualitas tekniknya dan tidak diam di tempat. Tentu saja, ini benar,” komentar ahli militer independen Mayor Jenderal Sergei Pechurov. “Namun begitu, jangan mengatakan bahwa Rusia telah mengatasi kesenjangan dalam kemampuan militer.”

Pengendalian Pikiran

Pada pintu masuk menuju Pusat Pengendalian Pertahanan Nasional Federasi Rusia, ada sebuah bola dunia elektronik raksasa yang menampilkan lokasi kelompok kapal induk AS. “Rasio pangkalan militer AS di seluruh dunia tidak sebanding dengan Rusia. Amerika Serikat memiliki lebih dari 500 pangkalan militer, sedangkan Rusia hanya memiliki 7 pangkalan militer. Oleh karena itu, dari segi kuantitatif, pesawat terbang Rusia tidak dapat mengejar Amerika Serikat,” ujar Vladimir Tymoshenko.

Amerika Serikat memiliki pangkalan di 130 negara. Di Eropa sendiri ada 250 pangkalan militer, dan jumlah tentara Amerika Serikat mencapai 250 ribu personil. “Tapi dalam perang modern, keunggulan tidak dapat dinilai dari jumlah teknologi, tetapi dengan kualitas yang menjanjikan. Sebagai contoh, untuk melawan drone musuh tidak perlu membuat mesin tak berawak atau pesawat tempur dengan jumlah yang sama. Hanya cukup membuat meriam yang dapat merebut kendali UAV. Angkatan Bersenjata kini membutuhkan tentara peretas (hacker), tidak hanya marinir biasa. Menteri Pertahanan Sergei Shoigu menciptakan ‘perusahaan riset’ yang akan menjadi pasukan cerdas untuk masa depan Rusia,” kata Vladimir Tymoshenko menyimpulkan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.