Bisakah Paus Fransiskus Bantu Redakan Ketegangan Rusia-Barat?

Reuters
Kunjungan Paus Fransiskus ke Kuba diikuti tur ke Amerika Serikat dan pidato dalam Sidang Umum PBB mungkin akan berpengaruh langsung terhadap perselisihan antara Rusia dan Barat.

Ketika hubungan antara dua pihak yang dinodai rasa saling tak percaya mencapai titik terendahnya dalam beberapa dekade terakhir, jelas diperlukan seorang perantara yang jujur untuk menengahi situasi tersebut. Dalam hal ini, Bapa Paus bisa berperan aktif, meminta pihak-pihak yang berseteru mengubur ceruk penuh kekerasan, ketidakpercayaan, dan rasa dendam.

Mandat sang Paus sebagai pemimpin dunia dengan status khusus dibuktikan dengan fakta bahwa Presiden AS Barack Obama menemui beliau di Markas AU Andrews, padahal presiden AS jarang menyambut tamu kehormatan di bandara.

Sambutan yang diterima Paus kelahiran Argentina tersebut mungkin ditujukan untuk menyenangkan hati komunitas Latin di AS yang terus tumbuh dan memiliki bobot politik yang sangat penting untuk kampanye prapemilu presiden AS, atau karena peran yang dimainkan Paus Fransiskus dalam hubungan internasional lebih asertif.

Hal ini dibuktikan dalam kunjungan sang Paus ke Kuba, negara yang diperebutkan antara rival Perang Dingin yang memicu Krisis Misil pada 1962. Berpidato di hadapan ribuan umat di Havana, Paus Fransiskus mengimbau semua warga Kuba untuk bersatu, tanpa memandang sandaran politik dan kekecewaan masa lalu, mengirim sinyal yang jelas bagi para imigran yang berbasis di Miami.

Menilai dari sambutan sangat ramah yang diterima sang Paus di Kuba, yang pada dasarnya adalah negara ateis dan menganut ideologi komunis, menunjukkan bahwa kesuksesan besar yang diraih Takhta Suci dapat dimanfaatkan dalam kunjungannya ke AS.

Prediksi tersebut didukung oleh Yanes Sever, pendeta dari Society of Jesus yang berbasis di Moskow, yang menyampaikan pada Troika Report:

“Paus Fransiskus selalu mencoba membuka jaringan dan tak menutupnya. Ia membantu mendekatkan kembali hubungan Kuba dan AS. Tentu menarik menyimak pidatonya yang disampaikan di AS. Mereka akan menggelar pemilu tahun depan dan tiap partai ingin Bapa Suci ada di pihaknya. Namun, ia bukan orang yang akan memihak. Paus Fransiskus akan mengikuti arahnya sendiri.”

Sebagai gestur simbolis rekonsiliasi, Paus berjabat tangan dengan Fidel Castro dan melakukan pertemuan informal selama 40 menit dengan sang revolusioner yang mengejutkan belahan bumi Barat dengan merebut kekuatan pada tahun 1959 dan mendirikan pemerintahan komunis di Kuba. Saat mengunjungi ‘Pulau Kebebasan’, julukan yang sering diberikan untuk Kuba, Paus Fransiskus juga menggunakan platform luar biasa tersebut untuk membujuk pemerintah Kolombia dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Marxis-Leninis Kolombia (FARC) untuk menyimpulkan negosiasi mereka, yang sedang digelar di Havana, menandatangani kesepaktan memfasilitasi rehabilitasi gerilya dan mengakhiri konflik terpanjang Amerika Serikat.

Sebelumnya, pada Juni lalu, Paus Fransiskus mengimbau warga Bosnia untuk mempertahankan harmoni hidup berdampingan antaretnis dan antaragama yang masih goyah di negara yang hancur oleh perang 1992-1995 antara Kroasia, Serbia, dan muslim Bosnia. Kesepakatan damai yang menyakitkan, tegas pemimpin umat Katolik dunia, menunjukkan bahwa ‘bahkan luka terdalam dapat disembuhkan dengan membersihkan kenangan dan menanamkan harapan untuk masa depan’.

Pada Juni, ketika sanksi Barat terhadap Rusia diperpanjang, mengguncang perekonomian Rusia, Paus Fransiskus berbincang selama satu jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, mendiskusikan krisis di Ukraina dan menyampaikan bahwa Vatikan tak memihak.

Secara keseluruhan, Paus Fransiskus telah meningkatkan reputasinya sebagai perantara perdamaian dengan otoritas moral yang mendorong pihak yang berseteru untuk berdialog daripada berperang.

Seberapa adil kebijakan luar negeri Takhta Suci dan Paus Fransiskus, yang datang pada saat muncul tantangan besar dalam tatanan dunia? Apakah seasertif kelihatannya?

Pendeta Igor Chabanov, sekretaris Apostolic Nuncio Rusia, berbagi pandangannya mengenai kunjungan Paus ke Kuba pada Troika Report:

“Kunjungan Paus ke Kuba, diikuti oleh kunjungannya ke AS dan pidato dalam Sidang Umum PBB, diperhatikan oleh Rusia dan ada alasan yang bagus untuk itu.”

“Dua tahun lalu Paus Fransiskus mengirim surat untuk Presiden Putin terkait perdamaian dunia, dan Suriah secara khusus. Ia mendorong pemimpin negara-negara adidaya untuk bersatu dan menyingkirkan solusi militer, menyebut hal itu sebagai kewajiban moral pemerintah.”

Mungkin sang Paus menganggap Putin tak hanya sebagai salah satu pemimpin dunia, tapi juga figur prinsip moral, karena di akhir suratnya sang Paus meminta Putin untuk mendoakannya, suatu hal yang tak wajar untuk korespondensi diplomatis.

Dapat dikatakan sang Paus bisa dilihat sebagai perantara yang jujur oleh Rusia. Dan Putin yang membangun kebijakannya dengan nilai-nilai konservatif mungkin akan menjadi rekan alami dalam perselisihan untuk perdamaian.”

Igor Chabanov, ditanya oleh Troika apakah Vatikan dapat memediasi krisis Ukraina, menunjukan bahwa perlu perbaikan hubungan antara gereja Katolik Roma dan gereja Ortodoks Rusia, yang dapat memfasilitasi rekonsiliasi.

Pada akhirnya, pesan Injil dan pribadi Paus Fransiskus beresonansi dengan aspirasi negara yang dilanda perang dan bangsa yang dibebani konflik. Dalam hal ini, Takhta Suci dapat dilihat sebagai mediator kredibel dan kuat dalam resolusi konflik dan kerja sama dengan aktor internasional utama, termasuk Rusia.


 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.