Pakar Rusia: Barat Tidak Memberikan Timur Tengah Kesempatan Hidup Damai

AFP/East News
“Kita harus membasmi terorisme, bukan hanya ISIS.” Presiden Suriah Bashar Al-Assad mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara bersama Rossiyskaya Gazeta dan media Rusia lainnya. Menurutnya, Barat menganggap terorisme sebagai “kartu trump” yang dapat sewaktu-waktu dikeluarkan.

Kita dapat melihat bahwa kebijakan untuk membuat koalisi internasional demi melawan ISIS tidak hanya gagal membawa hasil yang nyata, tapi justru sebaliknya berkontribusi pada memburuknya situasi di Suriah. Saat audiensi Kongres AS, juru bicara Pentagon mengakui bahwa program pelatihan militer melawan oposisi Suriah gagal sepenuhnya. Seperti yang dinyatakan Bashar Al-Assad dalam wawancara, jika negara-negara Barat mengubah kebijaksanaan mereka, mereka harus memperhitungkan bahwa terorisme itu seperti kalajengking, jika dimasukkan ke dalam saku, ia pasti menggigit.

Lantas, akankah Presiden Assad bersekutu dengan Barat dalam memerangi ancaman teroris, setelah pasukan dari lebih 80 negara di seluruh dunia bertempur di Suriah? Akankah dialog antara partai politik diatur untuk mencapai penyelesaian masalah di dalam Suriah? Kami meminta para ahli dari Rossiyskaya Gazeta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Fyodor Lukyanov, Ketua Presidium Dewan Negeri dan Pertahanan Politik

Situasi di Suriah, di satu sisi benar-benar membingungkan. Di sisi lain, sebenarnya sangat sederhana. Sudut pandang kedua dipegang oleh Presiden Suriah Bashar Al-Assad pada wawancara bersama Rossiyskaya Gazeta dan media Rusia lainnya. Satu-satunya posisi yang dapat diterima adalah munculnya konflik dengan teroris sebagai musuh bersama dan kemudian, setelah kemenangan, dapat diketahui bagaimana membangun hubungan di dalam masyarakat Suriah dengan tetangga dan mitra-mitranya. Kini, pemerintah sedang berjuang. Hanya itu saja yang memiliki arti, sedangkan yang lain harus masuk ke rencana kedua. Terutama tidak pantas untuk tawar menawar kondisi, hak, dan kekuasaan.

Sebagai posisi publik, ini cukup jelas dan mungkin tidak ada hal lain lagi. Namun, apakah posisi tersebut bisa menjadi kebijakan politik yang nyata menjadi sesuatu yang dipertanyakan.

Damaskus kini berhadapan dengan tugas yang sangat sulit. Menyingkirkan ISIS yang mengancam negara dengan kerusakan fisik, atau—mari kita bersikap realistis—untuk menghentikannya, Suriah tidak bisa membiarkan ISIS memperluas zona kendali. Namun, pada saat yang sama, Suriah harus mengonsolidasikan masyarakat dan wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah, terutama mayoritas penduduk berada di wilayah ini.

Kemungkinan besar, Suriah yang diwariskan Hafez Assad kepada anaknya sudah tidak ada dan tak akan pernah ada lagi. Timur Tengah telah memasuki masa transformasi yang cepat. Peta politiknya tak tersisa seperti yang telah tersusun sejak abad XX. Ini berarti bahwa pemimpin yang bertanggung jawab harus mempertimbangkan berbagai pilihan, termasuk kemungkinan konfigurasi negara dan model pemerintahaan yang berbeda.

Pengalaman demokrasi Timur Tengah justru menghancurkan, tapi untuk dapat kembali ke sistem otoriter lama adalah sesuatu yang mustahil. Dunia saat ini harus menyelesaikan satu masalah, terlepas dari formasi sosial politik negara, yaitu bagaimana menggabungkan lembaga dengan kepemimpinan pribadi yang kuat. Kedua komponen itu saling membutuhkan satu sama lain dan harus dilakukan tanpa mengulur-ulur, tetapi ini tetap sulit mendapatkan keseimbangan.

Konstantin Kosachev, Kepala Komite Dewan Federasi Urusan Internasional

Negara-negara Barat yang mempertanyakan legitimasi rezim Assad dan yang berani bertaruh pada pemindahan kekuasaan—jika tidak implisit—setidaknya secara diam-diam menganggap militan ISIS seperti komplotan mereka sendiri dalam masalah penggulingan pemimpin Suriah. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya karena Barat melihat ISIS sebagai “asistennya”. Namun, ISIS bertindak sesuai skenarionya sendiri, dan skenario itu diluar kendali pihak mana pun, termasuk orang-orang yang mendirikan organisasi ini dan mereka  yang mendukung kegiatan ISIS.

Jika tren ini terus berlanjut, tentu hal ini tidak terbatas pada nasib rezim Bashar Al-Assad saja. Fokus masalah ini ada pada efek domino yang akan meliputi negara-negara lain di kawasan dan pada akhirnya masuk ke Eropa, Rusia, dan Amerika Serikat. Dengan jenis tren seperti ini, kami berjuang, termasuk menjaga semua cara yang sah pada operasi di Suriah.

Vladimir Isaev, profesor Fakutas Institut Negeri-negeri Asia Afrika Universitas Negeri Moskow, ahli ilmu ketimuran

Dilihat dari ucapan Presiden Suriah Bashar Al-Assad dalam wawancara, Suriah akan melanjutkan memberantas ISIS dan kelompok teroris lain yang berperang melawan Damaskus. Perlu dicatat bahwa Presiden Suriah menguraikan kemungkinan negosiasi dengan opisisi moderat dan menekankan peran KTT Moskow, yang dalam hal ini akan diadakan setiap tahun, pertemuan oposisi Suriah di ibu kota Rusia yang disebut dengan Moskow-2, lalu Moskow-3 yang kini sedang dalam tahap perencanaan.

Tentu saja, di Barat, ada pandangan luas jika Assad turun maka semua akan kembali membaik, akan ada perdamaian setelah lebih dari empat tahun perang saudara. Namun, saya percaya bahwa pengunduran diri presiden saat ini tidak akan menyebabkan perubahan tersebut. Keluar dari perang sipil pada umumnya jauh lebih kompleks daripada yang tampak dari luar. Dalam hal ini, saya perhatikan bahwa penyelesaian Suriah ada dua pendekatan: Amerika dan Rusia. Pendekatan Amerika sederhana: masalah berada di Assad dan saat ia turun dari jabatannya, semua kelompok oposisi yang bertikai akan segera bersatu dan melawan kelompok teroris ISIS, Jabhat Al-Nusra dan sejenisnya.

Pendekatan Rusia berbeda. Moskow menawarkan untuk membangun koalisi untuk melawan kelompok radikal, mengumpulkan koalisi tersebut dari semua negara yang mempunyai hubungan dengan konflik di Suriah, yaitu Arab Saudi, Turki, Yordania, dan sebagainya. Setelah itu, biarkan Suriah menyelenggarakan proses demokrasi yang luas, seperti pemilu atau referendum. Kemudian rakyat Suriah sendiri yang akan memutuskan siapa yang harus memimpin negeri mereka lebih lanjut. Tampaknya, pendekatan Rusia jauh lebih realistis dibandingkan pendekatan yang ditawarkan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya.

Perlu dicatat juga bahwa penurunan Assad saat ini justru akan menimbulkan masalah besar, tidak hanya untuk Suriah, tapi juga untuk seluruh dunia. Lihatlah siapa yang menentang ISIS saat ini? Pada jajaran terdepan terdapat pasukan tentara Suriah dan unit Kurdi yang dikenal sebagai “Peshmerga”. Pasukan Suriah berperang dikarenakan oleh Assad, para tentara mengikutinya ke dalam pertempuran. Jika Suriah kehilangan presiden saat ini, akan menyebabkan demoralisasi tentara dan akibatnya terjadi peningkatan tekanan dari pihak militan yang dengan cepat dapat menembus negara tetangga, seperti Yordania dan Lebanon.

Berkenaan dengan peran yang dapat dimainkan wawancara dengan Assad kepada media Rusia, kita tidak bisa mengharapkan bahwa ini akan mempengaruhi keputusan politisi Barat. Tetapi wawancara ini dapat menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa ada sudut pandang yang berbeda yang disebarkan oleh Barat.

Oleg Peresypkin, Direktur Pusat Studi Timur, Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri Rusia

Permasalahan terkait penurunan Bashar Al-Assad sebagai presiden harus diselesaikan oleh rakyat Suriah sendiri. Jika oposisi Suriah tak setuju, mereka tidak boleh mengeluh kepada pemerintah negara lain, melainkan tetap bepartisipasi dalam pemilihan di Suriah. Namun, jika mereka didukung, itu artinya mereka benar. Jika tidak, itu artinya tuntutan mereka tidak didukung oleh masyarakat. Pada saat yang sama perlu dicatat bahwa Assad dalam wawancara dengan media Rusia hanya menunjukkan perjuangan tanpa kompromi dengan para teroris ISIS dan organisasi yang tidak berasal dari Suriah. Adapun oposisi, bahkan persenjataan, selama beberapa tahun terakhir, Damaskus menawarkan untuk ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan damai dengan mereka.

Terkait arus pengungsi ke Eropa, Assad mengatakan dalam wawancara bahwa "Barat bersimpati kepada pengungsi, tetapi di saat yang sama mereka mendukung kegiatan teroris sejak awal krisis." Dan orang-orang yang melarikan diri dari perang, akan kembali setelah tercipta perdamaian. Tetapi masalahnya adalah Barat tidak memberikan Timur Tengah kesempatan untuk hidup damai.

Pertama kali dipublikasikan di Rossiyskaya Gazeta.

 
 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.