Krisis Suriah, Akankah Moskow Kirim Tentara untuk Perangi ISIS?

Seorang tentara bersenjata di sebuah pos pemeriksaan di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah.

Seorang tentara bersenjata di sebuah pos pemeriksaan di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah.

Mikhail Pochuyev / TASS
Spekulasi yang merebak terkait tuduhan kehadiran pasukan Rusia di Suriah kini membuat isu memerangi ekspansi ISIS menjadi agenda politik utama. Dalam beberapa minggu ke depan, beragam metode untuk memerangi kelompok militan radikal akan didiskusikan dalam Sidang Umum PBB dan Konferensi G20 di Antalya.

Perpecahan antara Rusia dan Iran di satu sisi dan AS dan sekutunya, sebut saja monarki Teluk, di sisi lain, masih sama parahnya seperti awal perang sipil di Suriah, yang kini sudah berlangsung empat tahun. Hal yang menjadi batu sandungan adalah perdebatan apakah rezim Assad harus digulingkan atau diajak bekerja sama untuk memerangi ISIS.

Moskow telah mematok strategi untuk meyakinkan AS dan sekutunya bahwa untuk saat ini Assad dan tentaranya adalah pihak yang paling efektif memerangi kelompok teroris tersebut. Logika bahwa koalisi anti-ISIS yang luas, termasuk melibatkan rezim Assad, akan mempermudah kemenangan pasukan anti-ISIS.

Untuk memfasilitasi pertempuran tersebut, strategi diplomasi Rusia berusaha merangkul semua pemangku kepentingan. Kecuali Presiden AS Barack Obama, Moskow telah bicara dengan semua pemimpin negara yang berkepentingan, yakni Turki, Mesir, Yordania, dan Arab Saudi. Berdasarkan sumber Moskow, hasil diskusi tersebut menelurkan progres yang cukup berarti.

Sebagai contoh, kini pihak-pihak yang berkepentingan sudah paham bahwa, seperti yang disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin, “Perang melawan terorisme harus dilakukan bersamaan dengan proses politik di Suriah.” Rezim di Damaskus sepertinya sedang mencoba memenuhi keinginan pemain regional lain. Assad siap menggelar pemilu parlemen lebih awal, melibatkan oposisi moderat dalam dialog, serta menawarkan pos pemerintah bagi mereka.

Namun, hal ini mungkin tak cukup menciptakan terobosan dalam proses politik penyelesaian konflik, karena pertempuan intensif masih berlangsung di ibukota Suriah, dan kejayaan Assad tinggal menghitung hari. Namun sesungguhnya, harapan yang sama telah dipupuk oleh oposisi sejak empat tahun lalu, dan semakin kuat pada musim semi lalu.

Spekulasi mengenai keterlibatan Moskow dalam konflik Suriah secara militer menarik perhatian semua pihak. Namun, apakah hal itu mungkin terjadi?

Grigory Kosach, pakar politik dunia Arab dan profesor di Russian State University for the Humanities, menyampaikan pada Troika Report:

“Asumsi bahwa Rusia akan segera terlibat dalam konfrontasi dengan ISIS sungguh tak realistis. Secara praktis, saya tak melihat bagaimana personel militer Rusia yang ditempatkan di Suriah dapat bertempur dengan ISIS karena mereka dihambat oleh zona pemisah yang luas, di mana para kelompok militan bertempur satu sama lain. Bagaimana mereka menetapkan target ISIS? Tentu, butuh banyak persiapan untuk memutuskan terlibat dalam konflik tersebut secara militer suatu hari kelak.”

“Patut dicatat bahwa saat ini, seperti yang disampaikan banyak pihak, Moskow fokus menyokong Bashar al-Assad, yang mungkin dalam skenario terburuk dapat mencari perlindungan di pegunungan Latakia atau Alawi.”

— Apakah mungkin AS menyesuaikan posisi terkait krisis Suriah, misalnya nasib Bashar al-Assad?

“Posisi AS tak dipahat di atas batu, itu bisa berubah kapan saja. Lagi pula, AS sudah mengakui bahwa penting untuk mempertahankan struktur pemerintah (di Suriah), artinya tentara dan lembaga keamanan Suriah tak bisa dibubarkan. Hal itu merupakan pelajaran yang dipetik AS dari Irak, karena ketika lembaga pemerintah dibubarkan, ISIS akan dengan mudah melebarkan sayap.”

“Jadi, apa saja bisa terjadi, meski saya tak memprediksi AS akan menerima Assad, khususnya karena tekanan dari negara-negara Teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang menginginkan turunnya presiden Suriah saat ini. Tapi, bahkan Arab Saudi tak ingin institusi di Suriah bubar, karena itu akan memperparah kekacauan.”

Banyaknya diskusi diplomatik dan pernyataan yang dikeluarkan merupakan bukti bahwa proses sedang berjalan. Para aktor utama tengah menimbang kemungkinan solusi terbaik sesuai kepentingan mereka dalam menyelesaikan dua krisis besar: perang saudara di Suriah dan ekspansi ISIS, yang kini merupakan tujuan utama bagi negara-negara di seluruh dunia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More