AS Beri Sanksi Tambahan, Masa Depan Rusia-AS Dipertanyakan

MI-28N, Helikopter “Pemburu Malam” buatan Rusia di aula pameran Rosvertol Co.

MI-28N, Helikopter “Pemburu Malam” buatan Rusia di aula pameran Rosvertol Co.

Sergey Venyavsky/RIA Novosti
Pada Rabu (2/9) minggu lalu, Amerika Serikat mengumumkan perpanjangan daftar sanksi terhadap Rusia, menghubungkan hal tersebut dengan situasi di Krimea dan konflik di Ukraina timur. Daftar sanksi bertambah panjang dengan kehadiran lima perusahaan baru yang dianggap melanggar undang-undang AS terkait nonproliferasi senjata penghancur masal di negara dunia ketiga.

AS kembali memperluas sanksi terhadap Rusia, kali ini bukan hanya karena krisis di Ukraina, tapi juga dikaitkan dengan isu nonproliferasi senjata penghancur massal.

Secara khusus, tuduhan transfer teknologi misil untuk Iran, Suriah, dan Korea Utara tiba-tiba menghantam perwakilan industri pertahanan Rusia, manufaktur misil dan pesawat utama di Rusia. Pengamat mempertanyakan mengapa perusahaan-perusahaan tersebut baru dimasukkan ke dalam daftar sanksi sekarang, karena sesungguhnya mereka sudah lama dituduh melanggar rezim nonproliferasi.

“Sanksi baru bagi perusahaan Rusia merupakan kelanjutan dari strategi AS untuk memperkeruh hubungan dengan negara kita,” kata anggota Komite Pertahanan Majelis Rendah Perwakilan Rusia (Duma) Frants Klintsevich (Partai Rusia Bersatu) pada kantor berita Rossiya Segodnya.

“Alasan pemberian sanksi dengan menghubungkan perusahaan-perusahaan tersebut dengan Iran, Korea Utara, dan Suriah terlalu dibuat-buat.”

Bukan Kebijakan Anti-Rusia

Menurut Departemen Perdagangan AS, individu dan entitas legal Rusia baru dimasukkan ke dalam daftar sanksi karena informasi mengenai mereka baru muncul sekarang Namun, sejumlah pakar melihat perluasan sanksi sebagai bagian dari kebijakan anti-Rusia AS.

 

“Ada setidaknya dua alasan untuk menjelaskan langkah tersebut” kata Igor Istomin, dosen senior Analisis Terapan Masalah Internasional di Institut Hubungan Internasional Moskow, dalam pidatonya di Kementerian Luar Negeri Rusia.

“Pertama, Uni Eropa baru memperpanjang sanksi terhadap Rusia. Langkah serupa yang dilakukan Washington bisa dilihat sebagai wujud dukungan bagi sekutu. Kedua, terkait skandal mengenai visa untuk juru bicara Dewan Federasi Rusia Valentina Matviyenko, hal itu dilakukan ini dibuat untuk memperparah konfrontasi antara Rusia dan AS.”

Namun, profesor Ilmu Politik di Universitas Arizona, Thomas Volgy, memiliki pendapat berbeda.

“Aksi yang dilakukan AS merupakan kelanjutan dari kebijakan sanksi AS dan Uni Eropa terhadap Rusia, yang terus melanjutkan kegiatannya di Ukraina. Hal itu tak bisa dianggap sebagai kebijakan anti-Rusia baru.”

Apakah Rusia Ancaman Terbesar AS?

Volgy tak sepakat Rusia disandingkan dengan ISIS dan virus Ebola dalam konteks ancaman eksternal yang bisa mengganggu stabilitas AS.

“Terdapat sejumlah ancaman signifikan terhadap keamanan AS, termasuk organisasi teroris internasional seperti Al-Qaeda dan ISIS, serta sejumlah negara terutama Iran dan Korea Utara,” kata Volgy.

 

“Rusia, yang masuk daftar karena aksinya di Ukraina dan kegiatannya di perbatasan NATO di Eropa, faktanya bukan ancaman terbesar AS.”

“Aspek paling menyedihkan dalam situasi ini adalah penggunaan kata-kata yang berlebihan terhadap Rusia oleh pemerintahan Obama serta penggambaran Presiden Putin yang tak sesuai di media Amerika,” kata David Speedie, Direktur Program Keterlibatan Global AS dalam Program Dewan Carnegie pada RBTH.

“Retorika anti-Rusia saat ini sesungguhnya lebih buruk bahkan dibanding pada masa terburuk Perang Dingin,” kata Speedie.

Berharap untuk Hubungan yang Lebih Baik

Menjawab pertanyaan apakah ada harapan untuk memperbaiki hubungan Rusia-Amerika dalam waktu dekat, Volgy menjawab dengan optimis. “Tentu! Di luar beberapa perbedaan, kerja sama antara Rusia dan AS berlanjut. Keberhasilan untuk bernegosiasi terkait program nuklir Iran contohnya,” kata Volgy.

“Saya berharap akan ada beberapa perbaikan hubungan bilateral dalam waktu dekat,” kata Speedie.

“Untuk itu, Rusia dan AS hanya perlu melakukan langkah sederhana: dialog di tingkat tinggi harus dilanjutkan—mengenai latihan militer di wilayah Laut Baltik dan Laut Hitam, serta tentang Ukraina, dan Kesepakatan Minsk harus ditinjau serta diperkuat.”

“Kita tak boleh meremehkan parahnya krisis hubungan Moskow dan Washington—ya, kedua pihak menggunakan retorika yang sangat keras dan mencoba untuk saling menjegal satu sama lain, namun pada isu yang menjadi kepentingan bersama, mereka bisa bernegosiasi. Hal ini tergambar dalam isu Iran, Suriah, dan banyak lainnya. Jadi, kita tak berada dalam tahap konfrontrasi besar-besaran,” kata Istomin.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.