Strategi AL Rusia Versus Strategi Militer AS: Deklarasi dan Rencana

Amandemen doktrin militer Rusia yang diadopsi pada Desember 2014 tak membuat dokumen itu lebih agresif.

Amandemen doktrin militer Rusia yang diadopsi pada Desember 2014 tak membuat dokumen itu lebih agresif.

RIA Novosti
Pada akhir Juli lalu, markas Angkatan Laut Rusia yang paling barat, Baltiysk, mengumumkan amandemen dan tambahan bagi doktrin AL Rusia. Berita tersebut dilaporkan saat Moskow berada di tahap akhir dalam pengembangan strategi melawan NATO. Russia Direct akan menganalisis doktrin militer manakah yang lebih secara jelas menunjuk siapa “musuh” sebenarnya bagi masing-masing negara.

Situasi Politik Global

Pada 2001, sepuluh tahun setelah jatuhnya Uni Soviet, sistem dunia yang dipimpin AS—yang terlihat stabil—terbentuk. Secara alamiah, sistem tersebut berisi beberapa negara yang bermasalah, seperti Afganistan, Libya, Irak, Iran, dan Korea Utara, serta pemimpin regional seperti Tiongkok, India, Rusia (dengan beberapa tunjangan khusus), dan Brasil.

Peristiwa pada dekade pertama abad ke-21 mengekspos kerapuhan sistem ini. Saat ini, sangat sulit bicara mengenai integritas wilayah di negara yang dilanda perang, seperti Libya dan Afganistan, sementara Irak dan Suriah menghadapi tantangan berat dengan hadirnya ISIS, yang belum “dicengkeram” oleh NATO.

Belakangan, peristiwa di Ukraina pada 2014 mengacaukan hubungan Rusia dan NATO, Moskow berubah dari mitra strategis aliansi tersebut menjadi musuh besar. Washington kemudian menganggap Rusia sebagai ancaman utama saat ini.

Pada Juli lalu, Jenderal Mark Milley dari angkatan bersenjata AS, dalam laporan yang diserahkan pada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, menempatkan Rusia di posisi teratas dalam daftar musuh potensial, menyatakan bahwa Rusia adalah satu-satunya negara dengan kapabilitas nuklir yang mampu menghancurkan AS. Pandangan ini juga disetujui oleh Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Joe Dunford, yang menganggap Rusia sebagai ancaman nomor satu bagi AS.

Doktrin Militer Rusia

Pernyataan bahwa Moskow mungkin akan memicu perang nuklir terbilang aneh. Doktrin Militer Rusia yang disahkan pada 2010 dan terkait erat dengan doktrin angkatan laut, cenderung damai dan selalu bersifat defensif. Meski doktrin tersebut fokus pada ekspansi NATO dan upaya untuk ‘mengesahkan potensi kekuatan NATO dalam fungsi global’, dokumen tersebut tak menyebutkan siapa musuh Rusia selain terkait terorisme internasional. Selain itu, doktrin tersebut juga menegaskan kerja sama dalam misi menjaga perdamaian bersama NATO, serta menyebutkan kebijakan militer Rusia yang bertujuan mencegah kompetisi senjata dan menghindari konflik militer.

Namun, pasal 22 dalam dokumen tersebut memicu diskusi publik, yang mengizinkan Rusia menggunakan senjata nuklir untuk aksi preventif. Banyak pakar mengkritik kebijakan Moskow yang dianggap sangat agresif. Dalam dokumen tersebut, terdapat klausa yang menyebutkan bahwa Rusia dapat menggunakan senjata nuklir jika terjadi agresi terhadap Rusia, termasuk penggunaan senjata konvensional yang menciptakan ancaman bagi keberlangsungan negara tersebut.

Amandemen doktrin militer Rusia yang diadopsi pada Desember 2014 tak membuat dokumen itu lebih agresif. Mereka hanya memaparkan proses geopolitik saat ini, menyebutkan pengunaan teknologi informasi dalam lingkup militer-politik, serta meningkatnya ancaman dari terorisme internasional. Selain itu, doktrin tersebut juga dilengkapi dengan sebuah tesis mengenai perubahan rezim, yakni penggantian pemerintah resmi di negara-negara tetangga Rusia sebagai ancaman tersendiri.

Doktrin tersebut juga memaparkan mekanisme untuk menempatkan pasukan, dan menggarisbawahi prospek pengembangan angkatan bersenjata, namun tak menyinggung negara manapun sebagai musuh.

Doktrin Militer AS

Berlawanan dengan doktrin militer Rusia, Strategi Keamanan Nasional AS jauh lebih global, dan merepresentasikan bukan hanya rencana aksi, tapi juga deklarasi politik. Pembukaan yang panjang menyorot pencapaian pemerintah AS saat ini dalam menciptakan perdamaian, serta menunjuk potensi ancaman, termasuk perubahan iklim dan kekacauan dalam pasar energi utama.

Kemudian, sebuah paragraf didedikasikan untuk menjabarkan peran AS yang memimpin politik dunia dan mustahil menyelesaikan isu global tanpa melibatkan AS. Rusia disebut dalam konteks melanggar kedaulatan wilayah Ukraina dan dideskripsikan sebagai agresor. Strategi Gedung Putih juga memberi perhatian khusus pada propaganda Rusia yang bermaksud mengingkari ‘kebenaran yang sesungguhnya’.

Meski Rusia dibahas dalam beberapa kolom, sulit dikatakan Washington menganggap Moskow sebagai musuh utamanya. Sebaliknya, pemerintah Obama menyorot kontradiksi segitiga dasar: Krimea, Donbass, dan ketergantungan energi.

Jelas dari strategi tersebut Barack Obama hendak meyakinkan masyarakat Amerika bahwa pemerintahannya telah mencapai tujuannya dalam bidang keamanan.

Namun, sebagai mekanisme khusus untuk mengatasi ancaman saat ini, dokumen tersebut tak terlalu jelas. Sepertinya pemerintah AS selanjutnya, yang akan mengambil alih kursi kepresidenan pada 2016, akan membuat penyesuaian yang signifikan atas strategi tersebut.

Versi lengkap artikel ini dapat di baca di situs Russia Direct.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.