AS dan Rusia Sepakat Dukung Investigasi Penggunaan Senjata Kimia oleh ISIS

Getty Images
Resolusi Dewan Keamanan PBB yang diloloskan minggu ini, yakni terkait investigasi penggunaan klorin dan senjata kimia lain dalam serangan di Suriah, merupakan contoh langka kerja sama Rusia dan AS yang positif. Meski terdapat perbedaan pandangan mengenai penyebab perang sipil dan Suriah dan strategi untuk mengakhiri konflik, kedua negara sepakat bahwa penggunaan dan penyebarluasan senjata penghancur massal tak bisa diterima.

Sebagai catatan, resolusi tersebut didukung dengan bulat oleh 15 anggota Dewan Keamanan, dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia kini sudah menginisiasi proses investigasi.

Juru bicara pasukan paramiliter Irak Kurdi melaporkan kulit korban serangan ISIS ‘melepuh’ seperti gejala terpapar gas mustard. Laporan Kurdi menyebutkan ISIS menembakkan 45 mortar dengan hulu ledak kimia.

Pejabat Washington punya alasan untuk gelisah. Senator Iowa Joni Ernst menyampaikan kekhawatirannya jika senjata kimia digunakan tak hanya terhadap unit Peshmerga Irak Kurdi tapi juga bagi pejabat dan tentara Amerika yang bertugas sebagai instruktur militer bagi pasukan pemerintah Irak.

Pada 2004, pemberontak Sunni di Irak, dengan kondisi putus asa karena dicabut dari posisi dominan yang mereka nikmati di bawah pemerintahan Saddam Hussein, meluncurkan serangan terhadap pasukan AS, secara berkala menggunakan peluru artileri yang berisi gas mustard.

Seorang pejabat AS menyampaikan pada Fox News bahwa gas mustard yang digunakan untuk menyerang Kurdi adalah ‘produksi rumahan’ dan bukan berasal dari Suriah. Baru-baru ini, pakar menyebutkan ISIS mungkin memiliki sekitar 200 ton gas mustard di gudang senjatanya.

Investigasi akan membongkar kebenaran, seperti pada 2013. Berdasarkan laporan akhir Misi PBB yang menginvestigasi tuduhan penggunaan senjata kimia di Suriah, bertanggal 13 Desember 2013, serangan yang dilakukan pada 19 Maret, 24 Agustus, dan 25 Agustus tahun itu terhadap tentara pemerintah Suriah mengindikasikan pemberontak memiliki sarin baik sebelum maupun segera sesudah serangan senjata kimia di Ghouta pada 21 Agustus 2013.

Pakar Rusia juga melakukan analisis dan menyimpulkan bahwa serangan di dekat Aleppo pada 19 Maret menggunakan gas sarin ‘produksi rumahan’.

Kali ini, Rusia mendukung investigasi komprehensif yang dipayungi oleh PBB sementara bekerja sama untuk menyusun resolusi tersebut dengan AS.

Apakah hal ini dapat diintepretasikan sebagai gejala positif membaiknya hubungan diplomatik Moskow dan Washington? Sergei Oznobishev, Direktur Institute of Strategic Assessment, sebuah lembaga penelitian berbasis di Moskow, menyampaikan pada Troika Report:

“Di luar krisis Ukraina dan buruknya hubungan kedua negara, Rusia selalu menyebutkan bahwa ia siap membina kerja sama untuk menghadapi ancaman dan tantangan. Sebelum krisis saat ini, contoh kerja sama kami ialah penghancuran senjata kimia Suriah. Moskow berulang kali menegaskan bahwa mereka menentang penyebaran senjata penghancur massal.”

“Kerja sama dengan AS terkait berkas senjata kimia dapat membantu memperbaiki hubungan bilateral yang saat ini sungguh buruk.”

Jika serangan kimia oleh milisi ISIS sudah dikonfirmasi, hal tersebut mungkin dapat mendorong pemerintahan Obama untuk terlibat lebih aktif dalam memerangi ekstremis anti-Barat, memperkirakan keadaan untuk melakukan serangan darat. Namun, AS akan berada di posisi ambigu karena tak mau beraliansi dengan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang hendak mereka jatuhkan selama bertahun-tahun.

Kemungkinan, tentara Amerika akan melawan ISIS dan pasukan Assad secara terpisah. Hal tersebut akan melanggar hak Iran setelah kesepakatan mengenai program nuklir mereka dan memperburuk hubungan dengan Rusia yang sudah tegang karena situasi di Ukraina.

Dapat dikatakan, selama AS masih sibuk mengatasi ISIS, nasib pemimpin Suriah akan dikesampingkan, menunggu hasil perang melawan musuh bersama AS dan Rusia. Dan saat itu, manuver diplomatik yang sedang berlangsung mungkin telah menghasilkan solusi untuk melindungi muka semua pihak yang berkepentingan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.