Akankah BRICS Bersatu untuk Mengeksplorasi Luar Angkasa?

Rusia kini mencari pengganti Ukraina untuk memulai proyek dengan Brasil dalam merancang kendaraan luar angkasa, Cyclone-4.

Rusia kini mencari pengganti Ukraina untuk memulai proyek dengan Brasil dalam merancang kendaraan luar angkasa, Cyclone-4.

Alexei Druzhinin/TASS
Dalam Konferensi BRICS di UFA, Rusia pada Juli lalu, pemimpin negara-negara anggota BRICS sepakat untuk “terlibat aktif dalam aplikasi gabungan teknologi luar angkasa, navigasi satelit, termasuk GLONASS dan BeiDou, serta pencapaian terbaru dalam ilmu antariksa”. RBTH mencari tahu latar belakang keputusan tersebut dan bagaimana prospek kerja sama di masa mendatang.

Luar Angkasa untuk Tujuan Ekonomi dan Pertahanan

Sebagian besar pakar merasa potensi kerja sama antariksa antara lima negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) cenderung suram. Kelima negara tersebut berbeda secara ekonomi dan sosial, dan jika kita melihat awal dari perkembangan ekplorasi antariksa lebih dari 50 tahun lalu, pada waktu itu setiap tahun kita melihat terobosan besar.

Namun kini, situasi lebih rumit, teknologi lebih mahal, dan perlu waktu lebih banyak untuk membuat terobosan baru. Hal tersebut disampaikan oleh Ivan Moiseyev, Direktur Ilmiah di Moscow Space Club. Sebagai contoh, satelit Rosetta Eropa dan satelit antarplanet New Horizons milik NASA membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk mencapai target mereka.

Menurut Moiseyev, penerbangan berawak, eksplorasi planet, dan teleskop antariksa tak menghasilkan keuntungan ekonomi. Motivasi utama di balik proyek tersebut adalah ketertarikan ilmiah dalam studi semesta. Sehingga, kerja sama BRICS sangat ditentukan oleh kebutuhan komersil.

“Di masa mendatang, mitra dalam blok ini akan mengembangkan proyek dalam bidang astronautika terapan, yakni penggunaan satelit untuk kebutuhan ekonomi dan pertahanan,” terang Moiseyev.

Stasiun Luar Angkasa BRICS: Utopia atau Realistis?

“Jika BRICS ingin membuat terobosan dalam sektor antariksa, mereka membutuhkan proyek serius dan signifikan. Namun, pembuatan stasiun luar angkasa internasional adalah hal yang tak mungkin,” kata Moiseyev.

Moiseyev menyebutkan bahwa hingga 2025, Rusia akan fokus pada Stasiun Luar Angkasa Internasional, dan Tiongkok berencana mengembangkan stasiun luar angkasa kecil sendiri pada 2024. “Pendirian stasiun luar angkasa lain sungguh tak mungkin karena membutuhkan dana yang sangat besar,” kata Moiseyev. “Selain itu, karena kekhususan geografis, stasiun gabungan tak nyaman bagi Tiongkok dan Rusia.”

Proyek lain mungkin lebih menjanjikan. Sebagai contoh, Rusia kini mencari pengganti Ukraina untuk memulai proyek dengan Brasil dalam merancang kendaraan luar angkasa, Cyclone-4. Rencananya, roket ini akan meluncurkan satelit ke orbit dengan ketinggian rendah dan menengah di sekeliling Bumi. Ukraina telah berjanji untuk membangun kendaraan peluncur dan area peluncuran, dan peluncuran pertama seharusnya dilakukan pada 2006. Namun, roket tersebut tak pernah terealisasi. Tahun ini, pemerintah Brazil menyebutkan mereka mengakhiri keterlibatan mereka dalam proyek ini.

Pada akhir Juli, Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin menawarkan beberapa pilihan kerja sama dengan Brasil. “Kami telah memiliki beberapa stasiun GLONASS di Brazil dan kami memiliki ide untuk membantu Brazil mengembangkan situs peluncuran,” kata Rogozin.

Proyek Gabungan, Sukseskah?

Menurut pakar, program Tiongkok-Brasil untuk mengembangkan dan meluncurkan satelit merupakan program yang paling sukses di antara negara-negara BRICS. Pada pertengahan Juli, sebuah satelit untuk mempelajari sumber daya alam Bumi diluncurkan, dan kesuksesan tersebut tercapai berkat kerja sama Institut Teknologi Antariksa Tiongkok dan Institut Teknologi Antariksa Brasil.

Program gabungan lain belum terlalu sukses. Sebagai contoh, kerja sama antara Rusia dan Tiongkok dinodai oleh kegagalan mengirim pesawat antariksa kecil Tiongkok ke Mars. Pada 2013, kerja sama gabungan eksplorasi bulan Rusia-India, Chandrayaan-2, dihentikan karena pemerintah India memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Kerja sama terkadang sulit karena Rusia dan Tiongkok saling bersaing untuk mengembangkan layanan peluncuran pesawat antariksa. ”Bagi Rusia, negara-negara berkembang merupakan pasar yang sangat menjanjikan, dan Tiongkok juga sangat aktif di sana,” kata Moiseyev.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.