Taliban dan Afghanistan Mulai Tergerak Bernegosiasi

Seorang Polisi Nasional Afghanistan sedang menjaga keamanan selama berlangsungnya protes terhadap kurangnya upaya pemerintah mencari sekelompok orang dari kelompok minoritas masyarakat Afghanistan Hazara Syiah yang diculik pada bulan Februari lalu, di Kabul, Afghanistan. Foto diambil pada bulan April 2015. Foto: AP

Seorang Polisi Nasional Afghanistan sedang menjaga keamanan selama berlangsungnya protes terhadap kurangnya upaya pemerintah mencari sekelompok orang dari kelompok minoritas masyarakat Afghanistan Hazara Syiah yang diculik pada bulan Februari lalu, di Kabul, Afghanistan. Foto diambil pada bulan April 2015. Foto: AP

Dibukanya pembicaraan resmi yang melibatkan presiden Afghanistan dan Taliban merupakan hal yang sangat luar biasa. Namun, jika kita melihat lebih dekat, ada motif tersembunyi di balik itu semua. Apakah ini merupakan bukti kekalahan Taliban atau kegagalan Kabul? Apa bedanya? Russia Direct berusaha menganalisis dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Meningkatnya gerak-gerik ISIS memaksa semua pihak yang berseteru di Afghanistan mulai memikirkan kembali taktik dan strategi mereka. Mereka kini bisa lebih mudah mencapai kesepakatan, namun hal itu belum tentu efektif untuk menghadapi ancaman ISIS. Pertempuran rumit melawan para radikal tak hanya butuh intervensi dari pemimpin, tapi juga kerja sama dengan sejumlah negara-negara yang berpengaruh.

Letak Afghanistan yang dekat dengan republik pasca-Soviet di Asia Tengah dan perbatasan Rusia membuat Moskow tak bisa berdiam diri saat negara tersebut mulai digerogoti ISIS.

Kabar dari Kabul

Pengiriman delegasi ke Pakistan untuk memulai pembicaraan dengan Taliban diumumkan pada awal Juli oleh Ashraf Ghani. Pengumuman tersebut memicu sejumlah pertanyaan: Mengapa di Pakistan? Mengapa harus sekarang? Apakah ini merupakan bukti kekalahan Taliban atau kegagalan Kabul? Apa bedanya?

Sekilas, pengumuman presiden Afghanistan tak berhubungan langsung dengan meningkatnya jumlah pertikaian di Afghanistan bagian timur, tempat para kelompok yang bersumpah setia pada ISIS tak hanya memerangi tentara Afghan, tapi juga unit Taliban yang biasanya memiliki posisi lebih kuat di timur. Di luar itu semua, terbukti bahwa informasi dan ide dapat tersebar dengan cepat dan efektif di dunia modern, mengambil bentuk fisik dan memaksa bahkan pemain terkuat dalam politik dunia untuk duduk di meja dan membuat catatan.

Potensi Ledakan ISIS

Baru satu tahun berlalu sejak proklamasi resmi kehadiran ISIS. Bahkan jika kita mengakui bahwa militan ISIS telah membuktikan mereka merupakan pasukan efektif dalam medan tempur di Irak dan Suriah, sulit untuk tidak berpikir bagaimana ide ISIS dengan cepat menarik perhatian para ekstremis Islam yang berada ribuan kilometer dari Irak dan Suriah tanpa hubungan langsung dengan ISIS.

Kelompok seperti Al-Qaeda butuh bertahun-tahun untuk membangun struktur komando dan operasional, yang hanya dikenal oleh anggota dan para pakar untuk waktu lama. Kini, entah bagaimana, meski baru satu tahun, ISIS memiliki pengikut setia baik kelompok teroris yang berpengalaman (seperti di Afghanistan) dan teroris tunggal yang masih pemula.

ISIS hadir dalam dua bentuk—sebagai negara teroris yang berfungsi dan inspirasi bagi aliansi militan fundamentalis Islam secara global. Dalam satu tahun, ide ini dijual ke seluruh planet, bahkan menarik perhatian anggota Taliban di Afghanistan timur yang kemudian mengarahkan senapan mereka pada mantan komandan dan pemimpin di Qatar dan Pakistan. Namun, kabar mengenai dimulainya pembicaraan di Pakistan menguak perpecahan antara dua faksi dalam kepemimpinan Taliban—kelompok Qatar, yang hingga baru-baru ini dikenal sebagai mitra senior, menentang hal yang dilihat sebagai intrik Pakisan dalam proses bernegosiasi.

Permainan Pakistan yang Penuh Elaborasi

Tak perlu dijelaskan, kita bisa melihat Taliban mengkritik badan intelejen Pakistan yang dianggap sebagai pencipta dan sponsor utama gerakan tersebut. Karena itu, faksi Qatar entah takut kehilangan kontrol atas pasukan Taliban di Afghanistan, atau memang telah kehilangan hal tersebut.

Sebelumnya, meski tak resmi, Afghanistan menyuarakan tuduhan terhadap Islamabad bahwa unit ISIS di tanah Afghanistan hanya proyek lain dari lembaga intelejen Pakistan, yang telah kehilangan kepercayaan pada Taliban. Jika dugaan tersebut benar, Pakistan jelas bermain api..

Versi lengkap artikel ini dapat di baca di situs Russia Direct.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.