Seberapa Efektif Dorongan Warga Rusia untuk Memerangi Perekrut ISIS?

Foto: Valeryi Matitsin / TASS

Foto: Valeryi Matitsin / TASS

Sudah cukup lama Rusia, baik dari sisi diplomatik maupun keamanan, mengategorikan ISIS sebagai ‘ancaman global yang nyata’. Pada Sabtu (1/8), Rusia meluncurkan nomor telepon bagi mereka yang teman atau keluarganya direkrut oleh ISIS. Para pakar mengingatkan bahwa ISIS tak bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan senjata. Oleh karena itu, RBTH mencari tahu langkah apa yang harus dilakukan Rusia guna menangkal kelompok Islam radikal itu.

Kelompok radikal ISIS terus melakukan ekspansi global dengan merekrut anggota baru dari seluruh dunia. Untuk mencegah penyebaran ideologi ISIS di Rusia, Pemerintah Rusia mengambil inisiatif yang diharapkan dapat membantu pihak berwenang waspada terhadap mereka yang tergoda oleh propaganda ISIS.

Pada Sabtu (1/8), Majelis Sipil Rusia (Russian Civic Chamber) meluncurkan nomor telepon hotline bagi mereka yang rekan atau kerabatnya tertarik dengan ideologi ISIS (organisasi ini telah dinyatakan sebagai organisasi teroris di Rusia), atau bahkan telah pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Majelis Sipil Rusia yakin hotline tersebut memang dibutuhkan. Kepala Komisi Pengembangan Diplomasi Sosial dan Dukungan Diaspora Majelis Sipil Rusia Yelena Sutormina menjelaskan, mereka memutuskan untuk membuat hotline sejak kasus penangkapan mahasiswa Rusia Varvara Karaulova yang mencoba memasuki Suriah. Pada Juni lalu, mahasiswa berusia 19 tahun itu ditangkap di perbatasan Turki-Suriah, dan berdasarkan hasil investigasi diketahui ia direkrut oleh kelompok Islam radikal.

"Belum lama ini Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan bahwa terdapat dua ribu warga negara dan bekas warga negara Rusia yang kini bergabung dengan pasukan ISIS. Jumlah tersebut terbilang sangat besar," kata Sutormina. "Kita harus melakukan sesuatu. Rusia sebagai negara yang multinasional dan multikonvensional sangat menarik bagi para perekrut ISIS."

Hotline tersebut menyediakan dukungan psikologis dan konsultasi agar terhindar dari jeratan ISIS.

Huru-hara Menurun

Selama beberapa bulan terakhir, media Rusia semakin gencar memberitakan ancaman ISIS. Bersamaan dengan munculnya pengumuman resmi terkait 'kehadiran ISIS di dekat perbatasan Rusia', terdapat pula berita mengenai upaya ISIS merekrut para pemuda muslim dan pendatang yang tinggal di wilayah terpencil (ISIS menawarkan gaji bulanan sebesar 50 ribu rubel, atau hampir setara 11 juta rupiah).

Pada Juni lalu, masyarakat juga dihebohkan dengan kemunculan sebuah video di internet yang menyebutkan tanah Kaukasus Utara telah bersumpah setia pada ISIS. Namun, Direktur Institut Studi Timur Tengah di Russian Academy of Sciences Vitaly Naumkin dengan yakin menyatakan, "Masih terlalu dini untuk panik mengenai hal tersebut."

Naumkin yakin bahwa 'sumpah' virtual itu tak menandakan bahwa Kaukasus Utara kini dikontrol oleh ISIS secara terpusat. Ia menambahkan bahwa 'lembaga penegak hukum Rusia sudah mulai menekan aktivitas mereka dengan lebih efektif'.

Sementara, pakar Kaukasus yang merupakan konsultan di International Crisis Group Varvara Pakhomenko menyebutkan, jika kita melihat jumlah kematian dan bentrokan militer di Kaukasus Utara, terlihat bahwa belakangan ini jumlah insiden kekerasan di wilayah tersebut mengalami penurunan. Berdasarkan pubikasi Kavkazsky Uzel, sepanjang 2013 terdapat 1.149 orang yang terbunuh atau terluka di Kaukasus Utara, sementara pada kuartal kedua 2015 jumlahnya hanya 44 orang.

Menurut Pakhomenko, penurunan tersebut secara umum terjadi karena dua faktor. Pertama, sebagian besar militan dan penganut Islam radikal telah meninggalkan Rusia untuk bertempur di Suriah. Kedua, banyak militan yang terbunuh, terdesak hingga keluar dari negaranya, atau ditahan pada malam Olimpiade Sochi.

Pemuda Muslim Butuh Kegiatan Alternatif

Para pakar mengakui bahwa pendekatan utama untuk memerangi radikalisme di Rusia selama ini ialah dengan kekuatan senjata. Namun, hanya dengan mengandalkan operasi tempur saja tidaklah efektif meski hal tersebut memang dibutuhkan, kata Sergei Markedonov, pakar Kaukasus dan profesor di departemen Studi Regional Luar Negeri dan Kebijakan Luar Negeri Universitas Negeri Rusia untuk Kemanusiaan.

"Para radikal tersebut seolah menghilang, tapi tiga atau empat tahun lagi mereka akan muncul kembali karena lingkungan yang memunculkan mereka masih ada. Maka itu, kita lebih butuh 'soft power' atau kekuatan lunak." Secara khusus, Markedonov percaya bahwa taktik 'bekerja dengan otak' jauh lebih penting. Maka, para tokoh terkemuka di komunitas Islam Rusia harus dilibatkan untuk menciptakan proyek alternatif bagi para anak muda, demi karir dan masa depan mereka.

Pendekatan 'soft power' juga dibutuhkan dalam komunitas muslim itu sendiri. "Kami tak akan mencari dan menangkap mereka," kata Wakil I Kepala Dewan Mufti Rusia Rushan Abbyasov. "Kami mencoba untuk memberi pencerahan, sementara pasukan khususlah yang mengidentifikasi dan menangkap tersangka."

Komunitas Islam Rusia juga biasanya tak bersentuhan dengan para perekrut, karena mereka tahu pandangan mereka tak diterima di sana. Namun, sejauh ini belum ada pembicaraan mengenai proyek Islam baru di kalangan muslim Rusia untuk menangkal pengaruh ISIS. "Orang-orang mulai bisa membedakan hitam dan putih, sementara komunitas muslim sendiri lebih fokus dalam menyebarkan kotbah," kata Abbyasov.

'Masih Ada Jalan Pulang'

"Beberapa tahun lalu, metode 'soft power' digunakan untuk mereka yang sudah bergabung dengan para radikal," terang Varvara Pakhomenko. Kemudian, lanjut Pakhomenko, pada 2010 terdapat komite yang didedikasikan untuk membantu para militan beradaptasi kembali di kehidupan bermasyarakat.

"Sebagian dari mereka belum pernah melakukan kejahatan serius. Mereka melakukan kesalahan dan diberi kesempatan untuk kembali ke kehidupan normal. Selalu ada jalan untuk pulang. Orang-orang itu akan menyerah dengan sendirinya," kata Pakhomenko. Namun menjelang persiapan Olimpiade, program tersebut terhenti. Komite itu tak lagi aktif. Sebaliknya, metode keras yang digunakan malah membuat para militan semakin berontak. "Kini Republik Dagestan dan Chechnya menjadi sasaran utama perekrut ISIS yang mencari anggota baru untuk 'berjihad' di Suriah," tutur Pakhomenko.

Komite tersebut kini aktif kembali, namun hanya di area Ingushetia, Kaukasus Utara. "Masih ada beberapa pejabat yang menyadari kebutuhan langkah tersebut," terang Pakhomenko.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.