Capai Kesepakatan dengan Guinea Khatulistiwa, Rusia Perkuat Armada Laut di Afrika

Foto: RIA Novosti

Foto: RIA Novosti

Rusia memperluas pengaruh strategisnya di Afrika. Delegasi militer Rusia dengan pihak Guinea Khatulistiwa menyepakati prosedur masuknya kapal perang Rusia ke pelabuhan republik tersebut. Perjanjian antarpemerintah ini memungkinkan Rusia untuk mengandalkan kerja sama militer-teknis di Afrika dan memperkuat posisi strategis di kawasan yang menjanjikan.

Perjanjian antara kedua negara ditandatangani pada Selasa (21/7) lalu pada kunjungan delegasi Rusia di bawah Pimpinan Angkatan Laut Rusia Laksamana Viktor Chirkov di Republik Guinea Khatulistiwa. Sementara, pasukan kapal Rusia telah tiba dua hari sebelumnya di pelabuhan ibu kota Malabo. Menurut laporan pers Kementrian Pertahanan, pertemuan dengan para pejabat Republik Guinea Khatulistiwa dilangsungkan di atas kapal misil jelajah Moskva.

Armada Laut Rusia di Pantai Afrika

Menurut para ahli militer, kesepakatan mengenai izin masuk yang dipermudah bagi kapal perang merupakan langkah pertama untuk memperkuat posisi Rusia di wilayah tersebut. "Ini adalah prospek yang baik untuk menciptakan pangkalan perlengkapan material dan teknis bagi kapal Rusia, mirip dengan pelabuhan Suriah Tartus," ujar pakar angkatan laut Aleksander Moszgovoy kepada RBTH, yang juga merupakan kolumnis di majalah pertahanan Natsionalya Oborona.

Kremlin melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov telah berulang kali menyatakan bahwa Rusia tidak sedang berusaha untuk membangun kembali pangkalan milter. Rusia hanya ingin membuat pangkalan pendukung teknis yang memungkinkan kapal-kapal Rusia berlayar lebih lama di laut lepas dan sekaligus sebagai tempat pengisian bahan bakar pesawat.

 

Hal ini telah dikonfirmasi pada 2014 lalu, dan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan, para awak kapal tidak hanya dapat kembali ke pangkalan tradisional sejak zaman Uni Soviet, seperti Kuba dan Vietnam, tetapi juga bisa datang meminta bantuan pasokan kebutuhan kapal di pelabuhan Venezuela, Nikaragua, Seychelles, dan Singapura.

Saat ini, Rusia telah menandatangani kontrak penggunaan pelabuhan Nikaragua dan Vietnam. Tak hanya itu, Shoigu bahkan mulai membangun infrastruktur yang lengkap untuk penerbangan dan navigasi kapal-kapal Rusia di seluruh dunia. Ke depannya, Rusia sangat mungkin akan menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan dengan Guinea Khatulistiwa. Dalam hal ini, Uni Soviet pernah memiliki pengalaman seperti itu ketika dulu memasok senjata Soviet ke negara bekas koloni Spanyol ini dan memberikan pelatihan kepada militer Guinea.

Dalam perjanjian ini, berhubung tak ada begitu banyak kapal Rusia, yaitu hanya sejumlah 15 kapal laut—tidak termasuk kapal selam—jumlah ini logis bagi terciptanya zona pintu masuk, tidak hanya untuk kapal, tetapi juga untuk pesawat, dan hal ini pun akan memberikan izin kesempatan pengisian bahan bakar bagi pesawat strategis selama penerbangan.

"Saat ini belum bisa dipastikan apakah pesawat pengintai Rusia akan memiliki pangkalan di Guinea Khatulistiwa, yang jelas tidak akan ada pangkalan militer—terlalu mahal untuk kondisi perekonomian Rusia saat ini. Untuk saat ini, kerja sama hanya sebatas pangkalan perlengkapan material dan pendukung teknis. Di zaman Uni Soviet, kita sempat memiliki pangkalan di Angola sebagai kekuatan angkatan laut dan udara. Pesawat T-95PTs milik Rusia juga ditempatkan di sana, hal yang sama juga terjadi di Kuba," ujar ahli militer independen Mikhail Timoshenko kepada RBTH.

Penandatanganan perjanjian, termasuk kemungkinan pengisian bahan bakar pesawat milik Rusia, sudah pernah dilakukan di Vietnam. Di Pangkalan Angkatan Laut Cam Ranh, pesawat tanker II-78 terbang untuk melakukan pengisian bahan bakar kepada pesawat-pesawat misil jarak jauh di udara.

 

Lebih lanjut, prospek dari pembukaan pangkalan perlengkapan material dan dukungan teknis ini memungkinkan untuk melakukan perbaikan kapal dan penggantian peralatan oleh para staf yang ditempatkan secara permanen.

Mitra Ekonomi Baru

Ketertarikan Rusia terhadap Guinea sejalan dengan fakta bahwa negara ini mempunyai sumber daya alam yang kaya. Selain minyak dan gas, negara ini memiliki simpanan berlian. Rusia memiliki pengalaman yang luas di bidang pertambangan dan produksi batu mulia. Sebelumnya, Rusia tidak memperhatikan wilayah Afrika. Sementara Tiongkok dan Amerika secara aktif mengembangkan dan berinvestasi di benua itu. "Sebagai contoh, warga Tiongkok saat ini sedang mendekati Afrika melalui pembangunan kapal di daerah tersebut," ujar Alksander Mozgovoy.

Rusia juga berencana untuk menandatangani dokumen serupa pada akhir tahun ini dengan Mesir. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Wakil Komandan Angkatan Laut Federasi Rusia Aksander Fedotenkov.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.