Shanghai Cooperation Organization, Tak Lagi Sekadar ‘Harimau Kertas’

Foto: BRICS2015

Foto: BRICS2015

Empat belas tahun sejak pertama kali berdiri, Shanghai Cooperation Organization (SCO) menggelar pertemuan di kota Ufa, Rusia bagian tengah, merangkai jalan untuk berekspansi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. SCO sepakat untuk melibatkan dua kekuatan besar baru, India dan Pakistan, yang semakin memantapkan langkah Rusia untuk beralih ke Timur.

Saat awal berdiri, SCO memiliki agenda terbatas, yakni sebagai pilar stabilitas dan keamanan bagi Asia Tengah. SCO ditujukan untuk menangkis ancaman Islam radikal dan perdagangan narkoba dari area di sekeliling Afganistan. Kini, lembaga tersebut perlahan berkembang dan memperoleh status yang berbeda. Sebelum India dan Pakistan bergabung, SCO telah mencakup area seluas 20 juta mil persegi, atau sekitar tiga perlima Eurasia, yang dihuni oleh sekitar 1,5 miliar orang.

Kini, penambahan beban demografi, geografi, kekuatan ekonomi, dan politik menciptakan perubahan signifikan pada SCO. Dengan kehadiran India dan Pakistan, apakah SCO bisa disebut telah berevolusi menjadi pemain global? Alexander Lukin, Direktur Pusat Studi Asia Timur dan Shanghai Cooperation Organization di Moscow State Institute of International Relations, melihat kemunculan dua kekuatan regional tersebut sebagai 'sosok pengubah permainan' bagi SCO. Berikut komentar Lukin yang dikutip oleh Troika Report:

"India dan Pakistan mengajukan diri untuk menjadi anggota penuh SCO sejak beberapa waktu lalu. Saya rasa ini adalah sinyal positif dan kemajuan karena organisasi ini masih belum tahu akan melangkah ke mana. Bergabungnya India dan Pakistan, terutama India, akan memberi dorongan kerja sama ekonomi dalam SCO—yang saat ini bukan titik terkuat dalam organisasi tersebut. India merupakan kekuatan ekonomi besar di lingkup Asia Tengah dan ia terus mengembangkan perdagangan dengan Tiongkok."

"Hal ini juga akan mengubah sifat politis SCO, yang sebelumnya dilihat sebagai organisasi Rusia-Tiongkok yang bergerak di Asia Tengah. India dan Pakistan akan mengubah SCO dalam banyak cara, di antaranya kini semua dokumen harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yang akan menjadi bahasa resmi ketiga setelah bahasa Mandarin dan bahasa Rusia. Agenda juga akan berubah, khususnya terkait perang melawan terorisme, karena kedua negara juga menghadapi masalah ini."

Bukan rahasia bahwa India dan Pakistan adalah musuh bebuyutan. Apakah hal itu akan memengaruhi SCO? Misalnya, menciptakan perpecahan internal dalam organisasi?

Menurut Lukin hal tersebut sepertinya tak mungkin terjadi.

"Pertama, SCO bukan aliansi militer dan tidak dirancang untuk menyelesaikan persaingan semacam itu. Kedua, tentu perbedaan pendapat adalah hal wajar. Seperti kita tahu, saat ini NATO juga tengah berdebat mengenai Yunani dan Turki. Bagi India dan Pakistan, bergabung dengan SCO memberi keuntungan tersendiri, yakni dapat berinteraksi dalam kerangka kerja organisasi yang bisa memfasilitasi mereka menyelesaikan perbedaan pendapat."

Namun, Timofei Bordachev, Direktur Pusat Studi Eropa dan Internasional di Higher School of Economics, ragu jika semua akan baik-baik saja.

"Bergabungnya India dan Pakistan merupakan langkah signifikan dalam perkembangan SCO. Hal ini tak hanya menciptakan kesempatan, tapi juga tantangan. Kedua negara tak bisa disebut 'bersahabat', dan mereka punya banyak masalah yang belum terselesaikan. Kami tak yakin bagaimana hal tersebut akan memengaruhi SCO: apakah akan lebih banyak bekerja sama atau lebih sering berbeda pendapat. Di sisi lain, kini SCO dapat menempatkan diri sebagai platform politik Eurasia, dan kontroversi antara Pakistan dan India dapat terselesaikan."

 

Namun, perlu waktu dan upaya khusus untuk menciptakan dialog multilateral yang harmonis antara dua negara yang masih merasa dendam terhadap satu sama lain.

Selain itu, penundaan SCO untuk menerima Iran sebagai anggota—yang saat ini masih menyandang status sebagai pengamat—mungkin akan membayang-bayangi perkembangan SCO. Mesir juga telah mengajukan diri untuk menjadi mitra dialog, mengikuti jejak Belarus, Turki, dan Srilanka.

Bagi Rusia, perkembangan aliansi akan mempermudah langkahnya untuk beralih ke Asia, karena organisasi ini tak hanya mencakup Asia Tengah dan Asia Timur Laut, tapi juga Asia Selatan dan bahkan Timur Tengah. Bermula dari lima negara, kini SCO tumbuh menjadi sekutu yang erat, bukan lagi sekadar 'harimau kertas'.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.