ISIS: Tempat Berlindung bagi Jiwa-jiwa yang Tersesat di Abad XXI

Siapakah sebenarnya orang-orang yang bersedia membunuh dan berani mati demi seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Khalifah Al-Baghdadi dan ideologinya? Orang-orang ini bisa dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan motivasi mereka.

Pertama, mereka adalah penduduk setempat yang bermukim di wilayah yang dikuasai oleh ISIS di Suriah dan Irak. Bagi mereka, ISIS bukanlah organisasi teroris yang brutal yang kerap mengacaukan pemerintahan, melainkan sebuah organisasi yang berusaha menertibkan wilayahnya. Skenario serupa juga terjadi di Afghanistan selama masa Taliban dan—dengan cara yang berbeda—di Jerman sebelum Nazi Jerman berkuasa.

Kelompok pendukung ISIS lainnya adalah para pemuda yang secara khusus datang ke Suriah. Mereka berasal dari negara-negara Islam lainnya, terutama dari negara-negara Arab. Negara Islam sangat populer di lingkungan masyarakat miskin. Saat itu, sebanyak sekitar 3.500 orang datang dari Tunisia untuk melawan orang-orang yang dianggap sebagai kaum kafir. Kisah tentang anak-anak muda yang bergabung dengan ISIS tersebar dari mulut ke mulut. Dalam kisah ini dapat ditarik satu kesimpulan: sebenarnya tidak ada keinginan untuk membunuh dan bukan pula karena alasan agamalah yang mendorong orang-orang ini pergi ke Suriah. Namun, hal ini disebakan karena tidak adanya kebebasan dan perspektif masa depan akan kehidupan yang "normal" (mendapatkan pekerjaan yang baik, menikah, dsb. -red.) di tanah air mereka.

Kisah seperti ini sarat dengan persepsi bahwa kebahagiaan itu semu. Di tengah masyarakat yang percaya bahwa kekayaan materi adalah tolak ukur kesuksesan yang paling utama, mereka tetap merasa serba kekurangan karena kurangnya unsur keimanan dalam tiap pribadi individu. Namun, bagi ISIS, kekayaan materi bukanlah hal yang utama. Mereka datang karena keyakinan akan keimanan dan ideologi yang mereka anut. Karena itu, mereka menganggap bahwa kebahagiaan dan masa depan mereka terletak pada dua unsur tersebut.

Kelompok ketiga yang mendukung ISIS adalah kumpulan pemuda muslim dengan latar belakang imigran dari Barat. Agama Islam dalam kehidupan para muslim yang berpindah tempat tinggal ke Barat memerankan peran yang cukup signifikan dibandingkan dengan mereka yang hanya tinggal di tanah airnya. Islam menjadi dasar bagi identitas dan konsolidasi masyarakat imigran. Hal ini memberikan dorongan dalam pembentukan "pseudo-ummah" supranasional yang baru .

Rasa frustasi yang dirasakan para imigran—terutama karena mereka harus melawan gerakan radikal sayap kanan di Eropa dan konflik riil antara nilai-nilai dari masyarakat tradisional dan nilai-nilai liberalisme Eropa—mendorong mereka untuk mencari jawaban dan bimbingan dalam kehidupan ideologi beragama.

 

 

Terakhir, ada pula kelompok keempat, yaitu para mualaf yang berasal dari Eropa. Kelompok ini bekerja untuk ISIS. Mereka merasa menemukan nilai yang tidak dapat ditemukan di lingkungan masyarakat mereka sebelumnya, yaitu suatu sistem penilaian yang ketat, yang juga ditaati oleh para imigran muslim. Ini adalah karakter yang tidak manusiawi. Mereka menolak untuk fokus kepada individu. Hal ini menyebabkan mereka menghindar dari relativisme dunia pascamodern.

Dari empat kelompok ini, bisa ditambahkan lagi setidaknya dua kelompok, yaitu pejihad yang sepanjang hidupnya bergerak dari satu "titik panas" ke "titik panas" lainnya, dan orang-orang bermental lemah yang justru merasa tertarik dengan gagasan serta tindak kekerasan mereka.

Kemudian, jika kita cermati empat kelompok pertama yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa poin menarik untuk diperhatikan yang berhubungan dengan mereka.

Bagi dua kelompok pertama, "Negara Islam" adalah sebuah alternatif untuk membuat rezim atas negara-negara Timur Tengah yang semakin bangkrut. Kemunculan "Negara Islam" bukan hanya menjadi konsekuensi atas kebangkitan dunia Arab, gagalnya perjanjian Sykes-Picot, dan krisis kenegaraan di wilayah tersebut, melainkan sebagai upaya untuk menawarkan model negara yang didasari atas prinsip-prinsip baru, seperti penolakan gagasan negara-kebangsaan, penolakan warisan kolonial, dan pemahaman terbaru mengenai sistem politik zaman pertengahan di Timur Tengah.

Dengan demikian, perlawanan terhadap ISIS harus mencakup peningkatan kekuatan negara-negara di Timur Tengah. Dunia harus mampu membuktikan kepada seluruh anak laki-laki yang bermukim dan lahir pada abad ke-20 di daerah miskin, di negara tempat mereka hidup, mampu mencari solusi atas segala masalah yang mereka hadapi.

Pada prinsipnya, dunia cukup setuju dengan ide ini. Masalahnya adalah pendekatan Soviet-Rusia (hari ini adalah pendekatan Tiongkok) tidak berfokus pada pendorongan negara, tetapi hampir selalu memusatkan pada pendorongan rezim. Namun, bukan pula pendekatan Amerika-Eropa yang mengurus perkembangan masyarakat sipil yang menyebabkan polarisasi sosial tidak berfungsi dan harus diubah secepatnya.

Situasi ini berbeda dengan dua kelompok lain (imigran muslim dan mualaf yang berasal dari Eropa). Mereka berpendapat bahwa yang terutama bagi orang-orang yang datang ke Suriah dan Irak dari daerah Barat adalah daya tarik ideologi ISIS. Dalam hal ini, kelompok oposisi ISIS membutuhkan pembentukan peradaban baru untuk menggantikan logika paradigma pembangunan dalam situasi krisis yang muncul di era modern.

Namun, proses peningkatan kekuatan kenegaraan di kawasan itu, terutama proses pencarian logika baru untuk pembangunan, sangatlah panjang dan sulit. Semua ini pada kenyataannya membutuhkan beberapa usaha. Salah satunya adalah transisi Timur Tengah dan dunia Barat ke tingkat pembangunan yang baru. Oleh karena itu, sementara belum ada solusi untuk masalah ISIS, dunia tidak perlu ribut karena hadirnya fenomena tersebut, selain pada masalah yang lebih berkaitan dengan manifestasi tertentu dalam bentuk arus pengungsian, kekerasan, dan terorisme.

Vasily Kuznetsov adalah Kepala Pusat Studi Arab dan Islam di Institut Studi Oriental Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.