BRICS: Rival Sepadan untuk G7?

Perkembangan dunia yang multipolar bukanlah sekadar teori belaka.

Perkembangan dunia yang multipolar bukanlah sekadar teori belaka.

Berkembangnya BRICS dalam kancah internasional bergantung pada kemampuan negara-negara anggotanya untuk menambahkan substansi terhadap organisasi tersebut.

Rusia mendapat berbagai keuntungan dari pertemuan BRICS yang diadakan di jantung kota Ufa, tak hanya di lingkup ekonomi dan politik, tapi juga dalam konteks konfrontasi dengan Barat. Namun, berkembangnya model aliansi yang lebih longgar ini dalam kancah internasional bergantung pada kemampuan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan untuk menambahkan substansi terhadap gaya dan peran citra “klub golf VIP non-Barat” tersebut.

Menyadari kelemahan struktural ini, kelima negara sebelumnya telah sepakat untuk memanfaatkan pertemuan di Ufa untuk mengurus langkah terakhir pada cadangan dana bernilai seratus miliar dolar AS. Dana tersebut dapat digunakan oleh anggota BRICS ketika menghadapi masalah keuangan, sekaligus memberi nafas kehidupan bagi New Development Bank. BRICS juga mencoba mereformasi perdagangan antarnegara dengan menggunakan mata uang lokal.

Keberhasilan reformasi ini dapat membuat negara-negara BRICS lepas dari ketergantungan terhadap dolar AS dan standar serta prosedur sistem keuangan yang didominasi oleh Barat. Namun, meski perkembangan BRICS terlihat seperti tantangan bagi ‘konsensus Washington’ dan mempromosikan agenda dunia yang multipolar, media Barat tak terlalu menyorot pertemuan di Ufa.

Dapatkah kita berasumsi bahwa BRICS merupakan format yang tengah berkembang untuk menjadi alternatif dari sekutu yang didominasi Barat? Direktur Pusat Studi Asia Timur dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization) di Moscow State Institute of International Relations, Alexander Lukin, menyatakan, “Saya tak bisa bilang jika BRICS merupakan alternatif dari organisasi Barat. Ide utama untuk mempersatukan negara-negara yang tergabung dalam BRICS adalah mereformasi sistem pemerintahan global. Ide ini diterima oleh semua pihak, meski ada beberapa perbedaan pendapat. Anggota BRICS memiliki struktur politik internal, gagasan sosial, kebijakan, serta beberapa hal lain yang berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan Barat, tak semua negara Barat memiliki ideologi yang sama. Sungguh pragmatis menciptakan kesatuan dari beberapa negara besar untuk menangani isu spesifik tertentu,” katanya menjelaskan.

“Pertemuan di Ufa menunjukan perkembangan baru. Sesungguhnya, BRICS melangkah lebih cepat daripada SCO. Misalnya, SCO sejak lama telah membicarakan rencana untuk mendirikan bank bersama namun hal itu tak kunjung terwujud. Sementara, BRICS sudah punya bank sendiri dan dewan direksi akan menggelar pertemuan dalam beberapa hari mendatang. Hal itu juga merupakan langkah yang sangat praktis yang diambil oleh BRICS.”

Apakah pertemuan di Ufa ini merupakan gestur simbolis?

“Rusia adalah negara Eurasia. Saat ini, Barat, yakni Eropa dan Amerika Serikat, sangat aktif dan efektif mendorong Rusia untuk keluar dari lingkup Eropa-Atlantik, dan membuat Rusia mendekat ke negara-negara berkembang, terutama di Selatan. Sebelumnya, Rusia berada di posisi yang unik ketika menjadi anggota G8 dan BRICS sekaligus, dan kemudian menjadi jembatan antara dua dunia. Kini, setelah G8 tak lagi ada, Rusia beralih ke Asia. Penting bagi Rusia untuk menunjukkan bahwa ia tak terisolasi dari dunia internasional.”

Beberapa pihak berpandangan skeptis dan menyebutkan bahwa BRICS masih sekadar monumen setipis kertas tanpa memiliki kekuatan nyata. Di sisi lain, ada pula pakar yang sangat yakin bahwa BRICS merupakan bibit dari tata dunia baru. Direktur Studi Eropa dan Internasional di Higher School of Economics yang berbasis di Moskow, Timofei Bordachev, menyampaikan pendapatnya melalui Troika Report:

“BRICS telah tumbuh menjadi alternatif dari G7. Institusi ini jauh lebih demokratis dibanding G7 dan birokrasinya lebih sederhana. Para negara anggota BRICS menginginkan dua hal: pertama, memainkan peran utama di wilayah mereka sendiri, dan kedua, menciptakan alternatif konstruktif yang positif dari kebijakan yang dijalankan oleh AS dan sekutunya. Dari sudut pandang saya, ini adalah waktu yang tepat bagi BRICS untuk mulai membangun interaksi di bidang lain, misalnya kerja sama finansial dan membangun arsitektur keuangan global yang baru. Artinya, BRICS telah berubah dari sekadar oposisi menjadi organisasi dengan agenda yang konstruktif.”

Tantangan bagi keberlangsungan BRICS juga dibicarakan dalam pertemuan tersebut oleh para pakar. Diskusi tersebut dirangkum dalam program Inside Story yang tayang di saluran televisi Al Jazeera English, bersama analis Tiongkok sekaligus pakar kebijakan luar negeri yang berbasis di Inggris Andrew Leung, pakar pasar berkembang yang berbasis di Nairobi sekaligus CEO Rich Management Aly-Khan Satchu, serta Vladimir Mikheev yang mewakili Troika Report. Diskusi tersebut secara khusus membahas mengenai potensi BRICS untuk memperluas jangkauannya dalam bidang keuangan.

Meski Satchu menyampaikan keraguan terkait perkembangan New Development Bank dan fokusnya terhadap kebutuhan domestik bukan sebagai pemberi pinjaman dana internasional, ia tak menyanggah bahwa model yang ditawarkan BRICS sungguh menarik, terutama karena adilnya distribusi pinjaman dan kredit. Prediksi Troika Report yang menyebutkan bahwa pinjaman dari New Development Bank kelak tak akan dikaitkan dengan masalah politik juga diakui oleh Leung.

Dengan demikian, pertemuan BRICS di Ufa membuktikan bahwa perkembangan dunia yang multipolar bukanlah sekadar teori belaka.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.