Pelegalan Pernikahan Sesama Jenis di AS Picu Berbagai Reaksi di Kalangan Politisi Rusia

Kritik terhadap pernikahan sesama jenis juga datang dari banyak komentator konservatif, termasuk pengguna media sosial. Foto: TASS

Kritik terhadap pernikahan sesama jenis juga datang dari banyak komentator konservatif, termasuk pengguna media sosial. Foto: TASS

Pada Jumat (26/6) lalu, Mahkamah Agung AS menetapkan bahwa pernikahan sesama jenis legal di seluruh wilayah Amerika Serikat. Tak disangka, kebijakan tersebut menuai reaksi keras dari Rusia, beberapa politisi konservatif mengecam habis-habisan, sementara kelompok liberal menyuarakan dukungan bagi AS dan gerakan LGBT global. Para pakar menilai reaksi negatif dari perwakilan pemerintah mungkin merupakan upaya untuk memainkan kartu ‘konfrontrasi spiritual’ Rusia dengan Barat.

Kebijakan Mahkamah Agung AS yang menetapkan pelegalan pernikahan sesama jenis tak hanya mengundang perhatian warga AS: pengguna internet dari seluruh dunia mengekspresikan sikap mereka terhadap pernikahan sesama jenis. Di Facebook, banyak pengguna yang memperbaharui foto profil mereka dengan menggunakan efek pelangi pada foto mereka, sebagai dukungan terhadap legalitas pernikahan sesama jenis. Hal itu kemudian disusul oleh beragam debat dan argumen.

Kritik Pernikahan Sesama Jenis

Di Rusia, diskusi mengalir dari internet menjadi topik pembicaraan para politisi. Seorang anggota Majelis Legislatif Sankt Petersburg yang dikenal kerap menyampaikan pernyataan bernada homofobia, Vitaly Milonov, mengatakan pada stasiun radio Russian News Service bahwa ia berencana bertanya pada pengawas komunikasi massa Rusia Roskomnadzor untuk memblokir akses ke Facebook di wilayah Rusia. Menurut Milonov, dengan meluncurkan fitur yang bisa memberi efek pelangi bagi foto profil, Facebook telah melanggar hukum Rusia yang melarang promosi homoseksualitas di kalangan di bawah umur.

Gereja Orthodoks Rusia juga mengkritik peraturan terbaru yang diluncurkan Mahkamah Agung AS tersebut. Dalam wawancara dengan kantor berita Interfax, seorang tokoh terkemuka dari gereja, pendeta agung Vsevolod Chaplin, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Amerika mencoba 'memaksaan pandangannya terkait pernikahan yang tidak natural ke negara-negara lain'.

Sebuah Sudut Pandang yang Berbeda

Kritik terhadap pernikahan sesama jenis juga datang dari banyak komentator konservatif, termasuk pengguna media sosial. Namun, ada pula sebuah sudut pandang lain yang muncul. Sejumlah pengguna internet mendukung keputusan Mahkamah Agung. Secara khusus, politikus Leonid Volkov, perwakilan dari Koalisi Demoraktik (persatuan partai liberal nonparlementer) dan teman baik pemimpin oposisi Alexey Navalny, menulis di halaman Facebook-nya, "Cinta itu indah dalam segala bentuknya, sama seperti kebencian yang buruk dalam segala bentuk. Kebetulan, saya tak ikut pesimis bersama mereka yang mengatakan 'tidak dalam masa hidup saya' (pernikahan sesama jenis akan dilegalkan di Rusia - red.). Di Amerika, yang jauh lebih konservatif dari Rusia, seluruh proses tersebut berlangsung selama sekitar 20 tahun." Volkov termasuk di antara beberapa tokok publik yang menggunakan efek pelangi di foto profilnya.

Tak semua perwakilan pemerintah satu suara terkait pernikahan sesama jenis. Seorang senator dari Wilayah Arkhangelsk, Konstantin Dobrynin, menyampaikan pada stasiun radio Ekho Moskvy bahwa Rusia harus mencoba mengurangi tingkat agresi terhadap minoritas seksual. Ia menyatakan bahwa Rusia perlu berkompromi dan penegak hukum harus memperhatikan kepentingan semua warga Rusia, termasuk komunitas LGBT dan konservatif.

Hierarki Konservatif

Dalam wawancara bersama RBTH, analis politik dan profesor di Moscow State Institute of International Relations Valery Solovey menyebutkan signifikansi isu tersebut sengaja dijadikan sensasi. "Tak akan ada reaksi terhadap kebijakan tersebut jika tak ada sensasi yang dibesar-besarkan dan dilaporkan oleh media," kata Solovey. "Peraturan tersebut menjadi dibicarakan oleh masyarakat karena semua sensasi yang muncul. Selain mereka yang sangat terobsesi secara politik, yang jumlahnya sangat kecil dalam populasi—tak lebih dari lima hingga tujuh persen—peraturan ini tak menarik bagi siapa pun."

Sosiologis dari lembaga survei Levada Center Karina Pipia, yang menulis laporan mengenai homofobia di Rusia, sepakat dengan Solovey bahwa reaksi keras dari masyarakat, terutama sayap konservatif, terhadap isu pernikahan LGBT, didukung dan dipromosikan terutama oleh pemerintah. "Tentu, Rusia dan negara Barat, termasuk AS, saat ini sedang melakukan konfrontrasi politis. Politisi Rusia mencoba untuk menggali nilai-nilai konservatif Rusia dan menuduh Barat menciptakan kemerosotan moral tradisional. Masyarakat umum merespon retorika semacam itu. Ini dilatarbelakangi dengan sentimen homofobia yang tengah berkembang," kata Pipia pada RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.