Kepulauan Kuril Selatan: Mengapa Rusia Tak Mau Mengembalikan Iturup dan Kunashir pada Jepang?

Foto: RIA Novosti

Foto: RIA Novosti

Selain ikatan emosional dan sumber daya alam, Kepulauan Kuril Selatan memiliki nilai strategis dan merupakan salah satu pintu keluar-masuk utama Angkatan Laut Rusia ke Samudra Pasifik.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe belum lama ini mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Jepang untuk menyelesaikan masalah sengketa wilayah yang telah berlarut-larut selama 60 tahun.

Jepang dan Rusia secara teknis masih berperang, karena kedua negara belum menandatangani traktat perdamaian Perang Dunia II. Inti pertikaian antartetangga di Asia Pasifik ini adalah rantai kepulauan yang terletak antara Pulau Sakhalin Rusia dan Hokkaido Jepang.

Kepulauan Kuril Selatan, yang terdiri dari Pulau Iturup, Kunashir, Shikotan, dan Habomai, pertama kali dikolonisasi oleh Jepang pada abad ke-19. Mereka berada di bawah kekuasaan Uni Soviet sejak Perang Dunia II berakhir, ketika Kekaisaran Jepang diusir dari Pulau Sakhalin selatan.

Jepang mengklaim kepemilikan atas kepulauan itu dan menyebutnya sebagai Wilayah Utara. Sejak 1960-an, Moskow telah menyatakan bersedia untuk berkompromi dengan Tokyo dengan menawarkan Pulau Shikotan dan Habomai, namun Jepang ingin Rusia mengembalikan seluruh rantai kepulauan.

Ikatan Emosional di Kedua Negara

Saat Jepang tersingkir dari Kepulauan Kuril Selatan pada 1945, 17 ribu penduduk Jepang dideportasi dari kepulauan tersebut. Banyak di antara mereka masih hidup hingga saat ini dan tinggal di Hokkaido. "Tentu akan menjadi langkah bunuh diri politis bagi pemerintah manapun di Tokyo untuk mengompromikan Wilayah Utara," kata Shigeo Tanaka, seorang analis politik yang berbasis di kota Sapporo, Jepang. "Komunitas bekas penduduk Wilayah Timur memiliki kekuatan lobi politik dan menggalang simpati yang luar biasa."

Saat sebuah negara membicarakan penyerahan wilayah, tentu akan ada pihak yang tak senang. Pada 2004, ketika Rusia menyerahkan Pulau Tarabarov dan separuh Pulau Bolshoi Ussuriski di Sungai Amur pada Tiongkok untuk mengakhiri sengketa wilayah, muncul banyak protes di berbagai wilayah Timur Jauh Rusia.

Tamara Chikova, seorang profesor di Universitas Negeri Sakhalin, menilai bahwa penyerahan pulau Shikotan dan Habomai (tawaran yang diajukan oleh pemerintah Rusia) pun akan memicu protes keras. "Logika kelompok nasionalis adalah Rusia tak seharusnya mengembalikan wilayah yang telah direbut dari negara yang bersekutu dengan Nazi Jerman," kata Chikova. "Apakah Rusia akan mengembalikan Kaliningrad pada Jerman?" tanya Chikova secara retoris.

Tanaka menyebutkan bahwa pengajuan usul semacam itu juga tak akan bisa diterima oleh Jepang karena mereka menginginkan pengembalian seluruh kepulauan, termasuk Kunashir dan Iturup. "Jepang merasa sudah berkompromi dengan menerima bahwa separuh Pulau Sakhalin dikuasai Rusia, yang sebenarnya merupakan bagian dari Jepang sejak perang pada 1904-1905," terang Tanaka.

Pintu Gerbang Rusia ke Samudra Pasifik

Pulau Kunashir dan Iturup sangat kaya akan sumber daya alam dan diyakini memiliki logam langka dengan jumlah berlimpah. Keberhasilan proyek minyak dan gas di dekat Pulau Sakhalin juga mendorong perusahaan-perusahaan energi untuk menyurvei air di dekat Kuril untuk cadangan hidrokarbon. Kepulauan tersebut, yang memiliki hutan yang belum terjamah, gunung berapi, serta air terjun, juga memiliki potensi pariwisata yang cemerlang.

Namun, pemerintah Rusia tak tertarik untuk mengembangkan potensi pariwisata kepulauan tersebut, malah menutup pulau bagi orang asing maupun warga Rusia yang bukan penduduk Sakhalin. Alasannya, menurut para analis, adalah nilai strategis yang dimiliki oleh kepulauan itu.

Selama beberapa tahun terakhir, Rusia telah melakukan aktivitas militer di sekitar kepulauan. Pada 8 Juni lalu, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu memerintahkan untuk mempercepat pembangunan fasilitas militer di Kuril Selatan. Rusia akan menghabiskan sekitar 1,2 juta dolar AS untuk membangun kepulauan, dan sebagian besar anggaran ditujukan bagi fasilitas pertahanan. Rusia telah memulai pembangunan barak militer di Pulau Iturup dan Kunashir.

Shoigu juga memerintahkan untuk segera membangun infrastruktur militer di Arktik Rusia, sebagai bagian dari desain raksasa untuk menghubungkan Rusia Tengah dengan Pesisir Pasifik melalui rute laut yang baru.

Dalam artikel berjudul 'The Strategic Value of Territorial Islands from the Perspective of National Security,' sebuah tinjauan terkait studi kepulauan yang berbasis di Jepang, disebutkan bahwa peningkatan aktivitas militer Rusia di Kuril Selatan merupakan antisipasi atas pembukaan Rute Laut Utara, sebuah jalur kapal yang menghubungkan Laut Kara dengan Samudera Pasifik. Rute ini bergerak di sepanjang pesisir Arktik Rusia dan akan memberi baik keuntungan militer maupun ekonomi bagi Rusia.

"Rute ini membuat Rusia bisa menjadi kekuatan utama Asia Pasifik," kata Tanaka. "Saat kita menghadapi Perang Dingin jenis baru, Rusia dan Tiongkok dapat memblokade Jepang, jika misalnya Amerika berhasil menghasut wilayah tersebut." Tanaka menegaskan bahwa hal ini hanya mencegah AS untuk mengelola markas militer di Jepang, termasuk di Okinawa.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.