Pakar: Kesepakatan Militer AS-Tiongkok Akan Mengancam Kepentingan Rusia

Foto: Reuters

Foto: Reuters

AS dan Tiongkok baru saja menandatangani kesepakatan kerja sama terbaru terkait dialog militer. Berdasarkan laporan media Tiongkok, ini merupakan kesepakatan pertama yang ditandatangani dalam beberapa tahun terakhir. Sementara, pakar Rusia yakin bahwa saat ini kesepakatan tersebut hanya sekadar formalitas. Namun, mereka yakin bahwa segala bentuk pendekatan antara AS dan Tiongkok di tengah konfrontasi Moskow dan Barat bertentangan dengan kepentingan Rusia.

Kesepakatan baru terkait kerja sama militer yang ditandatangani oleh Washington dan Beijing berpotensi mengacaukan upaya Rusia untuk membina ikatan yang lebih erat dengan Tiongkok, demikian disampaikan pakar Rusia.

Perwakilan dari Kementerian Pertahanan AS dan Kementerian Pertahanan Tiongkok telah menandatangani kesepakatan terkait mekanisme aktivitas angkatan bersenjata mereka saat berkoordinasi untuk misi kemanusiaan dan reaksi terhadap situasi darurat, Jumat (12/6) lalu. Kedua pihak selanjutnya berencana menandatangani kesepakatan terkait keamanan nasional pada akhir September, untuk mengurangi insiden yang kerap terjadi antara angkatan bersenjata kedua negara di laut dan udara.

Militer Amerika menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut akan membuat kedua negara memiliki pemahaman yang lebih baik dan menurunkan risiko konfrontasi yang tak disengaja. Sementara, Tiongkok menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah besar dalam hubungan Tiongkok dan AS. Mereka juga berencana menggelar latihan militer bersama pada 2016.

'G2' dan 'Chimerika'

Pakar Rusia menilai penandatanganan kesepakatan tersebut menunjukkan posisi Washington dan Moskow dalam perhitungan geopolitik Tiongkok. Hal itu secara khusus berkaitan dengan pendekatan Rusia dan Tiongkok setelah Rusia menghadapi konfrontasi dengan Barat.

Profesor Vladimir Korsun dari Departemen Studi Asia di Moscow State Institute of International Relations menyebutkan bahwa untuk saat ini penandatanganan kesepakatan tersebut sepertinya hanya formalitas belaka. Ia menambahkan bahwa Tiongkok dan AS sudah menandatangani kesepakatan militer sejak 1980-an.

Pakar percaya bahwa meski kesepakatan tersebut tak mengindikasikan Washington dan Beijing membentuk aliansi militer, hal itu menunjukan karakter hubungan antara Tiongkok dan AS. Sebagai contoh, Korsun menyebutkan bahwa secara de facto, mereka telah membentuk G2 (AS dan Tiongkok). Ia menyinggung konsep realistik 'Chimerika' yang diperkenalkan oleh sejarawan dan profesor Harvard Niall Ferguson, teori yang mengandaikan kehadiran ruang eknomi tunggal antara Amerika-Tiongkok.

Korsun menyebutkan pada pertengahan 2000-an mayoritas pakar politik Rusia memprediksi konflik masa depan antara Tiongkok dan AS adalah hal yang tak terhindarkan, dan Rusia harus menjaga jarak serta 'menonton pertempuran antara dua harimau' dari jauh. Namun, ramalan tersebut tak terwujud dan penandatanganan kesepakatan Amerika-Tiongkok ini merupakan bukti bahwa hal tersebut tak mungkin terjadi saat ini. Oleh karena itu, Korsun yakin jika hubungan Moskow dan Washington semakin memburuk, Tiongkok tak akan berada di sisi Rusia.

Segitiga Moskow-Washington-Beijing

Di saat yang sama, beberapa pakar percaya bahwa Tiongkok dan AS tak mungkin menciptakan aliansi. Akan tetapi, hal tersebut tak membuat posisi Rusia menjadi lebih baik. Wakil Direktur Institute of Political and Military Analysis Alexander Khramchikhin menyebutkan, segitiga Rusia-AS-Tiongkok adalah sebuah hubungan yang rumit. Dalam konfigurasi tersebut setiap negara memainkan peran yang kontradiktif terhadap dua negara lainnya, dan langkah untuk menciptakan ikatan yang lebih erat antara dua negara akan menentang kepentingan pihak ketiga. Meski sulit untuk membayangkan aliansi sungguhan antara dua negara di antara segitiga tersebut, konvergensi taktis antara Washington dan Beijing membuat Moskow semakin kekurangan ruang untuk bermanuver.

Pemimpin Redaksi Majalah Export Vooruzheny Andrei Frolov juga percaya bahwa kesepakatan Tiongkok-Amerika merupakan tanda bahwa Tiongkok dan AS mulai membina hubungan yang lebih erat. Namun, ia menggarisbawahi bahwa dalam beberapa tahun mendatang hal ini tak akan menciptakan konsekuensi praktis bagi Rusia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.