Apakah Perlombaan Senjata yang Baru Antara AS dan Rusia akan Dimulai di Eropa?

Foto: Reuters

Foto: Reuters

Pemberitaan dari agen-agen informasi Barat yang menyatakan bahwa pemerintahan Obama sedang mengerjakan rencana penempatan roket balistik dan rudal jelajah darat di Eropa sebagai jawaban atas ketidakpatuhan Rusia terhadap Perjanjian Penghapusan Roket Nuklir Jarak Menengah dan Pendek (Intermediate Range-Nuclear Forces Treaty/INF), tidak hanya telah berhasil menarik perhatian terhadap perjanjian yang berumur hampir 30 tahun tersebut, tetapi juga berhasil memprovokasi reaksi balasan dari Pemerintah Rusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS kerap mengangkat isu seputar INF. Pada akhir tahun 2013 lalu, media massa AS untuk pertama kalinya memublikasikan informasi bahwa Washington mencurigai Rusia atas pelanggaran perjanjian INF. Rincian dari pretensi AS tersebut tidak diketahui. Para pakar memperkirakan bahwa pretensi tersebut berhubungan dengan dua senjata roket perspektif milik Rusia, yaitu roket balistik RS-26 Rubezh dan rudal jelajah R-500.

Perjanjian INF

Perjanjian INF yang disepakati pada tahun 1987 ini mengatur likuidasi semua jenis roket dengan radius jangkauan dari 500 sampai 5.500 kilometer. Perjanjian tersebut menjadi peristiwa penting saat itu, ketika wilayah Eropa dinilai sebagai panggung utama dari kemungkinan berlangsungnya konflik senjata antara AS dan Uni Soviet. Dengan memiliki waktu terbang mengenai sasaran yang cepat, roket-roket jenis ini dapat memberikan hasil krusial dalam peperangan. Roket ini ditugaskan untuk melakukan salah satu tugas terpenting dalam peperangan, yaitu menghancurkan sistem kontrol komando pasukan. Keputusan melikuidasi senjata tersebut tidak hanya menurunkan ketegangan konfrontasi militer di Eropa saja, tetapi juga menjadi dasar bagi pengurangan jumlah senjata-senjata konvensional di Eropa setelahnya.

Namun demikian, Rubezh secara resmi tidak tercakup dalam INF karena jarak tempuh maksimum roket ini melebihi batas atas yang telah ditetapkan dalam INF. Akan tetapi, spesifikasi dari program uji coba (roket ini berhasil menjelajahi jarak di bawah 5.500 kilometer) memunculkan pendapat bahwa tujuan utama dari roket ini adalah pelumpuhan sasaran pada jarak menengah. Sementara, terkait R-500, jarak maksimal dari roket ini menjadi perdebatan apakah roket ini melampaui batas bawah dari perjanjian INF sejauh 500 kilometer.

Rusia Membutuhkan Senjata Roket

Baik Moskow maupun Washington mengakui bahwa aktualitas dari penolakan kepemilikan senjata roket jarak pendek dan menengah terus menurun setiap harinya, terutama dari pihak Rusia. Ini terjadi khususnya setelah teknologi serupa secara aktif dikembangkan oleh negara-negara tetangganya, seperti Tiongkok, Iran, dan Korea Utara. Baru beberapa tahun lalu, di Rusia berjalan diskusi secara aktif membahas mengenai seberapa besar relevansi INF dengan kepentingan Rusia masa kini. Angkatan bersenjata Rusia pun secara langsung mengutarakan opsi untuk keluar dari perjanjian tersebut.

Selain itu, pihak Rusia perlu memahami bahwa setiap usaha untuk mengembalikan senjata roket jarak pendek dan menengah, walau mengikuti jalan formal sesuai dengan INF sekalipun, merupakan tindakan bermain-main dengan api. Meskipun perjanjian INF tidak memiliki batasan waktu pemberlakuan, Bab XV dalam perjanjian tersebut mengizinkan untuk keluar dari kesepakatan dalam kasus "kepentingan tertinggi" dari salah satu pihak berada dalam ancaman.

Setiap usaha Rusia dalam pembuatan kembali roket jarak pendek dan menengah, bahkan jika roket tersebut sesuai dengan yang diizinkan INF, tetap akan memancing jawaban balasan dari pihak AS, yang salah satunya adalah keluar dari perjanjian tersebut.

Pemutusan pemberlakuan INF, terutama akan menggoyang keamanan Rusia. Jika hal itu terjadi, AS berkesempatan untuk kembali menempatkan roket jarak pendek dan menengah miliknya di Eropa. Secara teori, Washington dapat menempatkan senjata-senjata roket tersebut tidak hanya di negara-negara Eropa Barat saja seperti halnya yang terjadi pada waktu perang dingin, tetapi juga di wilayah negara-negara anggota baru organisasi NATO.

Penempatan roket tersebut akan mempersingkat waktu terbang roket untuk mengenai objek-objek vital Rusia hingga beberapa menit saja, yang dapat menciptakan potensi pengambilan tindakan preemptive strike. Moskow tidak memiliki sumber daya untuk memberikan balasan kuat terhadap tantangan itu dan Moskow terpaksa akan membutuhkan daya dan upaya yang sangat besar untuk menciptakan sistem penangkal dari potensi dari preemptive strike.

Mengapa AS Memerlukan Senjata Roket?

Saat ini, AS menyatakan kesiapannya untuk mengakhiri perjanjian INF. Pemimpin Redaksi majalah Eksport Vooruzheniy Ivan Timofeev berpendapat, besar kemungkinan pemutusan perjanjian ini akan terjadi dalam waktu tiga tahun ke depan. "Para politikus garis keras mendukung pemutusan perjanjian tersebut. Selain itu, para pelobi dari industri senjata dan militer dari kedua belah pihak juga menentang perjanjian tersebut sebab jika perjanjian INF diakhiri, perlombaan senjata akan terjadi kembali."

Namun, ada sudut pandang lain menanggapi hal tersebut. Wakil Direktur Pusat Studi Komprehensif Eropa dan Internasional dari Sekolah Tinggi Ekonomi Dmitry Suslov tidak menganggap bahwa AS secara serius siap melakukan pemutusan perjanjian itu. "Hal tersebut lebih berupa ancaman. Washington memberikan Moskow pengertian mengenai kesiapannya akan perlombaan senjata sengit, seperti halnya pada tahun 1980-an. Selain itu, Gedung Putih berusaha menunjukkan kepada warga AS dan sekutunya bahwa AS siap mempertahankan kepentingannya dengan sungguh-sungguh, seperti halnya Moskow," terang Suslov kepada koresponden RBTH.

Klik untuk memperbesar infografis memperbesar infografis Sistem Pertahanan Misil NATO EuroPRO

Eropa di "Jalur Panas"

Penandatanganan perjanjian INF pada 1987 menjadi salah satu langkah penting dalam penurunan ancaman konflik perang nuklir antara AS dan Uni Soviet. "Menurut perjanjian, roket kelas yang sangat berbahayalah yang dilikuidasi. Mereka adalah jenis roket dengan waktu tempuh yang pendek hingga sasaran, karena hal tersebut dapat meningkatkan secara tajam peluang untuk mengubah insiden kecil apa pun menjadi perang skala besar," terang Direktur Dewan Rusia Urusan Internasional Ivan Timofeyev kepada koresponden RBTH. Selain itu, setelah penandatanganan perjanjian INF, AS menarik keluar roket-roketnya dan Eropa berhenti menjadi saran dari serangan Soviet.

Jika AS juga tetap memutuskan untuk mengakhiri perjanjian INF, akibat yang terjadi akan sangatlah serius, terutama dalam lingkup isu di Ukraina, yang masih belum menemukan titik terang antara Rusia dan Barat. "Situasi keamanan di Eropa akan memburuk secara tajam. Risiko konflik meningkat, perlombaan senjata akan dimulai, dan selanjutnya ada risiko akan eskalasi konflik yang tidak diinginkan," ujar Timofeyev berpendapat.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.