Klub Motor “The Night Wolves”, Patriotik atau Oportunis?

Dalam beberapa tahun belakangan, Night Wolves telah beroperasi di berbagai ranah. Foto: Alexei Druzhinin/RIA Novosti

Dalam beberapa tahun belakangan, Night Wolves telah beroperasi di berbagai ranah. Foto: Alexei Druzhinin/RIA Novosti

Juru bicara Parlemen Sevastopol Alexei Chaly menolak untuk memberi lahan di Krimea bagi klub motor The Night Wolves (Serigala Malam) tanpa proses lelang. Pada Senin (25/5), perselisihan antara Chaly dan pemimpin gerakan Night Wolves Alexander Zaldostanov, yang dijuluki "The Surgeon” (Sang Ahli Bedah) terkait sebidang tanah di Krimea akhirnya mencapai titik temu.

Sebelumnya, pada (12/5) pemerintah Sevastopol bersedia meminjamkan tanah untuk The Night Wolves yang akan digunakan sebagai lahan pembangunan pusat olahraga patriotik dengan diskon 99,9 persen, namun pada (22/5) keputusan tersebut dicabut.

Keesokan harinya, anggota klub motor mendatangi gedung Parlemen Kota Sevastopol dan mengajak Alexei Chaly berduel. Pada Senin (25/5), sang juru bicara akhirnya mengumumkan jawaban final: ia mengundang anggota The Night Wolves untuk bepartisipasi dalam tender resmi proyek pembangunan Gosforth Mountain.

Ini bukan pertama kalinya The Night Wolves menghiasi halaman utama media Rusia. Pada malam Hari Kemenangan yang ke-70, mereka mencoba untuk menapak tilas tempat-tempat di Eropa yang berhubungan dengan kejayaan militer Rusia. Hal tersebut tak mudah karena sejumlah negara Eropa menolak memberi izin, dengan alasan aksi dapat memicu tindak provokasi. Reaksi Barat tak mengejutkan, karena klub motor tersebut ada di bawah perlindungan Putin dan terlibat politik di Rusia.

Awalnya, Night Wolves memulai gerakan mereka sebagai oposisi pemberontak, namun kemudian mereka menjadi patriot yang disegani. Klub motor pertama muncul di Rusia pada 1989, didirikan oleh seorang doktor-rocker Alexander Zaldostanov, yang memiliki julukan "Sang Ahli Bedah". Klub motor ini memiliki hierarki, prinsip, dan tradisi yang ketat. Tapi, tak ada pecandu narkoba, pengedar narkoba, Satanis, atau homoseksual yang bergabung dengan klub motor ini. Dan yang paling penting, mereka tak pernah terlibat tindak kriminal.

Menjelang runtuhnya Uni Soviet, "Para Serigala" kerap menentang pemerintah. Mereka sering menjadi petugas penjaga keamanan pada konser rock, mengawal pengusaha, dan secara umum mencoba menanamkan 'filosofi manusia bebas'. Hal tersebut tiba-tiba berubah setelah Zaldostanov kecewa terhadap Barat. "Kita semua dicuci otak, membeli permen karet dan celana jeans... dan semua pembicaraan mengenai demokrasi dan hal-hal lain hanya untuk para pecundang," kata pemimpin klub motor ini berulang kali. Kini jumlah anggota klub motor Serigala Malam telah mencapai lima ribu orang dan Zaldostanov secara aktif mencoba melindungi landasan konservatif Rusia: Ortodoks dan pemerintah.

Barat juga bersikap tak bersahabat pada klub motor ini. Zaldostanov dan organisasinya masuk dalam daftar target sanksi anti-Rusia yang diterbitkan oleh AS dan Kanada, dan pada (19/5) Lembaga Keamanan Ukraina mengajukan gugatan pidana terhadap Zaldostanov karena dianggap mendanai terorisme (ia diduga memberi dana pada pejuang Republik Donetsk dan Lugansk yang telah memerdekakan diri, yang disebut Ukraina sebagai kelompok teroris).

Keuntungan yang Jelas

Tak mudah menyebutkan kapan tepatnya Night Wolves masuk ke ranah politik. Diperkirakan, itu bermula saat mereka pertama kali 'membuat kegaduhan' pada 2008, ketika mereka berpawai ke konser yang digelar untuk merayakan kemenangan Dmitry Medvedev pada pemilu presiden. Empat tahun kemudian, Sang Ahli Bedah menjadi orang kepercayaan Putin pada pemilu presiden 2012.

"Zaldostanov selalu mendukung kepentingan Putin, dan sejak itu proyek ini menjadi lebih dari sekadar klub motor," kata analis politik independen Alexei Vorobyev. "Tujuannya jelas: untuk mendapat keuntungan. Politik, sosial, dan tentu saja finansial."

Keuntungannya jelas. Pemerintah membantu mereka menggelar pameran motor berskala besar dan melakukan proyek sosial (pohon Natal dan festival untuk anak-anak). Proyek ini membuat Night Wolves dapat mengantongi bantuan dana senilai jutaan rubel dan pada Mei 2015 mereka diizinkan untuk menyewa sebidang tanah seluas 266 hektar di Sevastopol dengan diskon 99,9 persen: hanya 1,4 juta rubel. Namun, setelah keputusan Alexei Chaly, mereka harus mengikuti tender resmi.

Pendanaan tersebut baru diketahui belakangan, pada awal Mei lalu. Yayasan politik oposisi Alexei Navalny menyebutkan bahwa sejak pertengahan 2013 Night Wolves dan struktur yang berkaitan dengan pemimpin mereka telah menerima 56 juta rubel dari anggaran negara. "Semuanya benar," kata Zaldostanov mengonfirmasi isu tersebut pada situs resmi klub motor. "Kami telah memperjuangkan ide kami selama 25 tahun tanpa bantuan dana sama sekali. Dan jika kita bicara tentang jumlahnya, saya harus jujur mengatakan bahwa itu tak cukup, kami butuh lebih," kata Zaldostanov.

Patriotik?

"Fakta bahwa mereka menerima bantuan dana menunjukan bahwa pemerintah melihat kegiatan mereka berpihak pada kepentingan nasional dan merupakan bentuk untuk mengonsolidasi bangsa," kata analis politik pro-Kremlin dan profesor di Departemen Ilmu Politik Higher School of Economics Leonid Polyakov.

Dalam beberapa tahun belakangan, Night Wolves telah beroperasi di berbagai ranah. Mereka pernah menggelar pameran patriotik raksasa di Sevastopol pada 2010, dan Putin mengunjungi acara tersebut dengan mengendarai Harley. Kemudian, ada pula pawai motor "untuk mendukung Patriark Kirill Gereja Ortodoks Rusia dan nilai-nilai tradisional kemasyarakatan Rusia" (dipicu oleh skandal terkait band punk Pussy Riot, yang pada 2012 menyanyikan lagu di Katedral Kristus Sang Penyelamat dengan kata-kata, "Mother of God, drive Putin away" ("Bunda Maria, jauhkan Putin"). Mereka juga berjasa melindungi gedung Administrasi Sevastopol pada protes massal yang dilakukan oleh pendukung Maidan Kiev, Januari 2014 lalu. Mereka kemudian masuk dalam daftar target sanksi anti-Rusia karena dianggap mendukung aneksasi Krimea.

Tren Politik

Namun, agenda politik Night Wolves tak selalu berdampak positif bagi citra mereka. Grigori Kudryantsev dari klub motor Shtrafbat menilai bahwa yang menyebalkan bukanlah aktivitas politik The Wolves, melainkan spekulasi mereka tentang patriotisme. "Mereka mencoba untuk melakukan pawai dalam segala kesempatan, untuk Hari Kemenangan, untuk korban tragedi di Odessa (yang terjadi pada 2 Mei 2014). Mereka yang tak mau bepartisipasi segera dianggap sebagai musuh Rusia," kata Kudryantsev. "Kami juga berduka bagi orang-orang yang tewas di Odessa, namun kami tak ingin berdemonstrasi," kata Kudryantsev. Mereka, lanjut Kudryntsev, kini lebih menyerupai partai politik daripada klub motor.

"Nilai konservatif, patriotisme yang hampir seperti nasionalisme, anti-Barat, simpati untuk Stalin—yang merupakan karakteristik The Wolves—menjadi tren di Rusia saat ini," kata Igor Mintusov, Presiden Asosiasi Konsultan Politik Rusia dan anggota Asosiasi Konsultan Politik Eropa. Dan menurut Mintusov, hal tersebut memang sedang dikembangkan oleh pemerintah.

Menurut Presiden Insitut Strategi Nasional Mikhail Remizov, mempromosikan tren politik dapat membuat mempermudah tercapainya tujuan. Apa yang dilakukan The Wolves, menurut Remizov, diuntungkan dari kolaborasi berbuah manis dengan pemerintah. Tentu Kremlin juga tertarik dengan organisasi semacam ini. "Sejak tahun 90-an ada stereotipe bahwa lapisan masyarakat sipil yang aktif adalah mereka yang mengikuti model liberal-Barat," kata Remizov. Namun, situasi berubah, lanjut Remizov. Kini Rusia memberi landasan yang kokoh untuk kelompok nasionalis konservatif, yang dibutuhkan oleh pemerintah setidaknya untuk menyesuaikan keseimbangan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.