Rusia dan G7: Masihkah Ada Jalan untuk Rujuk?

Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara dengan Presiden AS Barack Obama di luar Istana Elmau di Kruen dekat Garmisch-Partenkirchen, Jerman, 8 Juni 2015. Foto: Reuters

Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara dengan Presiden AS Barack Obama di luar Istana Elmau di Kruen dekat Garmisch-Partenkirchen, Jerman, 8 Juni 2015. Foto: Reuters

Konferensi G7 yang baru saja digelar di Pegunungan Alpen Bavaria menandai titik terendah dalam hubungan fluktuatif Rusia dan Barat yang telah berlangsung selama 20 tahun. Upaya Barat untuk menghukum Moskow merupakan puncak dari seluruh drama kebijakan luar negeri yang berkaitan dengan Rusia sejak masa perestroika di bawah pemerintahan Gorbachev dan Yeltsin.

Namun, G7 masih membuka pintu bagi Rusia. Mereka menyatakan bahwa Rusia bisa diterima kembali ke dalam format tersebut, asalkan Moskow bersedia memikirkan ulang tindakannya terkait krisis di Ukraina.

Sejak hubungan Rusia dan Barat dingin membeku, isu ini semakin sarat akan muatan emosional dan politis. Dalam program Troika Report yang bertema “Engaging the West”, dua orang mantan diplomat terkemuka Rusia yang terlibat dalam proses bergabungnya Rusia ke dalam format G8 pada awal 1990-an bersitegang mengenai apa yang telah dipertaruhkan dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Georgy Kunadze, yang saat ini menjadi peneliti senior di Institute of World Economy and International Relations yang berbasis di Moskow, memberi kontribusi besar terkait bergabungnya Rusia ke dalam format G7. Kala itu ia menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Troika Report bertanya pada Kunadze: Apakah hubungan antara G7 dan Rusia telah mencapai titik di mana tak ada jalan untuk rujuk kembali? Atau masih adakah 'jalan pulang' bagi Moskow? Dan jika demikian, apa syarat dan ketentuannya? Kunadze, yang dikenal sebagai pengkritik kebijakan-kebijakan Kremlin, menjawab:

“Jika saya harus memilih antara poin-poin yang Anda sampaikan, saya lebih setuju dengan pernyataan pertama. Dalam situasi seperti saat ini, Rusia telah melewati titik tanpa jalan untuk kembali. Dalam wawancara dengan jurnalis Italia, Presiden Putin menekankan bahwa ia merasa ia telah melakukan semua hal dengan benar. Sementara, hal yang ia lakukan adalah penyebab dikeluarkannya Rusia dari format G8. Saya tak melihat ada ruang kompromi kecuali Presiden Putin siap mengakui bahwa ia melakukan kesalahan atas nama Rusia. Atau, G7 akan diam-diam mengakui bahwa “memang ini yang seharusnya terjadi” dan “pertunjukan harus tetap berlangsung”. Saya tak melihat ada kemungkinan, setidaknya untuk saat ini, Rusia atau anggota G7 mengambil langkah mundur dari posisi mereka saat ini.

“Kita harus menyadari perbedaan antara G7 dan Rusia. Rusia telah dikeluarkan dari G7 karena dianggap telah menganeksasi Krimea dan perang di Ukraina yang saat ini telah berlangsung selama satu tahun. Saya tak melihat kemungkinan G7 dapat menerima itu semua.”

— Menurut Anda, apakah Rusia dan G7 masih saling membutuhkan? Apakah ada hal yang membuat mereka harus duduk bersama dan berdiskusi?

“Kita hidup di planet yang sama, dan bagi Rusia perubahan politik dan kerangka berpikir kolektif bagaimanapun masih menjadi faktor penting. Oleh karena itu, G7 akan tetap mempertahankan hubungan dengan Rusia, namun dalam format yang berbeda. Rusia membutuhkan negara-negara G7 karena mereka bukan sekadar negara demokratis tapi juga pemimpin dalam politik dunia, begitu pula di bidang ekonomi dan keuangan. Dialog akan terus dilakukan, tapi tidak dalam format G8.”

— Anda berperan besar hingga membuat Rusia bisa bergabung dengan G7. Bagaimana perasaan Anda ketika kini semua upaya Anda sia-sia akibat sisa-sisa Perang Dingin?

“Tentu wajar jika saya berkata saya tak senang dengan hal ini. Ketika Rusia memutuskan untuk bergabung dengan G7, Rusia belum layak untuk menjadi anggota liga tersebut. Sejak itu, Rusia harus berjuang keras untuk mengejar dengan para pemimpin demokrasi dunia, bukan hanya dalam jumlah PDB tapi juga bagaimana Rusia mempersepsikan dirinya di dunia politik, ekonomi, dan hak asasi manusia. Pada pertengahan 1990-an, sepertinya Rusia mampu mengejar itu semua, tapi kemudian jarak terbentang semakin lebar. Kini, jarak tersebut sudah sangat mengerikan dalam segala bentuk.”

Apakah ini benar-benar akhir dari romantisme jangka pendek antara Rusia dan G7? Apakah Rusia seharusnya melihat jarak antara dua entitas tersebut sebagai hal yang ‘mengerikan’, seperti dikatakan Georgy Kunadze? Fyodor Shelov-Kovedyayev, seorang akademisi dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia yang juga memiliki peran penting dalam westernisasi Rusia pada pertengahan 1990-an memiliki pendapat yang berbeda. Ia menyatakan:

“Tentu bagaimanapun lebih baik kita berbicara daripada bertengkar. Namun, jika permainan telah berakhir, kita harus hidup masing-masing. Kini kita menyaksikan perang saraf, dan Barat kalah dalam pertempuran ini. Setelah Uni Soviet bubar, Barat dengan sombongnya berasumsi bahwa mereka memenangkan Perang Dingin dengan menggunakan teknik informasi dan senjata psikologis. Kini, Barat berupaya mengulang kembali apa yang mereka yakini sebagai kisah sukses, dan menghasut masyarakat Rusia untuk melakukan pemberontakan guna mengubah kebjakan luar negeri Moskow, dan mungkin, rezim yang kini berkuasa.

“Tekanan eksternal semacam ini tak akan berhasil, apalagi untuk Rusia yang memiliki warisan sejarah panjang. Paradoksnya, dilihat dari Barat, upaya tersebut malah sebaliknya mempersatukan masyarakat Rusia dan membuat mereka semakin menyanjung pemimpinnya. Pertemuan G7 telah memperlihatkan kekhawatiran akan hal itu.”

Dua opini yang berbeda dari dua orang diplomat papan atas di era Boris Yeltsin ini menujukan betapa krusialnya format G8, yang menjadi wadah untuk membicarakan berbagai macam isu. Kini, dengan status ‘perceraian’ secara de facto, Rusia kembali didorong ke Timur untuk mencari sekutu-sekutu baru.

Baca juga: Forum G20 Brisbane, Kesempatan Rusia Mencari Koalisi >>>

Artikel Terkait

Menlu Jerman Desak Rusia Kembali ke G8

Pejabat Rusia: Prospek Rusia Kembali ke Format G8 “Tidak Jelas”

Perpecahan di G20, Perselisihan BRICS dan G7 Semakin Tajam

Terima Kasih, Sanksi Barat!

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.