Mengapa Ada Warga Rusia yang Tertarik Bergabung dengan ISIS?

Menurut FSB, sepanjang tahun lalu, perekrut dari kelompok ekstremis telah menarik lebih dari 1.700 warga Rusia menjadi bagian dari mereka. Foto: Reuters

Menurut FSB, sepanjang tahun lalu, perekrut dari kelompok ekstremis telah menarik lebih dari 1.700 warga Rusia menjadi bagian dari mereka. Foto: Reuters

Sama seperti negara-negara Eropa lain, Rusia menghadapi ancaman berbahaya: warganya direkrut oleh teroris dan pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok Islam radikal. Para pakar yakin hal itu dipengaruhi oleh beragam alasan. RBTH mencari tahu apa alasan yang membuat beberapa warga Rusia memutuskan untuk bergabung dengan ISIS.

Pada awal Juni, media Rusia ramai memberitakan kisah mengenai Varvara Karaulova, seorang mahasiswa Universitas Negeri Moskow berusia 19 tahun yang mendadak hilang dan kemudian didapati beradai di Turki. Menurut keterangan keluarganya, ia meninggalkan Rusia untuk pergi ke Suriah dan bergabung dengan teroris ISIS. Penjaga perbatasan Turki berhasil menahan Karaulova saat ia dan sekelompok orang lain mencoba untuk menyebrang ke perbatasan Suriah secara ilegal.

Karaulova tumbuh di keluarga Rusia yang sekuler, ia fasih berbahasa Inggris dan Prancis dan mempelajari budaya Timur Tengah dan Arab di Universitas Negeri Moskow. Namun, sesuatu mengubah perilakunya. Ia mulai mengenakan hijab, membaca buku mengenai aksi-aksi Islam radikal, dan pada Rabu (27/5) tiba-tiba menghilang. Beberapa hari kemudian ia ditemukan di Turki. Saat ini, ia telah dideportasi kembali ke Rusia.

Karaulova bukan satu-satunya warga Rusia yang kedapatan bergabung dengan kelompok radikal dan ekstremis. Menurut FSB, sepanjang tahun lalu, perekrut dari kelompok ekstremis telah menarik lebih dari 1.700 warga Rusia menjadi bagian dari mereka. Beberapa pakar menyebutkan angka tersebut malah sebenarnya jauh lebih tinggi. Biasanya mereka merupakan orang-orang dari Republik muslim di Rusia, namun tak menutup kemungkinan sebagian berasal dari etnis Rusia.

Ini bukan fenomena baru: ada beberapa kasus di mana warga Rusia berperang di pihak Wahabi, bahkan sebelum kemunculan ISIS. Sebagai contoh, seorang pemimpin gerakan bawah tanah teroris Kaukasus di akhir tahun 2000-an adalah seorang dari etnis Rusia, Said Buryatsky, yang nama aslinya Alexander Tikhomirov dan dieliminasi pada tahun 2010.

Daya Tarik Ekstremis

Seperti yang diketahui, bukan hanya warga Rusia yang pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Seorang sarjana Arab sekaligus Doktor Ilmu Sejarah Georgy Mirsky menyampaikan pada RBTH bahwa, "Bulan lalu tercatat 1.733 orang Prancis pergi untuk bergabung dengan ISIS, dan secara statistik, seperlima dari mereka bukan berasal dari keluarga muslim, namun mereka direkrut oleh para teroris itu. Sementara, sekitar 30 persen perempuan yang bergabung dengan ISIS sebelumnya bukan muslim.”

Apa yang membuat para pemuda, yang tumbuh di keluarga Barat yang sekuler, mengubah penampilan mereka secara radikal dan memutuskan untuk bergabung dengan kelompok teroris? Psikolog Rusia Pavel Ponomarev yakin bahwa hal tersebut berkaitan dengan krisis eksistensial yang dihadapi oleh para anak muda.

“Jika kita bicara tentang Karaulova, kita akan melihat bahwa ia mencoba untuk melakukan bunuh diri sosial, yakni ia berusaha menarik dirinya dari masyarakat tempat ia tinggal dan mencari identitas baru di dunia yang berbeda. Para anak muda lain juga melalui krisis serupa: masyarakat tak memberi mereka kesempatan untuk mengekspresikan dirinya, malah memberi batasan-batasan yang keras. Intensi untuk membebaskan diri dari masyarakat tersebut dan mendapatkan segalanya secara instan dalam sistem yang berbeda terdengar sangat menarik dan mereka siap untuk mempertaruhkan nyawanya untuk itu.”

Georgy Mirsky memiliki pendapat senada. Ia membandingkan popularitas ekstremisme Islam dengan tahun 1930-an ketika para pemuda Barat tertarik untuk bergabung dengan gerakan radikal yang marak saat itu—komunis dan fasis.

“Saat ini tak ada negara fasis atau yang benar-benar komunis, dan untuk melawan kejemuan dalam kehidupan sehari-hari muncul gerakan besar baru, yakni Islam radikal. Proses rekrutmen dilakukan di dua tempat: internet dan masjid.” Menurut Mirsky, kisah Varvara Karaulova menunjukan bahwa Rusia masih meremehkan ancaman Islam radikal: "Hal yang paling mengherankan adalah semua orang—keluarganya, teman-temannya—tak ada yang menyadari apapun sebelum ia menghilang. Ini benar-benar mengerikan.”

Isu Islam

Meski ada terdapat pertumbuhan popularitas ekstremisme di kalangan pemuda sekuler, namun target utama yang diincar oleh agen teroris, terutama ISIS, ialah merekrut umat Islam. Berdasarkan wawancara dengan khatib ISIS yang dipublikasikan di Medusa pada Mei lalu, “tak kurang dari 1.500 warga Rusia, separuh dari Dagestan dan separuh dari Chechnya, bertempur untuk ISIS (keduanya masyarakat muslim -red.). Untuk mencari tahu mengapa popularitas radikal tumbuh di kalangan muslim Rusia, RBTH berbicara dengan Varvara Pakhomenko, seorang ahli mengenai Kaukasus dan konsultan di International Crisis Group.

Pakhomenko percaya bahwa ada tiga alasan meningkatnya popularitas radikalisme di kalangan muslim. Pertama adalah ketidakpuasan dengan kualitas pemerintah. “Saat ada ketidakpuasan akibat korupsi, masyarakat sadar bahwa sangat sulit bahkan tak mungkin untuk mengubah situasi, dan banyak muslim yang mulai berpikir bahwa keadilan hanya bisa muncul jika pemerintah sekuler digantikan dengan kalifah yang bekerja sesuai hukum Syariah.”

Alasan kedua berkaitan dengan semangat yang berlebihan di kalangan penegak hukum, yang kadang bukan memerangi kriminalitas tapi melakukan tebang pilih pada kasus yang berhubungan dengan Islam.

“Ketika orang-orang dihukum bukan karena melanggar hukum namun karena mereka memiliki janggut panjang atau datang ke masjid yang salah, hasilnya radikalisasi menarik perhatian bagi mereka, bahkan bagi penganut Islam moderat,” terang Pakhomenko.

Alasan ketiga terletak pada ikatan yang kuat antara muslim Kaukasus dengan Timur Tengah, khususnya Suriah. "Banyak warga Kaukasus Utara yang merasa iba terhadap situasi di Timur Tengah dan memutuskan untuk bergabung dengan gerakan radikal,” tutur sang pakar.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.