Blatter Mengundurkan Diri, Apakah Piala Dunia 2018 Rusia Terancam?

Foto: EPA.

Foto: EPA.

Pengunduran diri Presiden FIFA Joseph Blatter secara tiba-tiba pada Selasa (2/6) lalu setelah ia terpilih kembali menjadi pemimpin lembaga tersebut mengejutkan Menteri Olahraga Rusia. Namun, pengumuman tersebut tak menggoyahkan kepercayaan diri Rusia bahwa Piala Dunia 2018 akan tetap digelar di Rusia seperti yang direncanakan sebelumnya, meski ada desakan yang disuarakan pihak-pihak tertentu untuk mencabut hak Rusia menggelar perhelatan akbar tersebut.

Pengunduran diri Presiden FIFA Joseph Blatter mengejutkan para pejabat olahraga Rusia, yang menghubungkan hal tersebut dengan tekanan yang diberikan pada sang pejabat sepak bola karena skandal korupsi. Di saat yang sama, mereka yakin tak ada alasan untuk meninjau kembali keputusan untuk menggelar Piala Dunia 2018 di Rusia, sebuah keputusan yang didukung oleh Blatter.

Mengomentari langkah Blatter, Menteri Olahraga Rusia Vitaly Mutko menyampaikan pada R-Sport Agency bahwa Presiden FIFA mengambil keputusan yang berani, demi cintanya untuk FIFA. Mutko juga menekankan bahwa hal tersebut merupakan keputusan yang tak pernah diduga oleh banyak federasi dan keluarga sepak bola dunia. Ia menghubungkan pengunduran diri Blatter dengan tekanan yang diberikan beberapa pihak pada malam Kongres FIFA yang digelar pada akhir minggu lalu di Zurich, akibat skandal korupsi yang tengah menggerogoti FIFA.

"Bukan Keputusan Satu Orang Belaka"

Beberapa hari sebelum kongres, sejumlah pejabat tinggi FIFA ditahan atas tuduhan kasus korupsi. Media massa melaporkan pada Selasa (2/6) bahwa FBI dan Kementerian Peradilan AS juga tengah menginvestigasi Blatter.

Joseph Blatter, yang menjadi Presiden FIFA sejak 1998 dan terpilih kembali untuk kelima kalinya pada Jumat (29/5) lalu, secara tak terduga mengumumkan pengunduran dirinya dalam konferensi pers pada Selasa (2/6). Ia menyampaikan keputusan tersebut berhubungan dengan fakta bahwa pemilihan kembali dirinya tak didukung oleh semua pihak. Ia akan melepaskan jabatannya pada Kongres Khusus FIFA yang akan dilaksanakan antara Desember 2015 hingga Maret 2016 mendatang.

Setelah Blatter mengumumkan pengunduran dirinya, Kepala Asosiasi Sepak Bola Inggris Greg Dyke menyebutkan lokasi Piala Dunia 2018 dan 2022 bisa saja ditinjau ulang (Qatar seharusnya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022). Bicara mengenai Piala Dunia di Rusia dalam sebuah wawancara bersama stasiun televisi Rusia Rossiya 24, Mutko menyebutkan bahwa keputusan tersebut bukanlah keputusan satu orang belaka, namun seluruh komite eksekutif. "Tak ada ancaman yang mengintai Piala Dunia 2018 di Rusia," kata Mutko.

Presiden Kehormatan Asosiasi Sepak Bola Rusia dan mantan anggota Komite Eksekutif FIFA dan UEFA Vyacheslav Koloskov menyatakan hal yang senada. Dalam wawancara bersama Sport Express, ia menyampaikan, "Bahkan kini (setelah keputusan Blatter), tetap tak ada alasan untuk memindahkan lokasi pertandingan Piala Dunia 2018 ke negara lain, untuk merebutnya dari Rusia."

Kotak Pandora

Para pakar sepak bola Rusia juga berpandangan sama, tak melihat ada ancaman nyata pada Piala Dunia 2018 mendatang. Mantan Kepala Biro Moskow FIFA Valery Chukhry menggarisbawahi bahwa keputusan untuk menjadikan Rusia tuan rumah Piala Dunia 2018 dibuat secara kolektif oleh Komite Eksekutif FIFA, bukan hanya keputusan Blatter. Maka, ia mengaku tak melihat ada alasan untuk merampas hak Rusia menggelar perhelatan tersebut.

Namun, sang pakar juga menyebutkan situasi bisa saja menjadi rumit jika tim investigasi menemukan informasi yang berkaitan dengan Rusia. Direktur Jenderal portal berita sport.ru Dmitri Navosh menyatakan "Kotak Pandora telah dibuka" dan akan ada informasi terkait kasus korupsi FIFA yang mungkin melibatkan Rusia. Namun, Navosh menegaskan bahwa jika pejabat FIFA terbukti korupsi pun bukan berarti keputusan yang dibuat sebelumnya akan langsung dicabut, karena hal itu akan sangat berisiko. Selain itu, Rusia juga sejauh ini belum disinggung oleh lembaga penegak hukum Amerika yang melakukan investigasi.

Valery Chukhry juga menyampaikan bahwa Blater akan tetap berstatus presiden untuk hampir setahun ke depan. "Lagipula, jika FIFA memutuskan untuk memindahkan pertandingan dari Rusia, mereka tak akan punya cukup waktu untuk mempersiapkannya di negara lain," tutur Chukhry.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.