Dewan Mufti Rusia Adopsi Fatwa Baru Terkait Patriotisme Umat Islam Rusia

Ancaman radikalisme Islam merupakan salah satu alasan mengapa fatwa terbaru ini sangat mengedepankan perdamaian. Foto: AP.

Ancaman radikalisme Islam merupakan salah satu alasan mengapa fatwa terbaru ini sangat mengedepankan perdamaian. Foto: AP.

Pada Rabu (27/5), Dewan Mufti Rusia mengadopsi sebuah fatwa yang mendefinisikan posisi dan peran umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat di Rusia, baik dari sudut pandang Islam maupun perspektif hukum sekuler. Fatwa ini bersifat patriotik dan mendorong umat Islam untuk bersikap loyal terhadap negara.

Fatwa ini digodok oleh sejumlah pakar yang terdiri dari perwakilan Dewan Mufti Rusia (salah satu organisasi muslim yang paling berpengaruh di Rusia), bersama para teolog, ilmuwan agama, serta akademisi. Dokumen tersebut berisi rekomendasi bagi umat Islam terkait cakupan isu yang luas, mulai dari sikap terhadap negara hingga masalah sehari-hari. Ketentuan fatwa ini didukung baik oleh hukum Islam, yakni Al-Quran dan Kitab Sunnah (ajaran dan praktik Nabi Muhammad), serta hukum sekuler Rusia.

Fatwa ini menguraikan pandangan para teolog muslim yang loyal pada penguasa dan menyebutkan bahwa seorang muslim sejati harus seperti itu. Pertama, seorang muslim sejati harus memiliki patriotisme. "Cinta pada tanah air sangat penting dari sudut pandang ajaran Islam," tulis fatwa tersebut. Ini mencakup sentimen patriotik dan kaitannya dengan hukum yang berlaku. Doktrin ini menyatakan bahwa seorang muslim memiliki tanggung jawab kebijakan sosial yang sesuai dengan konstitusi. Seorang muslim juga harus menjadi orang yang cinta damai: fatwa menyebutkan bahwa setiap usaha harus dibuat untuk menghindari perang adalah bentuk jihad. Sebuah jihad militer hanya boleh dilakukan atas perintah dari penguasa yang sah.

Ancaman Radikalisme

Ini bukan doktrin sosial pertama yang diadopsi oleh ilmuwan muslim Rusia. Doktrin sebelumnya dipublikasikan pada 2001. Dalam wawancara bersama RBTH, salah seorang akademisi yang bepartisipasi dalam mengolah fatwa baru ini, Wakil Rektor Moscow Islamic Institute Damir Khayretdinov menjelaskan, "Situasi telah banyak berubah sejak adopsi doktrin yang pertama. Doktrin tersebut berhasil mencipakan stabilitas di Rusia (dengan mengakhiri kekacauan di Kaukasus Utara -red.), sementara secara global, sayangnya, situasi justru sebaliknya." Khayretdinov menyebutkan, banyak para pemuda muslim—termasuk dari Rusia—yang terpengaruh oleh para ekstremis. Beberapa dari mereka bahkan pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok teroris di sana. Sang cendekiawan menegaskan bahwa salah satu tujuan utama doktrin baru ini adalah menjaga generasi muda untuk bertahan dalam Islam tradisional.

Ancaman radikalisme Islam merupakan salah satu alasan mengapa fatwa terbaru ini sangat mengedepankan perdamaian. Khayretdinov menjelaskan, "Terdapat dua bagian besar fatwa yang didedikasikan bagi kehidupan muslim yang damai, agar bisa berdampingan dengan pemeluk agama lain, serta penjelasan mengenai sikap yang benar terkait jihad dan Takfir. Takfir adalah suatu praktik ketika para pemimpin agama menyatakan bahwa negara tertentu adalah kafir dan muslim harus berperang melawan negara tersebut (praktik ini merupakan salah satu prinsip fundamental ISIS -red.). Doktrin ini menyebutkan bahwa takfir tak seharusnya diterapkan saat ini."

Apakah Akan Berdampak?

Doktrin ini akan mulai berlaku secara resmi pada bulan Juni, setelah ditandatangani oleh tiga organisasi muslim utama di Rusia. Damir Khayretdinov yakin umat muslim di Rusia akan menghormati fatwa baru ini.

Sementara, pakar terkait Studi Kaukasus di International Crisis Group Varvara Pakhomenko menyampaikan pada RBTH bahwa otoritas para teolog di balik fatwa ini tidak bersifat absolut bagi seluruh umat Islam. "Harus diingat bahwa Islam berbeda dengan umat Kristen yang memiliki institusi tunggal gereja, yang bisa mengatakan, 'Lakukan ini atau itu.' Perintah mufti dihormati oleh sebagian besar umat Islam, tapi tidak di semua tempat. Banyak komunitas, khatib yang berpengaruh, termasuk yang radikal, yang menentang para mufti."

Menurut Pakhomenko, kelemahan lain doktrin ini adalah fokusnya pada "Islam tradisional" sebagai pilar kehidupan bermasyarakat di Rusia. Hal ini membuat para pendukung gerakan radikal tereksklusi dari dialog antara pemerintah dan komunitas muslim.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.