Lavrov Tak Percaya Ada Konspirasi AS-Arab Saudi di Balik Jatuhnya Harga Minyak

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Foto: Olesya Kurpyaeva/RG

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Foto: Olesya Kurpyaeva/RG

Apakah jatuhnya harga minyak merupakan konspirasi antara AS dan para syekh Saudi? Apakah Rusia siap membantu Amerika jika mereka butuh bantuan? Di kantor Rossiyskaya Gazeta, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menjawab beberapa pertanyaan semacam itu dengan jujur dan diplomatis.

Rossiyskaya Gazeta (R.G.): Apakah tekanan AS terhadap Eropa benar-benar kuat?

Sergey Lavrov (S.L.): Tekanan yang diberikan AS memang kuat. Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyampaikan pada saya dan Presiden Rusia bahwa semua yang ditulis Rusia tentang Amerika yang menentang negeri kita, menciptakan intrik melawan Rusia dan mitra-mitra Rusia, bahwa Amerika berupaya menciptakan semacam “revolusi warna” di Rusia, adalah hal yang tidak benar. Amerika tak berusaha menentang Rusia, Amerika tertarik dengan negara kami yang sangat demokratis, katanya.

Tapi, saya rasa itu hanya dalam konteks untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kepentingan Amerika. Pada beberapa kesempatan, saya menyampaikan beberapa contoh bagaimana Amerika selalu memberi tekanan pada para sekutunya.

Namun, Eropa selalu memiliki titik terang dalam semua masalah. Beberapa negara Eropa tak mau memperburuk hubungan dengan Rusia. Mereka tak suka dengan apa yang terjadi saat ini.

Hal yang terpenting adalah kini telah ada dokumen Minsk, yang bisa menjadi referensi bagi semua pihak yang meminta Rusia melakukan tindakan tertentu. Bacalah naskah Kesepakatan Minsk. Kontrol perbatasan harus dilaksanakan pada akhir proses ini.

Mereka melupakan fakta bahwa Kiev harus mengeluarkan kebijakan terkait status khusus Donbas, bukan memutarbalikkan fakta dengan menyebutkan itu sebagai pendudukan Rusia. Kita tak bisa membenarkan langkah Ukraina yang melakukan blokade terhadap perekonomian Donbas.

R.G.: Kadang kita mendapat kesan bahwa Presiden Poroshenko 'memainkan kartunya' antara Eropa dan Amerika. Bagaimana menurut Anda?

S.L.: Pada taraf tertentu, ya. Tapi ia perlu melakukannya agar Amerika tidak menentang dirinya. Namun ketika Petro Alexeevich Poroshenko berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin melalui telepon ketika, misalnya, mereka melakukan pembicaraan dalam Format Normandy, ia mencoba untuk menjadi pragmatis dan menyelesaikan beberapa masalah.

R.G.: Menurut Anda, bagaimana masa depan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk?

S.L.: Sesuai dengan pernyataan Presiden Rusia, kami selalu menyebutkan bahwa kami ingin republik tersebut tetap menjadi bagian dari Ukraina. Mereka hanya melakukan proyek konstitusional mereka, yang ingin menegaskan status yang ada dalam Kesepakatan Minsk: republik akan menjadi bagian dari Ukraina, kemudian mereka akan menggelar reformasi konstitusional untuk memperkuat status tersebut secara permanen. Proyek tersebut menjelaskan apa yang dimaksud dengan desentralisasi. Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis François Hollande yang menulis definisi tersebut di Minsk.

R.G.: Apakah fakta bahwa selama konferensi pers di Sochi Menteri Luar Negeri AS John Kerry tak menyebut Krimea sama sekali berarti AS telah menerima kondisi saat ini terkait Krimea?

S.L.: Ia tak hanya tidak menyinggung Krimea dalam konferensi tersebut, tapi ia juga tak membicarakannya dengan saya ataupun Vladimir Putin. Silakan simpulkan sendiri.

R.G.: Dari sudut pandang Anda, apakah jatuhnya harga minyak disebabkan oleh konspirasi antara AS dan Arab Saudi?

Saya rasa tidak. Anda tahu, ada banyak faktor yang bermain di sini. Apakah Amerika benar-benar berinvestasi miliaran dolar untuk mengembangkan shale gas, dengan semua risiko lingkungannya, hanya karena 'mengincar' Rusia? Mereka juga merusak diri mereka sendiri karena sejak jatuhnya harga minyak, sebagian besar cadangan shale gas AS kehilangan nilainya. Artinya, jika benar demikian, mungkin pemerintah Amerika harus berkata pada para perusahaan swasta yang mengembangkan sumber daya shale, "Rekan-rekan, kalian akan sengsara, tapi kalian harus mampu bertahan". Saya rasa tidak.

Perkembangan Tiongkok sedikit melambat (dan bagi perhitungan Tiongkok, satu persen sekalipun adalah angka yang besar) dan ini segera berdampak pada semua pihak. Saudi tak mau mengurangi jumlah produksi atau ekspor mereka, meski mereka sendiri merugi. Mereka meramalkan anggaran mereka akan mengalami defisit akibat rencana kolosal Arab Saudi. Namun mereka tak mau mengurangi produksi, karena mereka menganggap jika mereka meninggalkan pasar tertentu, posisi mereka akan diambil oleh pihak lain. Mereka tak suka akan hal itu.

Saya rasa ini bukan konspirasi. Meski banyak orang yang menyatakan bahwa ini memang membuat Rusia kalang-kabut dan tertekan habis-habisan. Namun, saya tak mendukung kehadiran teori konspirasi di balik ini semua.

R.G.: Apakah Rusia akan membantu AS jika mereka membutuhkan bantuan?

 

S.L.: Pada 2001 lalu, Presiden Rusia adalah orang pertama yang menghubungi Presiden AS George Bush setelah aksi terorisme pada 11 September 2001. Kami segera menawarkan bantuan. Kami kemudian berdialog untuk memerangi terorisme, meski kami tak selalu bisa percaya pada Amerika. Ketika Amerika menghadapi masalah, baik berupa serangan teroris atau bencana alam seperti banjir, kami selalu menawarkan bantuan. Orang-orang Rusia, saya pikir, memang selalu tergerak membantu mereka yang menghadapi masalah, dan itu mengalir di darah kami.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Rossiyskaya Gazeta.

Baca juga: Moskow dan Washington Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Lawan ISIS >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.