Ramzan Kadyrov: Ancaman Keamanan Nasional Atau Loyalis Kremlin?

Selama bertahun-tahun diliput oleh media Rusia, Kadyrov berhasil menciptakan citra sebagai pemimpin yang sangat kuat, orang yang selalu membuat kejutan dan melontarkan pernyataan yang sensasonal. Sayangnya, selama ini para analis hanya menyorot Kadyrov dan pernyataan-pernyataannya yang penuh warna, tanpa mengaitkannya dengan konteks politik yang lebih luas. Padahal, tindakan pencitraan yang dibuat-buat dan memalukan yang dilakukan Kadyrov berdampak tak hanya bagi Chechnya sendiri, tapi juga bagi Rusia secara keseluruhan.

Ilustrasi oleh Tatyana Perelygina.

Mengamati Kadyrov, sulit untuk tidak beropini bahwa ia secara bertubi-tubi dan berulang-ulang mengabaikan prinsip bahwa kebijakan fungsional membutuhkan kepala daerah yang kooperatif.

Retorika pemimpin Chechnya ini selalu berisi sentimen anti-Barat dan perlakuan sewenang-wenang terhadap norma hukum konstitusional. Ia selalu menunjukan dirinya sendiri sebagai pemimpin yang hipertrofi, seringkali dalam bentuk yang berlebihan.

Misalnya, ia menuduh badan intelejen AS menetapkan Tsarnaev bersaudara (Dzhokhar dan Tamerlan, orang Chechnya) sebagai pelaku Boston Marathon untuk menyembunyikan keterlibatan mereka sendiri dalam tragedi bom tersebut.

Ia juga meminta pertanggungjawaban kolektif bagi para keluarga militan Chechnya, yang jelas bertentangan dengan peraturan hukum Rusia.

Loyalitas atau Otonomi?

Rusia selalu memilih orang yang memiliki loyalitas tinggi terhadap Kremlin sebagai pemimpin Chechnya sejak abad ke-19, ketika Kekaisaran Rusia merebut wilayah tersebut dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).

Setelah mengakhiri perang pada tahun 1990-an, penggabungan Chechnya ke dalam lingkup hukum dan sosial-budaya nasional masih memunculkan sejumlah pertanyaan, apakah mungkin pemerintah Rusia bisa memberi hak khusus bagi warga Republik Chechnya (mereka harus memiliki hak yang sama seperti orang Sarotov atau Samara) dan membiarkan mereka bergabung dengan pasukan bersenjata Rusia, sementara pemimpin mereka merupakan subordinat dari hukum Rusia.

Sekilas, sulit untuk membayangkan ada pemimpin regional di Federasi Rusia sekarang ini yang lebih loyal pada presiden Rusia daripada Ramzan Kadyrov (yang merupakan salah satu dari yang pertama yang menyarankan gubernur federasi untuk menanggalkan gelar "presiden"). Banyak jurnalis dan turis yang mengunjungi Grozny kerap membandingkan kota tersebut bukan dengan ibukota-ibukota wilayah Kaukasus Utara yang bertetangga dengan Chechnya, namun dengan kota-kota kaya raya di Teluk Persia dan Asia Timur.

Semua kemakmuran tersebut didapatkan dari status khusus yang disandang Chechnya secara de facto, yang membuat republik tersebut tak hanya menerima keuntungan ekonomi, tapi juga kebebasan ideologi (terbukti dalam demonstrasi masa "I'm not Charlie" pada Januari lalu di Grozny untuk mempromosikan solidaritas Muslim) serta demonopolisasi parsial atas tekanan pemerintah terhadap wilayah tersebut.

Hierarki Vertikal

Penyusunan hierarki kekuasaan vertikal yang sangat tegas di Chechnya dan tidak adanya oposisi di wilayah tersebut (bahkan dibandingkan dengan Rusia secara keseluruhan) merupakan fenomena cukup membingungkan, karena secara historis prinsip pemerintahan semacam itu adalah hal yang asing bagi Chechnya, sangat kontras dengan dinamika budaya multipolar Chechnya yang independen pada 1990-an.

Setelah mengukuhkan strategi hierarki vertikal di Chechnya, langkah logis selanjutnya adalah mencoba mengekspornya (dengan beberapa cara) ke wilayah lain di Rusia.

Krisis Ukraina dan meningkatnya aura defensif di Rusia menjadi kesempatan yang sangat tepat untuk mendoktrinkan prinsip semacam itu di masyarakat. Namun, Chechnya sebenarnya memiliki alasan yang lebih dalam. Strategi "kedaulatan yang bersumber dari luar" telah digunakan di Chechnya sejak awal 2000-an, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan Kadyrov mengimplementasikan struktur kekuasaan terpusat yang kuat di wilayah tersebut demi terciptanya stabilitas.

Namun, konsekuensi strategis dari pendekatan ini bukan kehadiran Rusia di Chechnya, melainkan "Chechnya-nisasi Rusia".

Bermain di Papan Catur yang Berbeda

Secara hipotesis, Ramzan Kadyrov bisa bermain di beberapa "papan catur" politik sekaligus. Ia bisa berperan sebagai pemimpin seluruh Kaukasus, juru bicara Muslim Rusia, dan pejabat level federal sekaligus. Namun, jika diamati lebih jeli, ketiga skenario tampaknya memiliki sejumlah kelemahan dan sarat dengan potensi konflik.

Mengenai situasi di Kaukasus, Chechnya memiliki hubungan buruk dengan tetangga-tetangganya. Terdapat perselisihan yang belum terselesaikan terkait perbatasan administratif dengan Ingushetia dan isu perebutan kembali wilayah Aukhovsky di Dagestan, yang mayoritas penduduknya merupakan orang Chechnya.

Sementara, pada faktanya budaya politik Dagestan tidak menerima 'pendekatan' vertikal. Di Dagestan yang multietnis, tak ada subordinasi tegas pada satu pusat, dan kekuasaan didistribusikan pada para perwakilan kelompok etnis yang berbeda. Oleh karena itu, kemungkinan pemimpin Chechnya menjadi juru bicara untuk semua warga Kaukasus sangatlah kecil.

Menjadi juru bicara untuk seluruh Muslim Rusia juga hal yang mustahil. Di Rusia, khususnya di Kaukasus Utara sendiri—tanpa perlu menyinggung wilayah Volga—Islam merupakan fenomena yang heterogen. Sebelumnya pernah ada upaya untuk menyatukan Dewan Mufti di Rusia, Organisasai Pusat Spiritual Muslim, dan Pusat Koordinasi Muslim Kaukasus Utara di bawah satu struktur, dan hal itu tak berhasil.

Dan jika kita mencoba bicara tentang karir federal Kadyrov, para pejabat di kementerian pusat sering tak puas dengan langkah-langkah Kadyrov yang dianggap amatiran. Insiden terbaru di Grozny yang menunjukan bahwa kepentingan Kadyrov kerap bertabrakan dengan Kementerian Dalam Negeri Rusia bisa dijadikan contoh yang tepat.

Setelah perwakilan kepolisian regional Stavropol melakukan operasi khusus di ibukota Chechnya pada 19 April lalu dan membunuh Dzhambulat Dadaev yang masuk dalam daftar orang yang paling dicari di seluruh Rusia (terkait kasus pembunuhan Boris Nemtsov), Kadyrov menyatakan bahwa jika lembaga penegak hukum dari wilayah lain kembali melakukan operasi di Chechnya tanpa pemberitahuan sebelumnya terhadap pemerintah republik, pasukan keamanan Chechnya siap untuk meletuskan senjata dan menembak pasukan khusus tersebut. Pernyataan tersebut jelas mendapat kritik tajam dari Kementerian Dalam Negeri Rusia secara terbuka pada pemimpin Chechnya.

Dengan demikian, tantangan utama Rusia saat ini adalah berupaya menyalurkan "energi mendidih" pemimpin Chechnya secara tepat. Solusinya bukanlah serangan fisik, melainkan strategi yang penuh pertimbangan. Namun, pendekatan ini berbahaya, karena bisa jadi situasi oposisi administrasi milter yang sangat keramat di Chechnya malah menjadi aturan umum bagi seluruh negeri.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Penulis adalah profesor rekanan dalam Studi Regional Luar Negeri dan Kebijakan Luar Negeri di Russian State Humanistic University.

Baca selanjutnya: Pernikahan Poligami Kontroversial di Chechnya Picu Kemarahan Warga Rusia >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.