Mengapa Kim Jong-Un Menolak Hadiri Parade Hari Kemenangan?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (tengah) memandu latihan peluncuran roket ganda dari subunit perempuan yang berada di bawah KPA Unit 851, di foto tanpa tanggal yang dirilis oleh Korean Central News Agency (KCNA) Korea Utara. Foto: Reuters

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (tengah) memandu latihan peluncuran roket ganda dari subunit perempuan yang berada di bawah KPA Unit 851, di foto tanpa tanggal yang dirilis oleh Korean Central News Agency (KCNA) Korea Utara. Foto: Reuters

Penolakan Kim Jong-Un untuk menghadiri Parade Hari Kemenangan di Moskow membuat banyak orang di Rusia mengangkat alis. Namun, para pakar dan politisi Rusia sepakat bahwa hal tersebut tak akan memengaruhi hubungan Rusia dan Korea Utara.

Keputusan Kim Jong-Un untuk tidak menghadiri Parade Hari Kemenangan di Moskow pada 9 Mei lalu menarik perhatian masyarakat Rusia.

Runet (segmen warga Rusia di internet) dibanjiri dengan cemoohan sarkastik seperti, "Saya tak akan mengunjungi diktaktor ini—Putin". Akun Twitter parodi President's Thoughts berkicau sebagai Jong-Un dan menuliskan, "Saya tak punya waktu... Saya harus menembak ribuan musisi di negeri saya." (Hal itu mengacu pada laporan kantor berita Yonhap yang menyebutkan Kim Jong-Un memerintahkan eksekusi pada empat musisi anggota orkestra nasional.)

Di saat yang sama, Kremlin menolak mengomentari keputusan tersebut. Dmitry Peskov, juru bicara kepresidenan Rusia, menyebutkan bahwa pemimpin Korea Utara, yang sebelumnya telah merencanakan kedatangannya ke Moskow, memutuskan untuk tetap berada di Pyongyang pada tanggal 9 Mei. "Ia tak bisa datang ke Moskow. Keputusan ini disampaikan melalu jalur diplomatik," terang Peskov.

Ketika ditanya kapan kira-kira Vladimir Putin akan bertemu dengan Kim Jong-Un, Peskov menyatakan sejauh ini belum ada rencana konkret terkait hal tersebut.

Kremlin juga menyangkal spekulasi bahwa Moskow berpotensi menerima komplain dari luar negeri terkait kehadiran pemimpin Korea Utara yang tak diinginkan dalam perayaan Hari Kemenangan. "Tidak, tentu tidak," kata Peskov.

Alasan Jong-Un

Dalam wawancara bersama RBC, Konstantin Khudolei, profesor hubungan internasional di St. Petersburg State University, menyebutkan beberapa kemungkinan mengapa sang pemimpin Korea Utara melewatkan acara tersebut.

Pertama, tutur Khodulei, mungkin Kim Jong-Un mengikuti jejak ayah dan kakeknya untuk melanjutkan tradisi "tak bepartisipasi" dalam kegiatan internasional di mana ia tak menjadi figur utama, atau setidaknya satu dari dua atau tiga figur utama.

"Dalam perayaan peringatan 70 tahun kemenangan Soviet atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II, Kim Jong-Un tentu tak menjadi sosok yang penting. Banyak pengunjung lain, terutama Xi Jinping, yang akan menempati posisi yang lebih tinggi dalam hierarki itu," kata Khudolei.

Ia menambahkan, terdapat perbedaan persepsi mengenai signifikansi tahun 1945. "Dari sudut pandang Pyongyang, arena utama Perang Dunia II bukan Eropa, melainkan Asia," kata Khudolei. "Pemimpin blok musuh adalah Jepang, bukan Nazi Jerman. Sehingga, pahlawan utama Perang Dunia II bagi mereka adalah Kim Il-Sung, bukan tentara Soviet. Oleh karena itu, kunjungan ke Moskow akan menunjukkan pengakuan akan pentingnya panggung Eropa dalam perang tersebut. Sepertinya, pemimpin Korea Utara belum siap mengakui hal tersebut."

Khudolei juga percaya bahwa hubungan antara Rusia dan Korea Utara lebih bersifat taktis daripada strategis. "Setelah eksekusi Jang Sung-Taek, Kim Jong-Un memiliki hubungan yang kurang baik dengan Tiongkok," terang Khudolei. "Tentu, hubungan dengan AS tetap tegang. Saya yakin Pyongyang memantau membaiknya hubungan Washington dan Havana. Saya pikir tujuan utama sang pemimpin Korea adalah melakukan rekonsiliasi dengan Washington. Kunjungan ke Moskow tak akan membantunya memperbaiki hubungan baik dengan Beijing maupun Washington," tutur Khudolei.

Tak Berdampak pada Hubungan Bilateral

Para politisi yakin keputusan pemimpin Korea Utara itu tak akan memengaruhi hubungan bilateral Rusia-Korea Utara. "Ini tentu tak perlu menjadi alasan untuk mempertanyakan kesepakatan yang telah tercapai," kata Menteri Pembangunan Timur Jauh Alexander Galushka. "Menurut saya, hal tersebut sama sekali tak berhubungan."

Ia menyebutkan, presiden Korea Selatan pun memutuskan untuk tak menghadiri perayaan itu. "Namun, ketika kami di Seoul, pertanyaan mengenai pertemuan komisi antarpemerintah dalam kerja sama perdagangan dan ekonomi yang belum digelar selama dua tahun, justru akhirnya tercapai," kata Galushka. Ia menambahkan bahwa perayaan Hari Kemenangan dan kerja sama perdagangan merupakan hal yang sama sekali berbeda.

Kesimpulannya, para pakar dan politisi sepakat bahwa ketidakhadiran Jong-Un tak akan berdampak pada hubungan Rusia dan Korea Utara, dan sepertinya akan menjadi hal kecil dalam sejarah hubungan Rusia-Korea Utara.

Penulis merupakan Editor Russia Focus, RBTH edisi bahasa Korea

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.