Moskow dan Beijing Harus Belajar Bicarakan Masalah

Kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke Rusia disorot oleh media dan menciptakan gelombang antusiasme baru terkait masa depan hubungan Rusia-Tiongkok. Namun, kunjungan Wang lebih bersifat teknis, untuk mempersiapkan kunjungan Xi Jinping ke Moskow dalam rangka turut memperingati 70 tahun kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II.

Kunjungan Kepala Komite Pusat CPC Tiongkok Li Zhanshu pada pertengahan Maret lalu malah tak terlalu ramai diperbincangkan, padahal ia adalah salah satu orang yang paling dipercaya oleh Xi.

Dari sudut pandang praktik kebijakan luar negeri Tiongkok, kunjungan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya, misi diplomatik belum pernah diberikan pada pejabat tinggi Staf Kepala Negara Tiongkok.

Kunjungan-kunjungan tersebut mengonfirmasi semakin eratnya ‘kerja sama strategis komprehensif’ antara dua negara. Namun, terlalu dini untuk bicara mengenai formasi sekutu Rusia-Tiongkok.

“Perjuangan demi dunia yang multipolar” dan perlawanan terhadap tekanan AS memiliki dimensi geografis yang berbeda untuk Moskow dan Beijing; Rusia hanya memiliki sedikit wilayah Asia-Pasifik, dan isu kembalinya AS ke Asia tak terlalu genting bagi Rusia, berbeda dengan Tiongkok. Sementara, Beijing tak terlalu tertarik menyelesaikan krisis Ukraina, berbeda dengan Rusia.

Moskow dan Beijing juga memiliki sedikit halangan untuk saling mendukung satu sama lain dalam konflik regional: pernyataan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Li Keqiang bahwa Tiongkok menghargai kedaulatan wilayah Ukraina dan meminta agar masalah Krimea diselesaikan melalui dialog bisa dianggap sebagai masalah kecil, dibanding pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev, yang menyebutkan bahwa Rusia tak mendukung pihak manapun dalam sengketa wilayah Tiongkok dan Jepang.

Di Asia Tengah, kebijakan Beijing menciptakan tantangan baru bagi proyek Uni Ekonomi Eurasia, karena pemberian pinjaman besar yang istimewa dan tak bersifat politis terhadap negara-negara Asia Tengah oleh Tiongkok akan menjadi alternatif dari sumber keuangan dari Rusia dan meningkatkan kebebasan bermanuver negara-negara tersebut, dan harga tawar-menawar untuk Moskow. Rusia dan Tiongkok juga memiliki visi yang berbeda untuk pengembangan Shanghai Cooperation Organisation (SCO)—bagi Rusia itu merupakan wadah politis, sementara bagi Tiongkok SCO adalah alat pengembangan multilateral.

Akhirnya, konsolidasi ketidakseimbangan perdagangan dalam hubungan ekonomi antara Rusia dan Tiongkok tak kondusif untuk tujuan diversifikasi ekonomi Rusia, dan pasti akan menjadi bahan pembicaraan dalam diskusi bilateral. Level kerja sama investasi juga belum cukup tinggi.

Selain itu, Beijing dan Moskow memiliki posisi yang berbeda bahkan dalam konteks hubungan dengan Washington. Hubungan Rusia dan Amerika mencapai level terendah dan hampir tak ada kemungkinan akan membaik. Sementara, Tiongkok menghargai kemitraannya dengan AS dan berupaya menghindari mencampur-adukan dialog Tiongkok-AS dan Tiongkok-Rusia.

Namun, secara paradoks, bukan berarti kemitraan strategis Rusia dan Tiongkok membuat kedua pihak merasa lelah. Pemberian sanksi terhadap Rusia oleh negara-negara Barat merupakan katalisator misi “beralih ke Timur” yang diusung Rusia, yang secara simbolis ditunjukan dengan mendekati Tiongkok.

Dinamika balik arah ini cukup mengesankan, setelah bernegosiasi lebih dari satu dekade, Tiongkok dan Rusia telah menyepakati perjanjian pasokan gas Rusia, meningkatkan jumlah psokan senjata model terbaru untuk Tiongkok, kedua pihak telah mendirikan institusi keuangan bersama untuk menstimulasi kerja sama investasi, dan hendak terus meningkatkan kerja sama ekonomi. Keputusan Rusia untuk bergabung dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang diusung oleh Tiongkok juga menujukan bahwa keputusan mengenai “beralih ke Timur” bukan diambil hanya karena situasi politik saat ini.

Semua masalah yang ada dalam hubungan Rusia dan Tiongkok dan risiko yang ditimbulkan berkaitan dengan fakta bahwa kedua pihak memilih untuk fokus ‘pada hal-hal positif’ dan tidak mendiskusikan apa yang tidak patut pada masa ini.

Kerja sama babak baru memungkinkan Rusia dan Tiongkok memulai kembali dialog antara dua kekuatan besar yang seimbang, yang memiliki kepentingan bersama, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membangun satu sama lain, dan saling memahami potensi interaksi dan hambatan yang ada secara objektif.

Mikhail Mamonov adalah Direktur Pengembangan di lembaga analisis Vneshnyaya Politika (Foreign Policy), penyandang gelar doktoral di bidang Ilmu Politik.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Suka membaca artikel opini? Baca lebih banyak artikel opini lainnya yang ditulis oleh para pakar Rusia. >>>

Artikel Terkait

Rusia-Tiongkok Berencana Sewakan Seratus Pesawat SSJ-100 untuk Asia Tenggara

Putin Bertemu Xi Jinping, Tanda Tangani 40 Dokumen Kesepakatan

Pertengahan Mei, Rusia dan Tiongkok Gelar Latihan Militer Bersama di Laut Mediterania

Rusia Jual S-400 ke Tiongkok: Tantangan untuk Geopolitik Asia?

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.