Efektifkah Langkah Pemerintah Rusia dalam Memerangi Narkoba?

Ilustrasi oleh Natalia Mikhaylenko
Pemberantasan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dianggap sebagai salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi di seluruh dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus eksekusi mati terpidana pengedar narkoba di Indonesia telah menjadi perhatian dunia. Sementara di Rusia, penegakan hukum terkait pemberantasan narkoba pun merupakan suatu isu yang cukup kompleks.

Saat ini, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dianggap sebagai salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi Rusia. Virus HIV terus menyebar ke seluruh Rusia, dan pemberantasannya malah seolah mengalami kemunduran. Selain itu, masalah penderita tuberculosis (TB) yang resistan terhadap obat juga memperumit keadaan di Rusia, paling tidak sejak 2007.

Berangkat dari sudut pandang medis, pemerintah telah menghabiskan dana dalam jumlah yang sangat besar untuk membeli obat antiretroviral bagi para pasien HIV. Namun, pemerintah mengabaikan langkah yang disarankan oleh WHO dalam pencegahan penyebaran HIV di kalangan pengguna narkoba jenis suntik, seperti dengan program pertukaran jarum atau terapi pengganti.

Kematian akibat overdosis juga merupakan masalah lain yang menggerogoti Rusia. Negara-negara lain telah menerapkan sistem pencegahan overdosis menggunakan Naloxone, penangkal opioid, yang didistribusikan ke kalangan pecandu narkoba. Para pekerja sosial pun mengadakan seminar untuk mengedukasi mereka mengenai cara penggunaan obat tersebut. Hal itu merupakan bagian dari program pengurangan dampak penggunaan obat-obatan terlarang. Sayangnya di Rusia, pemerintah tidak mendukung program serupa.

Pada Mei 2012, Presiden Putin menandatangani dekrit untuk ‘memperbaiki kebijakan kesehatan nasional’. Kebijakan tersebut berupa reformasi layanan rehabilitasi pecandu narkoba mulai 1 Januari 2016. Sejauh ini, program rehabilitasi yang dirancang oleh pemerintah Rusia dapat dikatakan masih bersifat sangat represif, membatasi praktik para tenaga medis, sehingga merugikan banyak pihak yang bekerja di bidang tersebut.

Dalam kasus pengguna narkoba jenis suntik, rehabilitasi pertama bukanlah tantangan utama. Justru, rehabilitasi berikutnya malah lebih sulit, terutama untuk menyembuhkan pasien dari segi psikologis dan sosial.

Perlu diingat bahwa penelitian ilmiah yang relevan yang dilakukan di 83 wilayah Rusia tidak mendukung opini Ivanov.

Kepala Badan Kontrol Narkoba Federal Jendral Ivanov menyebutkan, pengguna zat psikoaktif di Rusia mencapai delapan juta orang, termasuk 2,5 juta di antaranya menggunakan narkoba jenis suntik.

Dengan jumlah sebesar itu, tak heran banyak panti rehabilitasi swasta yang berkembang, seperti panti rehabilitasi ‘Kota Bebas Narkoba’ yang terkenal milik Evgeny Roizman dan ‘Transfigurasi Rusia’ milik Andrei Charushnikov. Namun, para pecandu narkoba justru menghadapi siksaan di lembaga rehabilitasi tersebut, bukannya perawatan untuk kesembuhan mereka. Pusat Rehabilitasi Transfigurasi Rusia beberapa waktu lalu bahkan dinyatakan bersalah karena telah membunuh pasien di Kemerovo.

Sementara, Badan Pengawas Narkoba Federal akan mendapat suntikan dana sebesar 200 miliar rubel untuk membangun sistem rehabilitasi nasional. Tapi, bagaimana polisi narkoba, yang sebenarnya bertugas menangkap pengedar narkoba, harus berperan sebagai tim medis dan psikolog sekaligus? Muncul ide untuk membangun ‘sistem rehabilitasi nasional’ bekerja sama dengan pusat rehabilitasi swasta yang sudah ada. Kota Bebas Narkoba milik Roizman tengah bernegosiasi untuk dapat masuk dalam daftar pusat rehabilitasi pecandu narkoba di bawah Badan Pengawas Narkoba Federal.

Negara-negara Eropa, di sisi lain, menuju ke arah yang berlawanan dengan Rusia. Mereka membatasi langkah-langkah penegakan hukum untuk meningkatkan upaya penyembuhan dan konseling sosial bagi para pecandu. Mungkinkah Rusia tak memiliki uang dalam jumlah besar untuk menanggulangi masalah sosial ini? Ya, memang Rusia terhitung lebih “miskin” dibanding negara-negara maju di Eropa. Namun, nyatanya Rusia masih bisa mengeluarkan dana miliaran dolar bagi pusat rehabilitasi yang berada di bawah Badan Pengawas Narkoba Federal.

Gagasan populer lain dalam ‘memerangi narkoba’ adalah penerapan tes narkoba. Gagasan tersebut beranggapan, tes narkoba terhadap para remaja dan anak muda dapat mengontrol penggunaan narkoba, sehingga masalah kecanduan narkoba dapat dihindari. Kepala Narkologis Kementerian Kesehatan Rusia Evgeny Bryun merupakan salah satu pendukung paling antusias mengenai ide ini.

Sayangnya, kondisi pasien hampir tak dipertimbangkan dalam hal ini. Apa yang akan didapatkan dari tes narkoba? Hal itu tak akan menyelesaikan masalah medis dan sosial di kalangan anak dan remaja, hanya akan memperburuk situasi. Hasil tes akan bersifat menghukum: pengguna narkoba akan dikeluarkan dari sekolah atau kampusnya, dicatat sebagai pecandu narkoba, dan lain-lain.

Langkah demikian hanya akan meningkatkan stigma sosial terhadap pengguna narkoba, yang seperti disebutkan oleh Roizman, diperlakukan seperti binatang, bukan manusia, di Rusia. Hak apa yang dimiliki binatang? Tidak ada. Mereka dicari untuk diisolasi. Ya, memang itu yang dilakukan oleh Roizman, yakni menciptakan sistem rehabilitasi semi-kriminal. Sayangnya, layanan rehabilitasi narkoba nasional juga belum bisa menyediakan alternatif yang lebih baik bagi masyarakat Rusia.

Alexander Delfinov adalah salah satu pendiri dan moderator Proyek Narkofobia.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Artikel Terkait

Dibanding ke Dokter, Orang Rusia Lebih Suka Pengobatan Alternatif

Badan Pengawas Obat Rusia: Tingkat Kematian Akibat Obat Terlarang di Rusia 20 Kali Lipat Lebih Tinggi Dibanding Jepang

Undang-undang Baru Perbolehkan Ahli Bedah Rusia Lakukan Transplantasi Wajah

Tes DNA Kian Populer di Rusia

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.