Menlu Rusia: Rusia Berusaha Wujudkan Perdamaian, AS Rusak Sistem Keamanan Eropa

Konferensi Keamanan Munich merupakan konferensi tahunan kebijakan keamanan internasional yang telah berlangsung sejak 1963. Foto: Kemlu Rusia

Konferensi Keamanan Munich merupakan konferensi tahunan kebijakan keamanan internasional yang telah berlangsung sejak 1963. Foto: Kemlu Rusia

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, sistem keamanan Eropa sudah lama dirusak oleh tindakan AS. Sementara, Rusia bergerak untuk mewujudkan persatuan rakyat Ukraina berdasarkan dialog nasional.

Berikut, RBTH telah memilih lima kutipan paling penting yang disampaikan Lavrov di Munich yang kembali menegaskan posisi Rusia terkait krisis di Ukraina, serta pandangan Rusia mengenai mitra-mitra politiknya di Barat.

Konferensi Keamanan Munich merupakan konferensi tahunan kebijakan keamanan internasional yang telah berlangsung sejak 1963. Selama empat dekade terakhir, konferensi ini telah menjadi forum independen yang paling penting untuk pertukaran pandangan bagi para pembuat kebijakan keamanan internasional.

1. Klaim AS atas dominasi dunia

“Kami menilai, tindakan dari para mitra Barat kami selama seperempat abad terakhir dalam menjaga dominasinya di dunia dengan cara apapun dan juga dalam menggenggam ruang geopolitik di Eropa tengah mencapai kulminasi (titik tertinggi).”

2. Campur tangan AS

“Kerangka sistem keamanan Eropa sudah lama dirusak oleh tindakan AS dan sekutunya. AS hanya mengambil langkah-langkah yang semata-mata hanya menimbulkan eskalasi lanjutan dalam setiap tahapan krisis di Ukraina. Di setiap situasi sulit yang terjadi, mitra asal AS berusaha untuk melemparkan kesalahan kepada Rusia.”

3. Standar ganda

“Kami tidak mengerti, mengapa Barat mendesak pemerintahan Afganistan, Yaman, dan Mali untuk membuat kesepakatan dengan kelompok oposisi—bahkan dengan para kaum ekstremis dalam beberapa kasus—sedangkan dalam krisis Ukraina, mereka malah bertindak sebaliknya, membantu operasi militer Kiev (pemerintah baru Ukraina), sampai-sampai membenarkan atau berusaha membenarkan penggunaan senjata bom tandan.”

Konvensi Munisi Tandan

Konvensi Munisi Tandan adalah traktat internasional yang melarang penggunaan bom tandan (bom curah), jenis senjata yang menyebar banyak subminisi.

Konvensi ini diadakan pada tanggal 30 Mei 2008 di Dublin, Irlandia, dan telah ditandatangani di Oslo pada 3 Desember 2008.

Konvensi ini diikuti lebih dari 100 negara, tidak termasuk AS, Rusia, Ukraina, RRT, India, Pakistan, Israel, dan Brasil. Indonesia mengikuti konvensi munisi tandan, tapi belum meratifikasinya.

4. Sistem pertahanan udara terintegrasi di Eropa

“Proyek pembangunan Common European Home (konsep dari Michael Gorbachev) tidak berjalan, terutama karena para rekan di Barat dikuasai bukan oleh keinginan untuk membangun arsitektur keamanan terbuka dan menghormati kepentingan satu sama lain, melainkan dibutakan oleh ilusi dan keyakinan menjadi pemenang dalam ‘Perang Dingin’.”

5. Situasi di Donbass

“Saya tidak yakin krisis Ukraina dapat diselesaikan dengan menggunakan kekuatan militer. Hal tersebut dibuktikan pada musim panas tahun lalu, ketika situasi di medan perang telah memaksa terwujudnya penandatanganan perjanjian Minsk. Hal tersebut juga terbukti saat ini, ketika sederetan usaha untuk mempertahankan kemenangan dalam perang mulai "tercekik" dan terdesak.

Rusia akan dan selalu berusaha mewujudkan perdamaian. Kami secara konsisten menyerukan gencatan senjata, penarikan senjata-senjata berat, memulai diskusi langsung antara Kiev dengan Donetsk dan Lugansk mengenai langkah konkret dalam memulihkan sektor ekonomi, sosial, dan politik bersama dalam satu wilayah Ukraina yang utuh.

Kami ingin masyarakat Ukraina dapat mengembalikan persatuannya. Namun, itu perlu dilakukan atas dasar dialog nasional yang nyata.”

Barat Harus “Terima Kenyataan”

Pidato Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Munich disampaikan dengan nada yang keras, ungkap para pengamat ahli yang diwawancarai RBTH. Namun, para pengamat ahli menilai pada prinsipnya tidak ada hal baru yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia tersebut di Munich. Rusia hanya menegaskan konsistensi kebijakan luar negerinya.

“Penampilan Lavrov cukup sistematis. Rusia bertindak secara konsisten,” ujar Dirut Agen Komunikasi Politik dan Ekonomi Dmitry Orlov. Rusia sejak awal telah menyerukan, usaha Barat mengisolasi Rusia atau mengecilkan peran Rusia dalam pemecahan masalah-masalah internasional adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.

Dmitry Danilov, seorang pengamat ahli yang juga sekaligus kepala departemen keamanan Eropa di Institut Eropa, berpendapat pidato Lavrov di Konferensi Keamanan Munich telah memberikan sebuah batasan bagi para mitra Barat. Rusia tidak berniat mengubah sikapnya terkait Ukraina, dan Barat perlu “menerima kenyataan” tersebut. Danilov berpendapat, Lavrov memberikan mitra Barat Rusia petunjuk yang apik mengenai cara menjaga muka dan berinteraksi dengan Kiev, terutama dengan Rusia.

"Barat perlu menunjukkan tanggung jawab lebih terhadap pemerintah Kiev dan memulai negosiasi serius dengan pihak oposisi di Ukraina, tidak ada jalan lain bagi mereka. Apakah Eropa dan Washington mendengar hal tersebut? Sepertinya, kita perlu bersiap menghadapi konfrontasi keras dan alot," ujar Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Politik Dunia dari Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia Andrey Suzdaltsev.

Suzdaltsev juga mengatakan, masih terlalu dini bagi Eropa untuk mulai bertindak tanpa koordinasi dan persetujuan dari AS, yang tidak ingin melunakkan sikapnya terhadap Rusia.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry bertemu di sela-sela Konferensi Keamanan Munich pada Sabtu (7/2). Keduanya diperkirakan membahas usulan Prancis dan Jerman mengenai cara baru penyelesaian konflik di timur Ukraina.

Sehari sebelumnya, Jumat (6/2) Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis François Hollande tiba di Moskow untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai situasi di Ukraina. Sebelum tiba di Moskow, Merkel dan Hollande telah lebih dulu berkunjung ke Kiev, bertemu dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko selama sekitar lima jam.

Ingin tahu asal-usul konflik di Ukraina? Baca lebih lanjut. >>>

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.