Sindir Ketergantungan Kiev Terhadap Barat, Putin: Ada Pasukan NATO di Ukraina!

Kapan AS bersedia bekerja sama dengan menjunjung rasa hormat terhadap Rusia? Foto: Mikhail Klimentiev/TASS

Kapan AS bersedia bekerja sama dengan menjunjung rasa hormat terhadap Rusia? Foto: Mikhail Klimentiev/TASS

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pasukan sukarelawan Ukraina yang terlibat dalam pertempuran militer di Donbass sebagai ‘pasukan NATO’, yang memiliki misi berbeda dengan kepentingan nasional Ukraina.

“Pasukan bersenjata yang terlibat dalam pertempuran di Donbass bukan lagi pasukan sukarelawan Ukraina, melainkan tentara asing, tepatnya pasukan NATO. Tentu mereka tidak memperjuangkan kepentingan nasional Ukraina,” kata Putin, Senin (26/1).

Menurut Putin, NATO memiliki tujuan yang jelas-jelas berbeda dengan Ukraina. “Mereka hendak mengganggu stabilitas geopolitik Rusia,” kata Putin.

Sementara, pada hari yang sama Sekretaris Jendral NATO Jens Stoltenberg langsung menyangkal tuduhan Putin. “Itu adalah tuduhan yang tak masuk akal dan tak berdasar,” kata Stoltenberg di markas utama NATO di Brussel.

Ketergantungan Kiev pada Barat

Beberapa ahli dari Rusia berpendapat Putin sengaja melontarkan pernyataan tersebut untuk mengkritik ketergantungan Kiev terhadap Barat.

“Tentu saja angkatan bersenjata Ukraina secara resmi bukan bagian dari NATO, tapi Putin merasa secara de facto memang demikian. Rezim di Ukraina saat ini tidak bertindak berdasarkan inisiatif mereka sendiri,” kata Wakil Presiden Institute for National Strategy Victor Militaryov pada RBTH.

Militaryov menilai, secara tak langsung Putin hendak mengatakan bahwa NATO, terutama AS, sedang memanfaatkan rezim Kiev dan angkatan bersenjata Ukraina untuk melakukan provokasi geopolitik terhadap Rusia.

Sementara, Wakil Kepala Dewan Strategi Nasional Rusia Iosif Diskin menyebutkan, pernyataan itu bisa jadi bertujuan menyindir AS karena mencoba memperkeruh hubungan Rusia dengan Eropa menggunakan kekuatan angkatan bersenjata Ukraina dan batalion sukarela yang bertempur di sana.

 Pemimpin redaksi media oposisi The Daily Journal Alexander Golts memiliki pandangan yang berbeda terkait pernyataan Putin. Menurut Golts, melalui seruan tersebut Putin secara tak sadar telah mengakui bahwa Rusia merupakan ‘bagian dari konflik’ di Ukraina.

“Aksi militer itu terjadi di wilayah Ukraina, bukan di wilayah Rusia. Jika presiden Rusia berpendapat aksi militer tersebut bertujuan mengganggu stabilitas Rusia, lalu siapa yang menjadi lawan anggota batalion sukarela di Ukraina?” kata Golts.

Sinyal untuk Barat

Analis politik beranggapan pernyataan terbaru Putin tersebut terasa lebih keras dari sebelumnya. Menurut Militaryov, Putin hendak menunjukan sikap sedingin mungkin terhadap situasi saat ini. Dengan menyindir ketergantungan Kiev terhadap Barat, Putin hendak mengajak Washington untuk melakukan negosiasi secara langsung terkait krisis Ukraina.

“Tawaran negosiasi langsung dengan AS telah diajukan beberapa kali, namun semuanya ditolak,” kata Militaryov.

Diskin juga memiliki pandangan serupa. Namun menurut Diskin, ajakan tersebut lebih diarahkan pada Uni Eropa, bukan AS. “Ini adalah sinyal untuk Uni Eropa untuk mendiskusikan kebijakan serta kepentingan Uni Eropa dengan Rusia, berdasarkan solidaritas Atlantik yang sudah terbangun sejak lama,” kata Diskin.

Sementara, Golts berpendapat dengan menyatakan hal tersebut Putin hendak menunjukan kejengkelannya karena konflik Ukraina tidak diselesaikan dengan format Normandy, untuk memastikan bahwa Ukraina tak akan bergabung dengan NATO.

Selanjutnya baca wawancara dengan Menlu Rusia: Kapan AS Bersedia Bekerja Sama dengan Menjunjung Rasa Hormat Terhadap Rusia? >>>

Artikel Terkait

Mengapa Barat Tak Peduli pada Penduduk Donbass?

Pasang Surut Popularitas Vladimir Putin

Perang Ukraina, Tak Ada Waktu untuk Memperdebatkan Benar-Salah

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.