Pakar: Eksekusi Mati “Mata-mata Rusia” Kemungkinan Palsu

Para pakar yang diwawancarai oleh Kommersant menyebut ada kemungkinan video tersebut palsu.

Para pakar yang diwawancarai oleh Kommersant menyebut ada kemungkinan video tersebut palsu.

ISIS kembali menyebarkan sebuah video proses eksekusi terhadap dua laki-laki yang disebut sebagai agen FSB. Dalam video tersebut dikatakan kedua laki-laki itu datang ke Suriah untuk menjalankan misi mata-mata. Menurut para pakar, ada kemungkinan rekaman tersebut merupakan rekaman palsu yang dibuat untuk tujuan propaganda.

Pada Selasa (13/1) ranah dunia maya kembali dihebohkan oleh video eksekusi yang diunggah oleh akun Al-Hayat milik organisasi teroris ISIS. Rekaman berdurasi tujuh menit tersebut menampilkan proses eksekusi dua laki-laki yang berbicara menggunakan berbahasa Rusia.

Saat proses interogasi yang ditunjukan pada awal rekaman, kedua orang itu mengaku sebagai anggota FSB Rusia. Mereka mengatakan mereka ditugaskan menyamar dan menyusup ke dalam barisan ekstremis Islam di Suriah untuk mengumpulkan bukti-bukti mengenai anggota ISIS yang berbahasa Rusia. Kedua pria yang diinterogasi tersebut kemudian menyebutkan identitas dirinya sebagai Zhanbolat Yasendzhanovich Mamayev, pria asal Kazakhstan kelahiran 1976, dan Sergey Nikolayevich Ashimov, kelahiran 1984.

Saat dimintai keterangan, Badan Intelejen Rusia (FSB) menolak mengomentari video tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia pun tak bersedia mengklarifikasi kebenaran proses eksekusi itu.

Sementara, para pakar yang diwawancarai oleh Kommersant menyebut ada kemungkinan video tersebut palsu. Staf penyidik kasus pidana dan kriminolog Rusia yang telah menonton rekaman itu menyebutkan terdapat sejumlah kejanggalan di dalam video tersebut. Pertama, kedua korban yang merupakan penganut Islam tersebut tidak berdoa sesaat sebelum kematiannya. Kedua, setelah penembakan, salah satu korban eksekusi tidak jatuh ke depan, melainkan ke samping, seolah-olah mengikuti instruksi. Selain itu, kekuatan peluru kaliber 9 mm pistol Glock yang digunakan untuk eksekusi sangatlah besar. Jarak penembak dari “agen FSB” diperkirakan tidak lebih dari satu meter, sehingga seharusnya peluru tersebut menembus tubuh korban dan mengakibatkan pendarahan berat, namun hal itu tidak terjadi. Malah, tak ada luka yang tampak di kepala korban.

Hal ganjil juga terasa karena mereka tak berusaha meyakinkan penonton mengenai kebenaran proses eksekusi tersebut, dengan mengambil gambar sang korban dari sudut-sudut berbeda serta menunjukkan luka yang dialami oleh korban. Kemungkinan, tembakan dilakukan dengan pistol berpeluru kosong. Anehnya lagi, saat para remaja itu melakukan tembakan kontrol, pemegang kamera berada satu garis dengan arah tembakan, sehingga bisa saja ia juga terkena peluru.

“Ini mungkin video palsu yang dibuat semata untuk tujuan propaganda,” terang pakar bidang terorisme asal Swedia Magnus Ranstorp kepada Kommersant. Menurut Ranstorp, jika benar video tersebut hanya video palsu, maka rekaman itu kemungkinan memiliki dua tujuan, yakni meneror Badan Intelejen Rusia dan mereka yang bekerja sama dengan badan tersebut, serta memamerkan kemampuan para teroris muda yang disebut sebagai “anak singa Khilafah”.

Bekas Petugas Kebersihan

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Kommersant, kedua pria yang ditampilkan dalam video tersebut memang menyebutkan nama asli mereka.

Berdasarkan bukti-bukti di jejaring sosial dan informasi yang diberikan oleh orang-orang yang mengenal Sergey Ashimov, didapat informasi sebagai berikut: Ashimov lahir pada 30 Maret 1984 di kota Karaganda, Kazakhstan. Ia merupakan yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan dan pondok pesantren. Ashimov kemudian dilatih untuk menjadi montir dan pengemudi. Pada akhir era 2000-an, ia pindah ke kota Kazan dan mendapatkan kewarganegaraan Rusia. Awalnya, ia ingin masuk ke Universitas Negeri Moskow, namun ia kemudian berpikir untuk menjalankan karir sebagai aktor atau masuk ke sekolah tinggi FSB. Sehari-hari, ia bekerja sebagai petugas kebersihan. Namun, setelah satu tahun ia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mendaftarkan diri sebagai wirausaha. Ia lalu mulai berdagang parfum. Setelah satu tahun, tokonya tutup dan ia bekerja sebagai supir. Menurut kerabatnya, Sergey Ashimov tak hanya sekali terbelit utang.

Ashimov menyebut dirinya sebagai “orang Rusia beragama Islam” dan meminta orang memanggilnya Abdullah. Pada 2010, menjalankan ibadah umrah ke Mekkah dan pada 2011 ia menjalankan ibadah haji. Orang-orang yang mengenalnya Ashimov menyebutkan ia termasuk pemeluk Islam yang moderat.

Liliya, istri Ashimov, menolak menjawab pertanyaan Kommersant. Sementara, salah seorang teman Ashimov menyatakan Ashimov menghilang sekitar satu tahun lalu dan selama ini istrinya bahkan tidak mengetahui keberadaan Ashimov.

Sementara, Zhanbolat Mamayev tinggal di kota Merke, Kazahstan, sebelum keberangkatannya ke Suriah. Lelaki yang menyebut dirinya sebagai Saifullah di jejaring sosial tersebut mengenyam pendidikan di sekolah N48, di kota Oytal. Ia memiliki dua atau tiga orang anak dan istrinya bernama Aminah. Namun, Kommersant tak berhasil memastikan identitas pekerjaan Zhanbolat Mamayev. Badan Intelejen Kazakhstan juga menolak mengomentari video tersebut.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

Baca lebih banyak mengenai ancaman ISIS di dunia. >>>

Artikel Terkait

Rusia Tetapkan ISIS dan Jabhat al-Nusra Sebagai Organisasi Teroris

Bersiap Menangkal Serangan ISIS, Rusia Aktif Dukung Islam Moderat

Moskow dan Washington Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Lawan ISIS

Dampak Laten ISIS, Ancaman yang Lebih Serius Bagi Rusia

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.